
MALANG, satukanindonesia.com – Untuk menopang ekspansi sata center dan industri artificial intelligence (AI), Pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia mencari solusi kebutuhan air dan energi.
Hal ini disampaikan Wakil Menteri Koordinator (Wamenko) Republik Indonesia Perekonomian, Dradjad Hari Wibowo dalam keterangannya yang dikutip, Jumat (09/10/2026).
Menurut Dradjad, kebutuhan air menjadi salah satu tantangan serius yang harus diantisipasi pemerintah. Sebab, teknologi AI membutuhkan infrastruktur komputasi berskala besar, yang turut menyedot kebutuhan energi dan air.
“Saya membantu beliau (Menko Airlangga) mencari solusi untuk masalah air. Terutama masalah air, masalah energi, dan kesiapan masyarakat,”kata Dradjad.
Dradjad menilai, pemerintah tidak bisa menutup mata terhadap perkembangan AI. Teknologi tersebut, diproyeksikan menjadi salah satu faktor yang menentukan kekuatan sebuah negara dalam beberapa tahun mendatang.
Karena itu, di tengah ambisi Indonesia menarik investasi data center, pemerintah harus memastikan kesiapan infrastruktur pendukungnya. Bukan hanya listrik dan lahan, tetapi juga ketersediaan air.
“Seperti yang saya sampaikan tadi, teknologi baru itu selalu ada tantangan, ada dua sisi. Salah satu sisinya itu memang masalah air, masalah energi. Butuh energi banyak, butuh air banyak,”jelas dia.
Ekonom senior itu, menyatakan, persaingan AI tidak lagi hanya berkaitan dengan sektor ekonomi digital. Dalam 5 hingga 10 tahun ke depan, AI dinilai akan bersinggungan dengan berbagai aspek strategis negara.
“Itu adalah future. Lima tahun, 10 tahun yang akan datang, kekuatan ekonomi, kekuatan teknologi, kekuatan militer, kekuatan geopolitik itu salah satunya akan sangat tergantung kepada AI,”ungkap Dradjad.
Kendati demikian, Dradjad belum menjelaskan skema konkret yang sedang disiapkan pemerintah untuk mengatasi kebutuhan air dan energi industri AI, lantaran dia belum mulai menjalankan tugas tersebut.
“Nanti saya akan bicara lebih banyak setelah saya mulai mengerjakan,”ucapnya.
Persoalan air, sejalan dengan pernyataan Menko Airlangga, sebelumnya. Ia menyebut, setidaknya ada 3 syarat utama yang harus dipenuhi Indonesia jika ingin menjadi basis industri data center di tengah perlombaan pengembangan AI global.
“Kuncinya adalah ketersediaan lahan, ketersediaan listrik, dan ketersediaan air,”kata Menko Airlangga saat menjadi keynote speaker di acara BIG Downstream Insights 2026 di Jakarta, Selasa (06/10/2026).
Menko Airlangga menilai lonjakan kebutuhan data center merupakan peluang besar bagi Indonesia. Perkembangan AI telah memicu persaingan antarnegara untuk membangun kapasitas komputasi dan infrastruktur digital dalam skala besar.
“Kita melihat bahwa ke depan AI itu menjadi game changer sekaligus mendirikan industri baru yaitu industri data center. Sekarang seluruh dunia sedang balapan untuk mengembangkan industri data center,”bebernya.
Indonesia sendiri mulai menyiapkan sejumlah kawasan untuk menangkap peluang tersebut.
Salah satunya adalah Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Digital di Bintan, Kepulauan Riau. Kawasan tersebut bahkan disebut telah penuh atau sold out, sehingga pemerintah menyiapkan ekspansi guna mengakomodasi permintaan baru dari industri data center.
“Indonesia dilihat memenuhi persyaratan tersebut maka kawasan ekonomi khusus yang digital di Bintan sudah dalam tanda petik sold out,”ungkap dia.
Selain Bintan, pemerintah menyiapkan kawasan data center di Karawang, Jawa Barat. Lokasi tersebut dianggap strategis karena berdekatan dengan pasar domestik yang menjadi salah satu sumber permintaan layanan digital.
Dari sisi energi, pemerintah juga berupaya meningkatkan kapasitas listrik untuk mengantisipasi pertumbuhan industri digital.
Airlangga menyebut tambahan kapasitas listrik nasional dalam dua hingga tiga tahun ke depan dapat mencapai sekitar 500 megawatt.
Namun, kebutuhan air menjadi pekerjaan rumah yang kini mulai mendapat perhatian khusus. Sebab persoalan air bukan sekadar persoalan teknis, melainkan bagian dari kesiapan nasional menghadapi era AI.
“Memang menjadi tantangan apakah multiplier effect dari AI? Pertanyaannya bukan, sebetulnya jawabannya bukan hanya multiplier tetapi ini adalah the future dari digital,”tegas Menko Airlangga.
Mantan Ketua Umum (Ketum) Partai Golkar itu, menegaskan, kemampuan AI sangat bergantung pada kualitas data yang tersedia. Tanpa data yang kredibel, teknologi tersebut tidak akan mampu bekerja secara optimal.
“Di mana digitalisasi ini membutuhkan data-data yang kredibel, tanpa data yang kredibel, AI tidak mampu untuk meng-crawling data yang baik,”tukasnya. [ONE/GRW]













