
Malang, Satukanindonesia.com – Ketersediaan LPG 3 kilogram di wilayah Malang Raya dipastikan tetap aman hingga periode pasca Lebaran 2026. Setelah sempat mengalami lonjakan selama Ramadan dan Idulfitri, konsumsi kini mulai berangsur hingga hari ini(23/3) normal.
Ketua DPC Hiswana Migas Malang, Ahmad Bashori, menyampaikan pada pekan terakhir Ramadan 2026 bahwa konsumsi LPG naik sekitar 15 persen dibanding hari biasa. Lonjakan tersebut dipicu meningkatnya aktivitas memasak rumah tangga dan produksi makanan menjelang hari raya.
“Distribusi sudah kami siapkan sejak awal, sehingga kebutuhan tetap tercukupi,” ujarnya.
Memasuki puncak Lebaran, pihaknya kembali memastikan pada periode H-3 hingga H+2 Idulfitri 2026 bahwa stok LPG dalam kondisi aman dan distribusi berjalan lancar.
Berdasarkan pemantauan hingga sepekan setelah Lebaran 2026, konsumsi LPG di Malang mulai turun dan kembali ke pola normal. Tidak ditemukan kelangkaan signifikan di tingkat pangkalan maupun agen.
Kondisi ini juga dirasakan langsung oleh masyarakat. Ratna, warga Karangploso, Malang, mengaku distribusi LPG saat ini berjalan lancar tanpa kendala.
“Sekarang sudah normal, tidak ada masalah. Beli juga gampang seperti biasa,” ujarnya, Senin (23/3).
Hal serupa disampaikan Karno, warga Kepanjen, yang sempat merasakan kendala saat puncak permintaan menjelang Lebaran.
“Sempat antri dan harga agak naik waktu ramai-ramainya kemarin. Tapi sekarang sudah normal lagi, beli juga sudah mudah,” katanya.
Distribusi yang sebelumnya diperkuat selama Ramadan kini kembali stabil, didukung jaringan pangkalan yang tersebar di Malang Raya. Sistem suplai juga tetap dijaga untuk memastikan pasokan tetap aman pasca arus balik.
Sementara itu, pengamat pelayanan publik dari Mitra Publik Indonesia (MPI) Malang, Fardik Rudiyanto, menilai langkah antisipasi yang dilakukan Pertamina sudah tepat.
“Upaya Pertamina dalam menjaga ketersediaan LPG sudah baik. Dari sisi distribusi sebenarnya tidak ada masalah berarti,” ujarnya, Senin (23/3).
Namun demikian, ia menyoroti bahwa persoalan yang kerap muncul justru berada pada aspek penggunaan LPG bersubsidi yang belum sepenuhnya tepat sasaran.
“Yang sering jadi persoalan itu penggunaan LPG subsidi. Kalau tidak tepat sasaran, itu bisa memicu kesan langka di masyarakat,” tegasnya.
Ia menekankan pentingnya pengawasan dan kesadaran bersama agar distribusi LPG subsidi benar-benar dinikmati oleh masyarakat yang berhak.
Secara umum, pola konsumsi LPG di Malang kembali menunjukkan tren tahunan: meningkat menjelang Lebaran, lalu berangsur normal setelahnya tanpa gangguan berarti (Arief).













