
MALANG, satukanindonesia.com – Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Republik Indonesia, Rosan Roeslani mengatakan, kontribusi investasi sektor hilirisasi terus meningkat dalam dua tahun terakhir.
Kini, kontribusi investasi hilirisasi mencapai 35 persen dari total investasi yang masuk ke Indonesia, naik dari sebelumnya 25 persen.
Rosan mengatakan, realisasi investasi pada semester I-2026 mencapai Rp 1.010,6 triliun atau tumbuh 7,2 persen. Investasi tersebut menyerap lebih dari 1,4 juta tenaga kerja.
“Dari total investasi yang masuk, angka hilirisasi meningkat. Dalam dua tahun terakhir, yang tadinya kontribusi hilirisasi 25 persen sudah mencapai 35 persen dari total investasi yang masuk,”kata Rosan dalam keterangan yang dikutip, Jumat (09/10/2026).
Menurut Rosan, lebih dari 75 persen investasi terealisasi di luar Jawa. Salah satu daerah yang mengalami perubahan signifikan akibat hilirisasi adalah Maluku Utara.
Katanya, industri pengolahan kini menyumbang hampir separuh produk domestik regional bruto (PDRB) Maluku Utara.
“Provinsi ini tidak lagi sekadar daerah tambang, tapi telah menjadi daerah industri,”ujarnya.
Surplus perdagangan Maluku Utara juga meningkat hingga Rp 31,1 triliun pada 2025. Ekspornya didominasi produk olahan nikel, seperti feronikel, nickel matte, mixed hydroxide precipitate (MHP), nikel sulfat, dan kobalt.
“Tentunya pada kesempatan ini ada 10 proyek strategis di kawasan IWIP (Indonesia Weda Bay Industrial Park) menjadi bagian dari rangkaian investasi tersebut, di mana total investasi mencapai 10,2 miliar dolar AS atau kurang lebih Rp 180 triliun,”ungkap Rosan.
“Dari 10 itu, empat proyek sudah selesai, dan baru selesai, dan akan melakukan seremoni komersial dan juga ekspor senilai 3,4 miliar dolar AS yang sudah selesai dari empat proyek itu, atau kurang lebih Rp 60 triliun,”sambung CEO Danantara itu.
Sementara itu, enam proyek lainnya dengan nilai investasi 6,8 miliar dolar AS akan memulai pembangunan. Proyek tersebut mencakup material komponen baterai, aluminium, hingga truk listrik untuk kebutuhan pertambangan.
“Dari 10 proyek akan tercipta lebih dari 10 ribu lapangan pekerjaan,”ujar Rosan.
Ia menyebut, proyek-proyek tersebut mencakup ekosistem baterai berbasis nikel, produksi baterai, aluminium elektrolitik, alat berat berbasis listrik, material baterai berbasis nikel, separator baterai EV, elektrolit baterai EV, hingga photovoltaic glass untuk industri energi surya.
“Investornya ini datang berbagai macam negara, mereka punya 52 tenant di sini, ada termasuk Glencore, Trafigura, ada dari Australia, India, dan dari berbagai negara, mereka masuk berinvestasi di kawasan industri ini,”sebut Rosan.
IWIP, kata Rosan, sejak 2018 telah menyerap investasi sebesar 20 miliar dolar AS. Dengan tambahan investasi 7 miliar dolar AS yang akan masuk, total investasi di IWIP diproyeksikan mencapai 27 miliar dolar AS.
Penyerapan tenaga kerja, di kawasan tersebut juga telah mencapai sekitar 117 ribu orang.
“Selama ini, ekspor yang terjadi di kawasan ini 11 miliar dolar AS. Kalau digabungkan dengan kawasan IMIP (Indonesia Morowali Industrial Park) yang pertama dibangun oleh Tsingshan, total ekspornya mencapai 28 miliar dolar AS atau 10 persen dari total ekspor Indonesia,”pungkas Rosan. [***/GRW]













