Kupang, Anggota DPD RI dari Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Abraham Liyanto meluncurkan buku kelima berjudul “Diberkati Untuk Memberkati.” Buku yang berjumlah 300 halaman ini berisikan jejak perjuangan Abraham sejak menjadi seorang arsitek, pebisnis, pendiri Universitas Citra Bangsa (UCB) dan Hotel Harper Kupang hingga menjadi anggota DPD RI selama empat periode.

Peluncuran buku dilakukan di kampus UCB Kupang, Sabtu, 24 Oktober 2026. Peluncuran buku baru ini bertepatan dengan Hari Ulang Tahun (HUT) Abraham yang ke-70.
Sebelumnya, Abraham telah menuliskan empat buku yaitu Impian Perubahaan dan Perjuangan Kemanusiaan, Laporan Kerja Senator, Senator Berhati Rakyat dan Pencipta Lapangan Kerja.
Peluncuran buku kelima ini dihadiri 500 undangan yang onsite dan ratusan yang hadir secara online. Tampak hadir pada acara itu, mantan Gubernur NTT Herman Musakabe, mantan Wakil Gubernur NTT yang saat ini menjadi anggota DPR RI Esthon Leyloh Foenay, dan anggota DPD RI dari Provinsi Sumatera Barat Irman Gusman.
Dalam buku baru Abraham ini, Herman dan Irman ikut menulis. Ikut juga menulis dalam buku itu adalah Rektor Universitas Kristen Maranatha Frans Umbu Datta, Komisioner Independen PT Orang Tua Group Vincent Gaspersz, mantan Rektor Universitas Cendana Maxs UE Sanam, dan Guru Besar Undana David BW Pandie. Sementara Ketua DPD RI Sultan Bakhtiar Najamudin memberikan catatan pengantar dalam buku tersebut.
Dalam tulisannya, Herman Musakabe melukiskan Abraham sebagai manusia kaya arti. Artinya, Abraham sebagai seorang pribadi yang selalu memberi makna dan arti bagi orang lain. Itu yang tampak dari karya-karya Abraham mulai mengurus Tenaga Kerja Indonesia (TKI), membangun sekolah sampai universitas, membangun hotel dan dalam waktu dekat akan membangun rumah sakit.
“Manusia kaya arti seperti pak Abraham ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat NTT. Semoga teladan beliau akan melahirkan manusia kaya arti yang lain di masa depan,” kata Herman.
Sementara Irman Gusman melukiskan Abraham sebagai sosok pebisnis atau entrepreneur yang handal. Abraham mampu membangun daerahnya di tengah keterbatasan dan keterbelakangan NTT sebagai provinsi 3 T yaitu tertinggal, terpencil, terluar.
“Jarang pebisnis mau bangun daerah asalnya. Biasanya pebisnis akan menjadi kaya di daerah tempat tinggal barunya. Tetapi pak Abraham terbalik. Dia mau bangun daerah kelahirannya dan sukses. Ini luar biasa,” ujar Irman.
Abraham sendiri mengungkapkan bahwa buku barunya itu didedikasikan untuk masyarakat NTT khususnya dan masyarakat Indonesia umumnya. Dia mengaku tidak pernah bermimpi menjadi pebisnis dan politisi. Dia hanya menjalankan hidup yang dianugerahi Tuhan.
“Saya tidak bermimpi punya universitas. Tidak bermimpi punya hotel. Juga tidak punya ambisi menjadi politisi. Saya mengalir saja, tetapi percaya pada penyelenggaraan Ilahi. Apa yang saya bangun adalah rasa cinta saya pada bumi NTT. Semoga bermanfaat bagi masyarakat NTT,”’ tutur Abraham.













