
Toba, SatukanIndonesia.Com -Menurut para Nelayan tangkap di sekitar pinggiran Danau Toba, tepat-nya di Kabupaten Toba, saat ini hasil tangkap ikan endemik, sangat minim dan meresahkan, serta cenderung pulang tanpa hasil. Jika terus berlanjut tanpa ada perhatian khusus dan solusi konkrit pemerintah, maka mata pencaharian utama para nelayan tangkap, nyaris ter- ancam dan berdampak besar bagi keterlangsungan hidup mereka.
“Populasinya semakin hari, semakin banyak, ku-rasa sudah dibangun mereka (setan merah, red) “istana kerajaannya”, di Tao (danau) ini, buas pulak lagi, habis telor, dan jentik Ikan disantapnya, yang*”Asli”* Danau Toba, baik jahir, mas, juga nila”, sebut nelayan Manditar Manurung, yang juga dipercaya kelompok nya, sebagai ketua Koperasi Usaha Bersama (KUB) Nelayan Tangkap Sibuntuon Pasir.

Bagi masyarakat setempat, “Predator” ini juga dikenal dengan nama ikan Tayotayo, (Amphilophus Labiatus, bahasa latin, berasal dari sungai Amazon, red)
Merespon hal tersebut, Sahat Manullang, selaku Kadis ketahanan Pangan Kabupaten Toba, bersama tim, turun dan jemput persoalan yang sedang dihadapi nelayan tangkap, guna melihat langsung hal yang mereka hadapi.
Kunjungan di- dua tempat, diawali sekitar pinggiran danau, Desa Sibuntuon, Kecamatan Uluan, selanjutnya,di Desa Lumbanbinanga, Kecamatan Laguboti, Kamis, (14/04).
Hasil pertemuan, nelayan meminta kepada Sahat, untuk segera mengatasi persoalan mereka dan meminta tabur bibit ikan _(re-stocking)_yang kedepan dapat kembali dipanen (ditangkap, red).
“Biasanya Pak, sebelum tayo-tayo ini ada kami nelayan bisa dapat 3 sampai 5 kg/ hari, jika dijual ke- Onan (onan, bahasa Batak, artinya ; pasar, red), kan kami bisa dapat 90 Ribu sampai 150 Ribu, itu sudah bisa mencukupi makan kami, saat ini nyaris tak dapat, bahkan “Nol” persen”, justru yang dapat Tayotayo, harga jual tidak ada, duri punggungnya pun tajam, disobek Jaring kami”, papar Timbo Hutajulu, selaku Ketua KUB Serasi, Desa Lumbanbinanga.
Menanggapi hal tersebut, Kadis Ketapang, Sahat Manullang, merespon diawal, akan menindaklanjuti, dengan re-stocking!

“Pendapat awal kita Re-stocking, walaupun, belum kajian ilmiah, re-stocking dengan benih ber-ukuran 5- 7 cm, mungkin dan mudah- mudahan, berguna mengatasi populasinya (red devil, red) terhadap persaingan diperairan, dan sebagai penyeimbang alamiah”, kata pria yang pernah menjabat Sekretaris Dinas Pertanian Toba ini.
Ditambahkannya, dengan nada tegas, “Bagi siapa saja tabur benih ikan, janganlah dulu menabur/re-stocking yang bukan endemik Danau Toba”, pinta Pria yang juga pernah menjabat Kadis Pertanian Toba ini.
Terhadap kondisi atas besarnya jumlah populasi ikan “predator” diperairan Danau Toba yang sudah mengancam populasi ikan endemiknya, terutama berdampak negatif kepada pendapatan ekonomi Nelayan Tangkap Toba, mantan Asisinten II Ekbang Toba tersebut, mengibaratkan ” Danau Toba, Ibarat Kolam Besar yang gagal berproduksi”, ungkapnya.
Usai mendengar dan melihat apa yang dialami masyarakat nelayan tangkap Toba tersebut, Sahat Manullang berjanji, segera menindaklanjuti re-stocking diawal, dengan berkoordinasi kepada pihak pemerintah daerah Toba serta stakeholder’s lainnya, guna segerakan tabur benih untuk langkah awal.
Sebelum mengakhiri pertemuan, beliau berpesan dan meminta kepada pihak nelayan tangkap, untuk tidak menangkap yang kecil-kecil dulu pasca tabur benih ikan endemiknya, tutupnya.(GH/SIM)













