
Jakarta, SatukanIndonesia.Com – Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga mencatat, neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus sebanyak USD 25,08 miliar pada periode Januari-September 2021. Torehan tersebut membuktikan bahwa kinerja perdagangan Indonesia siap bersaing hingga tingkat dunia, khususnya dengan mengandalkan ekspor. Sebagaimana yang diinginkan oleh Presiden Joko Widodo atau Jokowi.
“Jadi, kita wujudkan terus supaya ekspor kita lebih besar,” ungkapnya kepada wartawan usai menghadiri acara Kickoff Pasar dan Pusat Perbelanjaan Siap QRIS di Manado, Jumat (5/11).
Wamendag Jerry menyampaikan, kunci untuk meningkatkan daya saing perdagangan Indonesia ialah dengan mempercepat transformasi digitalisasi. Antara lain memperluas pemanfaatan transaksi non tunai atau cashless payment untuk meningkatkan kepraktisan.
“Kami terus menyiapkan, kami memastikan untuk transaksi digital cashless payment itu dilakukan,” tandasnya.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan barang Indonesia di September 2021 mengalami surplus USD4,37 miliar. Angka tersebut karena ekspor mencapai USD20,6 miliar sementara impor mencapai USD16,23 miliar.
Kepala BPS Margo Yumowo mengatakan, realisasi ini lebih rendah dari surplus USD4,74 miliar pada Agustus 2021, namun masih lebih tinggi dari USD2,44 miliar pada September 2020. Secara total, akumulasi surplus neraca dagang Indonesia mencapai USD25,07 miliar pada Januari-September 2021.
“Kalau kita lihat pada grafik, bahwa neraca perdagangan Indonesia selama 17 bulan beruntun membukukan surplus,” kata Margo di Jakarta, Jumat (15/10).
Komoditi non migas menyumbang surplus terbesar itu adalah non migas. Beberapa di antaranya adalah bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewan.
Sedangkan negara yang memberikan andil surplus yaitu Amerika Serikat (AS), India dan Filipina. Dengan AS surplus USD1.579,8 juta yaitu ekspor pakaian dan asesoris. India surplus USD718,6 juta komoditasnya bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewan.(***)













