
MALANG, satukanindonesia.com – Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatra dan Kalimantan tak hanya membakar ribuan hektare lahan dan menelan korban jiwa, tetapi juga mulai menyeret kedaulatan serta harga diri bangsa di level Internasional.
Merespons polemik kabut asap lintas batas yang makin memanas, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Alex Indra Lukman mendesak, Presiden RI Prabowo Subianto untuk mengambil langkah tegas.
Ia meminta, Kepala Negara secara terbuka mengumumkan data seluruh perusahaan penerima konsesi lahan yang terindikasi menjadi biang kerok munculnya titik panas (hotspot).
Langkah ini didorong oleh aksi sejumlah organisasi nonpemerintah (Ornop) peduli lingkungan, seperti Walhi, Greenpeace, dan Pantau Gambut, yang sudah lebih dulu membeberkan hasil riset dan data investigasi lapangan mereka ke publik.
“Walhi dan Greenpeace Indonesia telah mengungkap data, ada 52 perusahaan yang terafiliasi dengan modal asal Malaysia dan Singapura terkait Karhutla di Indonesia. Jangan biarkan data ini jadi bola panas di ruang publik, tanpa klarifikasi dan tindakan yang jelas dari pemerintah,”tegas Alex dalam keterangan resminya yang dikutip, Sabtu (17/10/2026).
Katanya, Istana tidak boleh tinggal diam atau terkesan menutupi korporasi nakal. Apalagi, situasi di lapangan sudah sangat memprihatinkan karena warganet di negara tetangga mulai melayangkan sindiran pedas.
“Terlebih, jiran kita sudah mengolok-olok dengan ‘meme jerebu’ terkait kasus karhutla kita ini. Mungkin, karena sudah kesal dengan kabut asap yang ikut mereka rasakan imbasnya,”ujar legislator asal Dapil Sumatera Barat tersebut.
Desakan keras Alex Indra Lukman kepada Presiden Prabowo, bukan tanpa alasan mendasar. Dampak karhutla tahun ini telah menjelma menjadi tragedi kemanusiaan, yang teramat memilukan.
Alex menyoroti, insiden gugurnya empat orang petugas dan pekerja saat berjuang memadamkan kobaran api di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) pada Kamis (15/10/2026).

“Karhutla sudah tak lagi merusak kesehatan, tapi juga telah memaksa seorang orang tua kehilangan anaknya. Seorang anak kehilangan ayah. Bahkan, tanaman dan satwa langka juga musnah. Mau sampai kapan kita seperti ini,”aku Alex getir.
Data yang dihimpun Komisi IV DPR mencatat sebanyak 324 orang mengalami luka berat dan 23 orang luka ringan akibat karhutla, di mana korban terbanyak berada di Provinsi Kalimantan Tengah.
Tak hanya itu, data kumulatif Kementerian Kesehatan per 13 Oktober 2026 mencatat angka mengerikan yakni 283.270 kasus ISPA meledak di 63 kabupaten dan kota dari 7 provinsi terdampak. Tragisnya, sebanyak 63.711 kasus (sekitar 22,5 persen) menghantam paru-paru anak-anak balita.
Jarak pandang yang memburuk juga melumpuhkan penerbangan domestik, memaksa penutupan sekolah di berbagai daerah hingga wilayah tetangga, serta merusak puluhan ribu hektare ekosistem hutan.
“Kami mendesak Presiden, jangan tunggu korban terus berjatuhan. Kalau negara ini tak memiliki peralatan, tentu akan banyak bangsa yang bersedia turut membantu seperti yang dilakukan Jepang beberapa waktu lalu,”kata Alex. [ONE/GRW]













