JAYAPURA, SatukanIndonesia.com – Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) mengklaim bertanggungjawab terhadap penembakan pesawat komersil jenis Caravan dengan nomor resistrasi PKS-NR, milik maskapai penerbangan Smart Air di Bandara Korowai Batu, Kampung Danowage, Distrik Yaniruma, Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan, Rabu (11/2/2026).
Komandan operasi TPNPB Wilayah Pertahanan XVI Yahukimo, Mayor Kopitua Heluka menyatakan, pihaknya yang bertanggung jawab dalam insiden penembakan yang menewaskan pilot, Kapten Egon Erawan dan kopilot, Kapten Bas Koro itu.
Kopitua Heluka mengingatkan, aparat keamanan untuk tidak salah tangkap saat mengejar pelaku. Katanya, aparat keamanan jangan menangkap warga sipil yang tak bersalah.
“Jangan salah tangkap atau salah serang terhadap warga sipil. Kalau mau cari, cari pasukan TPNPB. Pelakunya kami. Kalau mau cari saya, saya ada ini. Saya siap tanggung jawab,” kata Kopitua Heluka dalam rekaman video yang diterima, Sabtu (14/02/2026).
Menurut Heluka, ia telah memerintahkan untuk menembak siapapun warga non Papua yang diduga menjadi informan atau mata-mata aparat keamanan.
“Hari ini atau Rabu, 11 Februari 2026 kami tembak pilot, dan tembak pesawat. Itu perintah saya. Kami TPNPB tujuan jelaskan, tidak minta pembangunan, tidak minta jalan, tidak minta uang dan lain-lain. Kami murni minta pengakuan kepada Presiden kolonial Indonesia yaitu Prabowo Subianto. Itu tuntutan kami. Kalau ko masih kepala batu, kami lawan sampai Papua merdeka,”ujarnya.
Ia mengatakan, pihaknya juga telah menyampaikan kepada warga Yahukimo baik asli Papua maupun non Papua untuk meninggalkan wilayah itu, karena daerah tersebut sudah masuk daerah medan perang.
“Masalah penembakan pilot hari ini, silahkan cari saya. Saya siap bertanggung jawab,”ucapnya.
Juru Bicara TPNPB, Sebby Sambom juga menyatakan, penembakan itu dilakukan oleh pasukan TPNPB wilayah pertahanan XVI Yahukimo dari Batalyon Kanibal.
“Panglima TPNPB Wilayah Pertahanan XVI Yahukimo Bridjen Elkius Kobak dan Komandan Operasi Mayor, Kopitua Heluka bertanggungjawab atas peristiwa ini,”tulis Sebby Sambom dalam siaran pers tertulisnya yang diterima, Sabtu (14/02/2026).
Menurut Sambom, aksi itu dilakukan pasukan TPNPB, sebab pesawat milik perusahaan penerbangan tersebut sering mengangkut pasukan keamanan Indonesia di Tanah Papua.
“Hal ini dilakukan pasukan TPNPB, karena pilot-pilot dari perusahaan penerbangan ini tidak mengindahkan peringatan yang selalu keluarkan oleh manajemen markas pusat Komnas TPNPB, juga pilot-pilot ini merupakan agen intelijen militer dan polisi Indonesia,”ujar Sebby Sambom.
Sementara itu, Kepala Operasi Damai Cartenz 2026, Brigjen Polisi Faizal Ramadhani mengatakan, saat ini Satgas masih melakukan konsolidasi kekuatan untuk merespons situasi di lapangan.
“Sore ini kami sudah menerbangkan pasukan ke Boven Digoel. Harapannya kami bisa menilai situasi di lokasi dan menentukan langkah selanjutnya, termasuk kemungkinan evakuasi, berdasarkan penilaian kondisi yang ada,” kata Brigjen Faizal melalui rilis yang diterima.
Faizal Ramadhani mengatakan, pasukan yang diberangkatkan merupakan pergeseran personel dari luar Papua sebagai bagian dari penguatan pengamanan dan penyelidikan.
Terkait pelaku penembakan, Faizal menegaskan, identitas maupun kelompok pelaku masih dalam proses penyelidikan.
“Untuk sementara yang bisa kami pastikan ada dua korban. Untuk yang lainnya masih kami dalami. Situasi terakhir, kami terus berupaya berkomunikasi dan memonitor kondisi masyarakat di sekitar lokasi,”ucapnya.
Pesawat yang ditembak itu berangkat dari Bandara Tanah Merah pukul 10.35 WIT, dengan membawa 12 penumpang dewasa dan satu bayi.
Pesawat ditembaki dari arah hutan samping bandara, saat mendarat. Aksi itu menewaskan pilot dan kopilot, sementara 13 penumpang berhasil selamat. [GRW]













