
Catatan tentang Pancasila di Era Digital (Bagian Pertama)
Ketika Pancasila Mulai “Tidak Sakti”
Oleh Cak Yos
Satukanindonesia.com – Pagi, 1 Oktober 2026, sebenarnya tidak ada yang istimewa. Beberapa ucapan Hari Kesaktian Pancasila lewat begitu saja di sebuah grup WhatsApp yang diikuti penulis. Ada gambar Garuda, Merah Putih, dan ucapan yang kurang lebih sama seperti yang muncul setiap tahun.
Di antara pesan-pesan itu, seorang sahabat menulis, “Selamat Hari Kesaktian Pancasila yang mulai tidak sakti.” Sebuah emotikon sedih menyertai kalimat pendek tersebut. Penulis sempat tersenyum membacanya, tetapi entah mengapa kalimat itu tidak segera berlalu dari pikiran.
Bisa jadi sahabat tadi hanya sedang bergurau. Bisa pula ada kegelisahan yang tidak mungkin dijelaskan panjang lebar melalui WhatsApp. Pesan-pesan berikutnya terus masuk dan percakapan bergerak ke topik lain, tetapi satu pertanyaan telanjur tertinggal:
, benarkah Pancasila mulai “tidak sakti”, atau dunia tempat nilai-nilainya harus hidup yang sedang berubah begitu cepat?
*Ruang Hidup yang Berubah*
Dahulu nilai banyak diperkenalkan melalui rumah, sekolah, buku, organisasi, mimbar agama, radio, surat kabar, dan televisi. Semua itu masih ada, tetapi sekarang manusia mempunyai ruang hidup lain yang hampir tidak pernah jauh dari tangannya. Ruang itu hanya selebar layar telepon genggam, tetapi dapat menemani seseorang sejak bangun tidur hingga kembali memejamkan mata.
Di sana orang membaca berita, menonton film, mengikuti politik, mendengarkan khotbah, berbelanja, mencari hiburan, berdebat, tertawa, dan marah. Sebuah video yang hanya berlangsung beberapa puluh detik kadang meninggalkan kesan lebih kuat daripada penjelasan panjang di ruang kelas. Sebuah potongan percakapan atau meme dapat berpindah dari satu grup ke grup lain sebelum orang sempat memeriksa asalnya.
Pancasila sekarang hidup di tengah dunia seperti itu. Ia tidak lagi hanya berhadapan dengan buku Pendidikan Pancasila, ruang kelas, upacara bendera, pidato kenegaraan, atau perdebatan para ahli. Ia juga berhadapan dengan TikTok, Instagram, YouTube, podcast, mesin pencari, grup percakapan, dan kecerdasan buatan.
Apa yang muncul di layar kita pun tidak seluruhnya datang secara kebetulan. Sistem digital menggunakan berbagai sinyal untuk memperkirakan apa yang mungkin menarik perhatian pengguna dan kemudian merekomendasikan konten berikutnya. Salah satu mekanisme yang bekerja di belakang pengalaman digital itu kita kenal sebagai algoritma.
Di sinilah ucapan sahabat tadi terasa semakin mengganggu. Jangan-jangan persoalannya bukan Pancasila kehilangan “kesaktian”, melainkan cara kita membumikannya belum sepenuhnya mengikuti perubahan ruang tempat manusia Indonesia menjalani kehidupannya.
*Ketika Pancasila Masuk Layar*
Pertanyaan itu membawa penulis teringat Budiman Sudjatmiko. Bukan pertama-tama perjalanan politiknya, karena bagian tersebut mempunyai cerita dan perdebatannya sendiri. Yang menarik dalam percakapan ini adalah jejak gagasannya ketika persoalan kebangsaan dipertemukan dengan ilmu pengetahuan, teknologi, dan data.
Jejak itu ternyata sudah terlihat pada 2011. Budiman Sudjatmiko bekerja sama dengan Bandung Fe Institute meluncurkan Spektika yang memiliki fitur Pancasila Interaktif. Kajian yang diterbitkan jurnal Humaniora BINUS mencatat bahwa pengguna menjawab sejumlah pertanyaan dan sistem kemudian secara otomatis menghitung nilai-nilai Pancasila berdasarkan jawaban yang diberikan.
Hari ini aplikasi semacam itu mungkin tidak terasa terlalu mengejutkan. Kita sudah terbiasa dengan kuis daring yang dalam beberapa detik mencoba membaca kepribadian, preferensi, bahkan kecenderungan seseorang. Tetapi kita sedang berbicara tentang tahun 2011, jauh sebelum percakapan mengenai kecerdasan buatan generatif memenuhi layar telepon seperti sekarang.
Yang menarik bukan apakah aplikasi itu benar-benar mampu mengukur seberapa “Pancasilais” seseorang. Manusia tentu terlalu rumit untuk diringkas menjadi angka dari beberapa jawaban. Yang menarik justru keberanian membawa sesuatu yang biasanya dibicarakan melalui bahasa filsafat, sejarah, ideologi, dan kewarganegaraan masuk ke dalam sebuah sistem digital.
*Lebih dari Poster Digital*
Di sinilah ada perbedaan antara mendigitalkan Pancasila dan membumikan Pancasila di dunia digital. Mendigitalkan relatif mudah. Teks lima sila dapat dibuat menjadi poster, video, konten media sosial, atau bahan presentasi dan dalam beberapa menit sudah beredar ke mana-mana.
Membumikan Pancasila jauh lebih rumit. Persoalannya bukan hanya apakah lima sila muncul di layar, tetapi apakah kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan ikut hadir dalam cara teknologi dibangun dan digunakan. Pertanyaannya bergeser dari sekadar apa yang kita tampilkan menjadi bagaimana teknologi memperlakukan manusia.
Pada 2020, Budiman kembali berbicara tentang Pancasila dalam konteks perubahan zaman. Dalam Webinar Nasional Pancasila yang diselenggarakan BEM Fakultas Hukum Universitas Udayana, ia mengatakan bahwa penyampaian Pancasila perlu mengikuti perkembangan zaman dan dilakukan secara menarik, menghibur, serta menginspirasi, bukan dengan menumbuhkan ketakutan. Dalam forum yang sama ia juga berbicara mengenai perkembangan teknologi dan pentingnya kemampuan manusia Indonesia beradaptasi dengannya.
Pernyataan tersebut tentu terbuka untuk dibaca dan diperdebatkan. Namun ada satu hal yang menarik bagi penulis, Pancasila tidak cukup ditempatkan sebagai sesuatu yang dijaga di dalam lemari sejarah. Nilainya harus bertemu dengan manusia yang ruang hidupnya terus berubah.
*Siapa yang Memilih?*
Bayangkan seorang anak muda membuka telepon genggam beberapa menit setelah bangun pagi. Sebelum bertemu dosen, guru, orang tua atau tokoh masyarakat, ia mungkin sudah melihat belasan video. Ada yang membuatnya tertawa, ada yang membuatnya marah, dan ada pula yang perlahan memengaruhi caranya memandang orang lain.
Tidak ada seseorang yang duduk semalaman memilihkan satu per satu video tersebut. Sistem rekomendasi bekerja menggunakan data dan berbagai sinyal untuk memperkirakan konten yang dianggap relevan bagi pengguna. Teknologi seperti ini memberi banyak kemudahan, tetapi sekaligus menimbulkan pertanyaan: nilai apa yang sebenarnya sedang diprioritaskan?
Apakah perhatian, lamanya orang menonton, jumlah interaksi, keuntungan, atau juga kebaikan manusia? Pertanyaan terakhir memang terdengar besar, tetapi justru di sanalah Pancasila mempunyai ruang percakapan baru.
Jika sila kedua berbicara mengenai kemanusiaan yang adil dan beradab, bagaimana nilai itu hadir ketika semakin banyak keputusan dibantu sistem digital? Jika sila ketiga berbicara mengenai persatuan Indonesia, bagaimana kita membacanya ketika teknologi mampu mempertemukan manusia tetapi sekaligus dapat membuat orang terus-menerus berada di antara suara yang serupa dengan dirinya?
Pertanyaan serupa dapat diajukan kepada sila keempat dan kelima. Apakah ruang digital membantu kita mendengar orang lain sebelum menjawab, dan ketika ekonomi digital berkembang begitu cepat, siapa yang menikmati manfaat terbesarnya serta siapa yang masih tertinggal?
Penulis tidak ingin tergesa-gesa menjawab semuanya. Pancasila terlalu besar untuk diselesaikan dalam satu artikel, sementara teknologi bergerak terlalu cepat untuk dinilai hanya dari satu sudut pandang. Namun pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa pembicaraan mengenai Pancasila hari ini memang perlu berjalan lebih jauh daripada hafalan dan slogan.
*Masih “Sakti”?*
Penulis kembali teringat pesan WhatsApp pagi itu. Sang sahabat hanya menulis satu kalimat dengan sebuah emotikon sedih, lalu percakapan berjalan seperti biasa. Mungkin beberapa jam kemudian ia sendiri sudah tidak mengingatnya.
Tetapi kalimat sederhana kadang membuka pertanyaan yang jauh lebih panjang. Boleh jadi Pancasila tidak sedang kehilangan “kesaktiannya”; mungkin kita yang masih mencari cara agar nilai-nilainya hadir di tempat manusia Indonesia sekarang hidup, belajar, bekerja, berteman, berbeda pendapat, dan mengambil keputusan.
Salah satu tempat itu sekarang berada pada layar yang hampir tidak pernah jauh dari tangan kita. Di balik layar tersebut bekerja sistem yang membaca data, mengenali pola, menyusun pilihan, lalu ikut menentukan sebagian dari apa yang kita lihat berikutnya.
Di titik itulah Pancasila bertemu dengan teman percakapan yang dahulu mungkin tidak pernah kita bayangkan: algoritma. Jejak pertemuan antara persoalan kebangsaan, teknologi, data, dan algoritma dalam gagasan Budiman Sudjatmiko ternyata tidak berhenti pada Pancasila Interaktif tahun 2011 (Bersambung)
Cak Yos (Immanuel Yosua) adalah pembelajar kebangsaan dan koordinator MPI













