
Banyuwangi, satukanidonesia.com— Di tengah padatnya arus balik Lebaran, suasana di Pelabuhan Ketapang tak sekadar dipenuhi deretan kendaraan. Sejumlah penumpang tampak turun dari bus, duduk di tepi jalan, menunggu kepastian giliran menyeberang ke Bali.
Barisan bus antarkota berjajar rapat di area parkir pelabuhan, sebagian mesin dimatikan, sebagian lain tetap menyala. Di antara kendaraan itu, penumpang terlihat beristirahat, berbincang, bahkan ada yang memilih duduk di aspal, mencoba berdamai dengan waktu tunggu yang tidak pasti.
Kondisi ini terjadi seiring meningkatnya kepadatan arus balik yang hingga Pkl. 12.30 memanjang hingga sekitar 17 kilometer dari arah utara pelabuhan. Ini berdasarkan pantauan petugas BPTD Kelas II Jawa Timur di lapangan.
Dalam rangka mengurangi kepadatan, PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) telah mengoperasikan 34 kapal untuk menjaga kelancaran penyeberangan Ketapang–Gilimanuk. Pola percepatan layanan melalui skema tiba–bongkar–berangkat (TBB) terus diterapkan agar antrean tidak semakin panjang.
Berdasarkan pantauan lapangan, langkah ini mampu menekan waktu bongkar muat hingga sekitar 35 menit per siklus, sehingga pergerakan kapal lebih cepat.
Namun di lapangan, waktu tetap terasa panjang bagi para penumpang. Bukan hanya kendaraan yang menunggu, tetapi juga manusia dengan berbagai tujuan: kembali bekerja, pulang ke keluarga, atau sekadar melanjutkan perjalanan.
Mensikapi kondisi ini, Ni Made Ernawati, warga sekaligus pemerhati lalu lintas penyeberangan Ketapang–Gilimanuk, menilai antrean panjang ini merupakan fenomena yang berulang setiap tahun.
“Antrian seperti ini rutin tiap tahun. Tahun ini lebih terurai dibanding tahun sebelumnya. Selain petugas melakukan rekayasa lalu lintas, warga juga sudah mampu menyesuaikan irama balik ke Bali sehingga kemacetan sedikit lebih cepat terurai,” ujarnya.
Melihat dari sisi lain, Mitra Publik Indonesia melalui Fardik Rudiyanto mengingatkan bahwa di tengah kepadatan seperti ini, keselamatan tidak boleh terpinggirkan.
“Beberapa wilayah perairan kita ombaknya cukup tinggi seperti salah satunya Selat Bali. Jadi standar keamanan harus benar-benar dijaga dengan baik. Beberapa kali terjadi kecelakaan dan selalu ada korban jiwa dan benda. Sarana penunjang keselamatan harus benar-benar diperhatikan,” ungkapnya.
Di Ketapang, antrean bukan sekadar deret kendaraan. Ia adalah potret perjalanan panjang manusia—tentang kesabaran, tentang sistem yang bekerja di bawah tekanan, dan tentang harapan untuk segera sampai di tujuan _(Tim Liputan Lebaran 2026 Satukan Indonesia Biro Jatim)_













