
Oleh : Immanuel Yosua T
Jelang tengah malam, seorang ibu masih berdiri di depan pintu kamar anaknya.
Pelan-pelan ia mengetuk. “Besok sekolah,” katanya lirih.
Tidak ada jawaban.
Dari celah bawah pintu, cahaya layar ponsel itu masih menyala. Kadang redup. Kadang terang lagi. Suara notifikasi sesekali terdengar memecah sunyi rumah yang mulai tertidur.
Di dapur, segelas teh hangat yang tadi dibuat ibu itu mungkin sudah mulai dingin.
Barangkali karena pemandangan-pemandangan sederhana seperti itulah Hari Kebangkitan Nasional 2026 mengangkat tema: “Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara.”
Tema itu terdengar sederhana. Tetapi ia menyimpan kegelisahan yang sangat besar tentang masa depan bangsa ini.
Entahlah. Kadang kita merasa banyak rumah hari ini tetap terang sampai larut malam, tetapi percakapannya justru semakin redup.
Anak-anak kita tumbuh di zaman yang tidak pernah benar-benar sepi. Sejak bangun tidur sampai memejamkan mata, ada terlalu banyak suara masuk ke kepala mereka. Video pendek. Pesan berantai. Keributan media sosial. Kemarahan orang-orang yang bahkan tidak mereka kenal.
Pagi harinya mereka tetap berangkat sekolah seperti biasa. Mengenakan seragam. Membawa tas. Duduk di bangku kelas. Tetapi beberapa dari mereka datang dengan mata lelah.
Seorang guru mungkin sedang berdiri di depan kelas pagi ini, menjelaskan pelajaran sambil diam-diam menyadari perhatian murid-muridnya mudah pecah oleh getaran kecil dari dalam saku. Bukan karena anak-anak itu malas. Mungkin mereka hanya tumbuh di zaman yang terlalu ramai.
Kadang kita khawatir, jangan-jangan yang paling hilang dari rumah-rumah kita hari ini bukan waktu, melainkan perhatian.
Kita hidup di era ketika manusia bisa berbicara dengan banyak orang dalam satu hari, tetapi semakin sulit benar-benar mendengarkan satu sama lain.
Orang lebih cepat membagikan kemarahan daripada kabar baik. Lebih mudah percaya pesan dari layar ponsel daripada wajah tetangganya sendiri. Sebuah potongan video pendek kadang cukup membuat orang saling membenci tanpa pernah duduk bersama untuk memahami. Padahal, bangsa ini dulu lahir dari orang-orang muda yang memilih duduk bersama di tengah perbedaan.
Tanggal 20 Mei selalu membawa Indonesia kembali pada tahun 1908. Saat itu, beberapa anak muda di sekolah kedokteran STOVIA di Batavia mulai gelisah melihat bangsanya tertinggal.
Pendidikan sulit dijangkau rakyat kecil. Banyak pribumi hidup dengan rasa rendah diri di tanahnya sendiri.
Tetapi sejarah sering lahir dari kegelisahan anak muda.
Barangkali mereka tidak pernah membayangkan bahwa percakapan-percakapan sederhana di ruang sekolah itu kelak dikenang sebagai awal kebangkitan bangsa. Dari kegelisahan itu lahirlah Boedi Oetomo.
Mereka percaya pendidikan bisa membangunkan martabat manusia.
Dua puluh tahun kemudian, semangat itu tumbuh semakin besar dalam Sumpah Pemuda.
Anak-anak muda dari berbagai daerah berkumpul dengan bahasa dan latar yang berbeda.
Mereka mungkin tidak punya kemewahan. Tidak punya teknologi. Tetapi mereka punya sesuatu yang hari ini terasa semakin mahal: kesediaan untuk mendengar satu sama lain. Lalu mereka mengucapkan ikrar yang menjaga Indonesia sampai hari ini:
Satu tanah air.
Satu bangsa.
Satu bahasa.
Indonesia.
Kalimat itu lahir bukan di zaman nyaman. Ia lahir ketika bangsa ini sedang terluka. Tetapi justru karena pernah terluka, mereka mengerti pentingnya persaudaraan.
Hari ini, luka itu datang dalam bentuk yang berbeda.
Ia tidak lagi membawa senjata. Ia masuk diam-diam lewat layar kecil di tangan manusia. Perlahan membuat orang mudah marah, mudah curiga, dan mudah merasa paling benar sendiri.
Dan yang paling rentan menghadapi dunia seperti ini adalah anak-anak muda.
Disadari atau tidak, mereka adalah tunas bangsa yang sedang tumbuh di tengah dunia yang terlalu bising.
Diakui atau tidak, masa depan bangsa sesungguhnya tidak pertama-tama runtuh di medan perang, melainkan ketika anak-anak mudanya kehilangan arah, kehilangan perhatian, dan kehilangan alasan untuk tetap mencintai sesamanya.
Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia mulai berbicara tentang perlindungan anak di ruang digital. Tetapi sesungguhnya menjaga tunas bangsa tidak pernah cukup hanya dengan aturan.
Ia dimulai dari hal-hal kecil yang mulai jarang kita rawat.
Dari orang tua yang benar-benar mendengar cerita anaknya tanpa sibuk melihat layar sendiri. Dari guru yang tidak hanya mengajar pelajaran, tetapi juga menjaga harapan murid-muridnya. Dari anak muda yang memilih memakai media sosial untuk belajar, berkarya, dan merawat persaudaraan.
Kadang kita membayangkan, mungkin para pemuda tahun 1928 tidak pernah menyangka bahwa suatu hari nanti manusia bisa saling terhubung begitu mudah, tetapi justru semakin sulit saling memahami.
Dan mungkin, itulah makna kebangkitan nasional yang paling relevan hari ini.
Bahwa Indonesia tidak cukup dibangun hanya dengan teknologi yang canggih atau ekonomi yang besar. Indonesia juga membutuhkan manusia-manusia yang tidak kehilangan empati.
Sebab bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang maju kotanya, tetapi bangsa yang anak-anak mudanya masih mampu menghargai sesama manusia.
Setelah semua upacara selesai hari ini, mungkin pertanyaan sesungguhnya justru baru dimulai: apakah kita benar-benar sedang menjaga tunas bangsa, atau perlahan membiarkan mereka tumbuh sendirian di tengah dunia yang terlalu gaduh?
Sebab tantangan terbesar Indonesia hari ini mungkin bukan sekadar soal teknologi, ekonomi, atau persaingan global. Tantangan terbesarnya adalah apakah bangsa ini masih mampu menjaga anak-anak mudanya tetap memiliki hati, empati, dan rasa persaudaraan di tengah zaman yang semakin sibuk dengan dirinya sendiri.
Malam ini mungkin masih ada seorang ibu yang mengetuk pintu kamar anaknya pelan-pelan.
Dan mungkin, dari hal sesederhana itulah masa depan Indonesia sedang dipertahankan.
Selamat memperingati Hari Kebangkitan Nasional Ke-103. Selamat mengawal generasi masa depan bangsa.”
Penulis adalah pemerhati sosial dan alumni Taplai Lemhannas RI.










