
Jakarta, satukanindonesia.com – Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Hafid, meninjau perkembangan PT Telekomunikasi Indonesia International (Telin), anak usaha Telkom, di Amerika Serikat (AS) sekaligus membahas penguatan konektivitas dan infrastruktur digital Indonesia di tingkat global, dilansir dari infopublik, Minggu (20/9/2026).
Kehadiran Telin di Amerika Serikat menjadi bagian dari upaya memperluas kapabilitas digital Indonesia ke pasar global sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam ekosistem digital internasional.
Group CEO Telin, Abdul Rahman Ansyory, menjelaskan, Telin terus mengembangkan bisnis dan portofolio teknologi untuk memperkuat perannya sebagai perusahaan konektivitas global. Sejak 2019 hingga 2025, pendapatan Telin disebut telah tumbuh sekitar 1,6 kali, sementara pendapatan bersih meningkat hingga sekitar lima kali dibandingkan 2019.
Menurut Abdul Rahman, Telin saat ini telah menjalin kemitraan dengan sejumlah perusahaan teknologi global, di antaranya Meta, Google, Microsoft, Amazon, Akamai, serta berbagai mitra lainnya. Kemitraan tersebut mencakup kebutuhan konektivitas di Amerika Serikat maupun Indonesia dan kawasan lainnya.
Ia mengatakan, perkembangan bisnis Telin ke depan tidak lagi hanya berfokus pada pembangunan kapasitas kabel atau konektivitas secara terbatas, tetapi diarahkan pada pengembangan koridor konektivitas yang lebih luas. “Sekarang ini tidak ngomong lagi link per link, tapi koridor per koridor,” ujar Abdul Rahman saat menerima Menkomdigi di Kantor Telin AS. Los Angeles, Minggu (20/9/2026).
Lebih lanjut, Abdul Rahman menambahkan, sekitar 92 persen bisnis Telin berasal dari luar Telkomsel, dengan sekitar 75 persen di antaranya merupakan bisnis global. Kondisi tersebut menunjukkan semakin besarnya kontribusi bisnis internasional terhadap pertumbuhan Telin.
Ke depan, Telin juga menargetkan peningkatan kontribusi bisnis global terhadap pendapatan Telkom. Saat ini sekitar 70 persen pendapatan Telkom masih berasal dari Telkomsel, sementara perusahaan menargetkan komposisi pendapatan yang lebih besar dari bisnis global pada 2030.
Menkomdigi, Meutya Hafid, mengatakan, penguatan konektivitas digital perlu terus didorong melalui kolaborasi dengan berbagai mitra, baik perusahaan maupun negara. Masukan dari para mitra tersebut menjadi bahan pemerintah dalam mengidentifikasi langkah yang diperlukan untuk mempercepat adopsi teknologi digital.
Menurut Menkomdigi Meutya Hafid, percepatan tersebut tetap harus disertai dengan pengamanan kepentingan nasional, termasuk aspek kedaulatan dan kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku di Indonesia. “Banyak sekali masukan yang kemudian kita juga melihat apa yang bisa kita lakukan untuk mempercepat, untuk mengadopsi, selama safeguarding-nya tetap terjaga,” ujar Meutya.
Ia menegaskan, pengembangan infrastruktur digital di Indonesia perlu berjalan seiring dengan penguatan tata kelola. Pemerintah juga terus mengidentifikasi kebutuhan regulasi maupun deregulasi yang dapat mendukung perkembangan ekosistem digital nasional.
Dalam kesempatan tersebut, Meutya turut menyinggung target pengembangan kapasitas pusat data nasional. Pemerintah sebelumnya telah mengidentifikasi kebutuhan kapasitas data center sebagai bagian dari penguatan infrastruktur digital Indonesia. “Termasuk target dua gigawatt (GW) untuk data center,” kata Menkomdigi Meutya Hafid.
Kunjungan kerja Menkomdigi tersebut turut didampingi Direktur Jenderal Ekosistem Digital Kemkomdigi Edwin Hidayat Abdullah dan rombongan diterima CEO Telin USA Bayu Hartoko.(***)













