Jakarta, SatukanIndonesia.com – Berikut adalah profil mengenai Partai Berkarya yang dihimpun oleh redaksi SatukanIndonesia.com dari berbagai sumber:
Presiden
Sekretaris Jenderal
Didirikan pada
: Dr. Mohamad Sohibul Iman
: H. Mustafa Kamal SS.
: 20 April 2002
Sejarah Pendirian
Partai Keadilan Sejahtera (PKS), sebelumnya bernama Partai Keadilan (PK), adalah sebuah partai politik berbasis Islam di Indonesia. Asal usul PKS dapat ditelusuri dari gerakan dakwah kampus yang menyebar di universitas-universitas Indonesia pada 1980-an. Gerakan ini dapat dikatakan dipelopori oleh Muhammad Natsir, mantan Perdana Menteri Indonesia dari Masyumi (dibubarkan pada 1960) yang mendirikan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) pada 1967. Lembaga ini awalnya fokus kepada usaha mencegah kegiatan misionari Kristen di Indonesia. Peran DDII yang paling krusial adalah kelahiran Lembaga Mujahid Dakwah yang berafiliasi dengan DDII, dipimpin Imaduddin Abdulrahim yang aktif melakukan pelatihan keagamaan di Masjid Salman, Institut Teknologi Bandung.
Pada 1985, rezim Orde Baru mewajibkan seluruh organisasi massa menjadikan Pancasila sebagai asasnya. Ini membuat sejumlah tokoh Islamis berang dan menyebut rezim Soeharto telah memperlakukan politik Islam sebagai kutjing kurap. Pada saat yang sama, Jamaah Tarbiyah meraih momentumnya di kalangan mahasiswa kader Rohis dan aktivis dakwah di kampus-kampus. Pada tahun 1993, Mustafa Kamal, seorang kader Jamaah Tarbiyah, memenangi pemilihan mahasiswa untuk Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, kader Jamaah pertama yang memegang kekuasaan di level universitas. Setahun kemudian, Zulkieflimansyah, juga kader Jamaah Tarbiyah, menjadi Ketua Senat Mahasiswa di universitas yang sama.
Para anggota Jamaah Tarbiyah kemudian mendirikan Lembaga Dakwah Kampus, yang kemudian menjadi unit-unit kegiatan mahasiswa yang resmi di berbagai kampus sekuler di Indonesia, seperti di Universitas Indonesia, terutama oleh para aktivis Forum Studi Islam. Saat itu, kata usrah yang sering dipakai untuk menyebut kelompok-kelompok kecil pengajian di LDK mulai diasosiasikan, dengan menggunakan sistem sel ala Ikhwanul Musliminuntuk merekrut kader.
Meskipun adanya berbagai faksi dan kubu di dalam tubuh LDK, semuanya sepakat membentuk Forum Silaturahmi Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) pada 1986. Pertemuan tahunan ke-10 FSLDK di Malang pada 1998 dimanfaatkan untuk deklarasi Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI). KAMMI muncul sebagai salah satu organisasi yang paling vokal menyuarakan tuntutan reformasi melawan Soeharto, dipimpin oleh Fahri Hamzah. Sejurus setelah mundurnya Soeharto pada 21 Mei 1998, para tokoh KAMMI telah mempertimbangkan berdirinya sebuah partai Islam. Partai tersebut kemudian diberi nama Partai Keadilan (disingkat PK). Kendati tokoh elit KAMMI memiliki kontribusi dalam pembentukan PK, KAMMI dan PK secara tegas menyatakan bahwa tidak memiliki hubungan formal.
Partai Keadilan dideklarasikan di Masjid Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta, pada 20 Juli 1998, dan mengangkat Nurmahmudi Isma’il sebagai presiden pertamanya. Di pemilihan umum legislatif Indonesia 1999, PK mendapat 1,436,565 suara, sekitar 1,36% dari total perolehan suara nasional dan mendapat tujuh kursi di Dewan Perwakilan Rakyat. Meskipun demikian, PK gagal memenuhi ambang batas parlemen sebesar dua persen, sehingga memaksa partai ini melakukan stembus accord dengan delapan partai politik berbasis Islam lainnya pada Mei 1999.
Nurmahmudi kemudian, ditawarkan jabatan Menteri Kehutanan di Kabinet Persatuan Nasional bentukan presiden Abdurrahman Wahid pada Oktober 1999. Ia menyetujui tawaran tersebut dan menyerahkan jabatan presiden partai kepada Hidayat Nur Wahid, seorang doktor lulusan Universitas Islam Madinah, sejak 21 Mei 2000.
Karena kegagalan PK memenuhi ambang batas parlemen di pemilihan umum selanjutnya, menurut regulasi pemerintah, mereka harus mengganti nama. Pada 2 Juli 2003, Partai Keadilan Sejahtera menyelesaikan seluruh proses verifikasi Departemen Hukum dan HAM di tingkat Dewan Pimpinan Wilayah (setingkat provinsi) dan Dewan Pimpinan Daerah (setingkat kabupaten dan kota). Sehari kemudian, PK resmi berubah nama menjadi Partai Keadilan Sejahtera.
Dengan bergantinya PK menjadi PKS, partai ini kembali bertanding di pemilihan umum legislatif Indonesia 2004. PKS meraih total 8,325,020 suara, sekitar 7.34% dari total perolehan suara nasional. PKS berhak mendudukkan 45 wakilnya di DPR dan menduduki peringkat keenam partai dengan suara terbanyak, setelah Partai Demokrat.
Presiden partai, Hidayat Nur Wahid, terpilih sebagai ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat dengan 326 suara, mengalahkan Sutjipto dari PDIP dengan 324 suara. Hidayat menyerahkan jabatan presiden kepada Tifatul Sembiring, juga seorang mantan aktivis kampus dan pendiri PKS.
VISI dan MISI
Visi Partai Keadilan Sejahtera
Misi Partai Keadilan Sejahtera
Menjadikan partai sebagai sarana perwujudan masyarakat madani yang adil, sejahtera, dan bermartabat yang diridlai Allah subhanahu wa ta’ala, dalam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Makna Lambang
- Kotak persegi empat melambangkan kesetaraan keteraturan, keserasian, persatuan, dan kesatuan arah;
- Bulan Sabit melambangkan kejayaan, dimensi waktu, keindahan, pencerahan, dan kesinambungan sejarah;
- Untaian 17 (tujuh belas) butir pagi pada tangkai tegak lurus melambangkan adil, ukhuwah, istikamah, berani, disiplin dalam menjalankan tugas, serta tegas dalam mewujudkan keadilan dan kesejahteraan;
- Putih melambangkan bersih, suci, dan mulia;
- Hitam melambangkan kepastian, aspiratif, dan akomodatif;
- Kuning emas melambangkan kecemerlangan, kebahagiaan, dan kejayaan;
- PKS dengan warna hitam, singkatan dari PARTAI KEADILAN SEJAHTERA;
Berikut ini susunan Pengurus Tingkat Pusat Partai Keadilan Sejahtera:
Ketua Majelis Syuro : Dr Salim Segaf Al Jufri
Wakil Ketua Majelis Syuro : Dr Hidayat Nur Wahid
Sekretaris Majelis Syuro : Ir. H. Untung Wahono, M.Si
Ketua Majelis Pertimbangan Pusat : Suharna Surapranata, MT
Ketua Dewan Syariah : Dr KH Surahman Hidayat
Presiden : M. Sohibul Iman, Ph.D.
Sekretaris Jenderal : Mustafa Kamal, SS
Wakil Sekjen : Ir. Abdul Hakim, MM
Bendahara Umum : Mahfudz Abdurrahman, S.Sos
Wakil Bendahara Umum : Dr. Abdul Kharis Almasyhari
Ketua Badan Penegak Disiplin Organisasi : H. Abdul Muiz Saadih, MA
Ketua Badan Pembinaan dan Pengembangan Luar Negeri : Dr. Sukamta Manta Miharja
Ketua Badan Perencanaan : KH. Bukhori Yusuf, Lc, MA
Ketua Badan Pembinaan Kepemimpinan Daerah : H. Ahmad Heryawan, Lc., M.Si
Ketua Bidang Pemberdayaan SDM dan Lembaga Profesi : Drs. H. Musholli
Ketua Bidang Pemberdayaan Jaringan Usaha dan Ekonomi Kader : Deni Tresnahadi
Ketua Bidang Kaderisasi : Amang Syafruddin, Lc
Ketua Bidang Kepemudaan : Dr. Mardani Ali Sera
Ketua Bidang Kepanduan dan Olahraga : Asep Saefullah Danu
Ketua Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga : Dra. Wirianingsih, M.Si.
Ketua Bidang Hubungan Masyarakat : Ledia Hanifa Amaliah, SSi., M.PSi.T.
Ketua Bidang Seni dan Budaya : Muhammad Ridwan
Ketua Bidang Politik, Hukum dan Keamanan : Drs. H. Almuzammil Yusuf, M.Si.
Ketua Bidang Pemenangan Pemilu dan Pilkada : Drs. Chairul Anwar, Apt.
Ketua Bidang Kesra : Dr. Fahmy Alaydroes, MM., M.Ed.
Ketua Bidang Pembangunan Keumatan dan Dakwah : Dr. Ali Akhmadi
Ketua Bidang Ekonomi Keuangan, Industri, Teknologi dan Lingkungan Hidup : Ir. Memed Sosiawan, ME.
Ketua Bidang Pekerja, Petani dan Nelayan : Dr. H. Adang Sudrajat, M.M., AV.
Ketua Bidang Wilayah Dakwah Sumatera Bagian Utara : Dr. Hermanto
Ketua Bidang Wilayah Dakwah Sumatera Bagian Selatan : Drs. H. Gufron Azis Fuadi
Ketua Bidang Wilayah Dakwah Banjabar : Tate Qomarudin, Lc.
Ketua Bidang Wilayah Dakwah Jatijaya : Ir. H. Sigit Sosiantomo
Ketua Bidang Wilayah Dakwah Bali Nusra : Sugeng Susilo
Ketua Bidang Wilayah Dakwah Kalimantan : Hb. Aboe Bakar Al-Habsi, SE
Ketua Bidang Wilayah Dakwah Sulawesi : Drs. Cahyadi Takariawan, Apt.
Ketua Bidang Wilayah Dakwah Indonesia Timur : Dr. H.Muhammad Kasuba, MA
Ketua Fraksi MPR RI : Ir. Tifatul Sembiring
Ketua Fraksi DPR RI : Dr. Jazuli Juwaini, Lc., MM.













