
JAYAPURA, SatukanIndonesia.com – Jejak tambang emas di Papua Nugini berawal dari praktik sederhana masyarakat lokal yang mengolah tanah liat menjadi tembikar.
Namun sejak 1825, ketika kolonial Inggris mulai masuk dan melakukan eksplorasi emas di Teluk Erdscar, arah pemanfaatan sumber daya alam (SDA) di wilayah ini berubah drastis, dari kerajinan tradisional menuju industri ekstraktif.
Padahal jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa, penduduk asli Nugini telah lama memanfaatkan kekayaan alamnya dengan menambang dan memperdagangkan alat batu serta oker selama ribuan tahun, sekaligus mengolah tanah liat menjadi berbagai peralatan sehari-hari. Demikian dilansir dari laman mininghistory.asn.au, Kamis (19/03/2026).
“Emas pertama kali ditemukan pada 1852 sebagai jejak tak sengaja pada tembikar dari Teluk Redscar, Semenanjung Papua,”tulis geolog George A Mealey. Demam emas pertama di Papua Nugini, ditulis pula oleh geolog George A Mealey dalam buku berjudul Grasberg.
Dalam laporannya itu tercatat pada 1878 di dekat Port Moresby, eksplorasi emas dilakukan oleh Inggris dan Australia. Sedangkan di Papua Barat, baru dieksplorasi pada era 1967 hingga eksport perdana pada Maret 1973.
“Freeport adalah yang pertama melakukan penambangan, dan sampai saat ini satu satunya,”tulis Mealey.
Berbeda dengan emas, ternyata para pencari sumber minyak dari Inggris, Belanda dan Amerika Serikat sudah menapaki jejak-jejak mereka untuk mengebor tanah-tanah di Papua Nugini maupun di Papua Barat di zaman pemerintahan Nederlands Nieuw Guinea.
Mereka datang untuk mencari ladang-ladang minyak baru di dataran tanah Papua sudah dari dahulu, ketika itulah penjajahan dimulai.
Di Papua Nugini, eksplorasi minyak di Papua Nugini dimulai sejak 1919. Saat itu penemuan besar pertama adalah Ladang Kutubu pada 1986, diikuti oleh Ladang Gas Hides pada 1987. Sejak 2008, industri LNG berkembang pesat, terutama lewat proyek PNG LNG.
Pada 2017, Papua Nugini tercatat sebagai eksportir gas alam cair ke-17 terbesar di dunia. Di Papua Nugini, kurang dari 275 sumur eksplorasi asli telah dibor selama abad terakhir. Sumur bor Wohumul dibor di daerah Sungai Oriomo di Provinsi Barat, dekat Daru, pada 1925, meskipun ini merupakan uji coba dangkal.
Michael McWalter mantan direktur Divisi Perminyakan dan penasihat pemerintah Papua Nugini yang dikutip dari laman internet,www.pngbusinessnews.com mengatakan, eksplorasi minyak di Papua Nugini bukanlah hal baru.
Kegiatan ini telah berlangsung selama beberapa dekade, menghasilkan hasil yang menggiurkan dan telah menarik minat banyak penjelajah minyak bumi. Lebih lanjut, Mc Walter menambahkan, sumur bor dalam pertama di Papua Nugini dibor di Kariava-1 di Provinsi Gulf.
Perlu dicatat, pengeboran sumur ini dimulai pada 8 Maret 1941, dihentikan pada 1942 karena Perang Dunia II, dan pengeboran dilanjutkan pada 1946 sebelum sumur tersebut ditinggalkan pada 1948.
“Keberhasilan signifikan akhirnya diraih pada 1986 dengan sumur Iagifu 2-X, ketika Niugini Gulf Oil“, yang kemudian tergabung ke dalam Chevron Corp, sebagai Chevron Niugini.
Mereka menemukan akumulasi minyak mentah, yang besar di dekat Danau Kutubu. Penemuan ini mengarah pada Proyek Pengembangan Minyak Bumi Kutubu pada 1990,”kata Mc Walter seraya menambahkan bahwa setelah ditemukannya cadangan minyak mentah yang dapat diekstraksi di Kutubu pada 1986, banyak perusahaan minyak dan gas memperoleh izin eksplorasi di Papua Nugini.
“Namun, hanya sedikit yang akhirnya berhasil melakukan penemuan. Di antara perusahaan-perusahaan yang melakukan eksplorasi di Papua Nugini tetapi pergi tanpa penemuan besar adalah Conoco, Shell, Phillips, Pennzoil, Statoil, Mobil, Amoco, Marathon, Petrofina, Santos, Woodside dan Union Texas Petroleum, bersama dengan banyak perusahaan kecil lainnya,”kata Mc Walter.
`NNGPM DAN PERUSAHAAN MINYAK AMERIKA SERIKAT’
“Sebagian besar orang mengira bahwa Nederlandsche Nieuw Guinea Petrolium Maatschappij, yang kemudian dikenal orang-orang di tanah Papua, NNGPM adalah perusahaan yang dijalankan Belanda, tetapi tidak sepenuhnya demikian,”tulis Greg Poulgrain dalam buku terjemahan Indonesia berjudul “Bayang bayang Intervensi, Perang Siasat Jhon F Kennedy dan Allen Dulles atas Sukarno.
Lebih lanjut Pulgrain menjelaskan, Belanda hanya menguasai 40 persen saham, sedang sisanya dimiliki oleh dua perusahaan asal Amerika Serikat (AS) yaitu Standar Vacum Oil dan Stadar Oil of California yang memegang kendali dengan saham sebesar 60 persen.
Ternyata kedua perusahaan ini sangat erat kaitannya dengan keluarga legendaris Rockefeler. Tercatat anak kelima dari Gubernur negara Bagian New York dan Nelson Rockefeller, dan merupakan generasi keempat anggota Keluarga Rockefeller. Anak kelimanya bernama Michael Rockefeller menghilang selama ekspedisi di wilayah Asmat, Papua pada 1961.
Poulgrain juga menulis salah satu keluarga Rockefeler juga pernah mendarat di lokasi tambang Freeport pada 1982, untuk memeriksa urat emas terbesar di dunia dengan menumpang helikopter Freeport Mc Moran.
`SHELL SURVEY MINYAK DI NEDERLANDS NIEUW GUNIE’
Perusahaan minyak asal Belanda, Shell mulai melakukan survey di wilayah Nederlands Nieuw Guinea pada 1928. Waktu itu, pemerintah kolonial Belanda mengimbau kepada Shell bersama Stanvac dan Caltex untuk berpatungan mengekplorasi Nieuw Guinea dan membentuk perusahaan patungan NV Nederlansche Nieuw Guinea Petroleum Maatschappij (NNGPM).
Setelah mencapai kesepakatan pada 1935, usaha patungan ini selanjutnya dikelola oleh Shell, karena mereka telah melakukan survei sejak 1928. Pemerintah kolonial waktu itu memberikan hak konsesi khusus selama 25 tahun.
Hasilnya pada 1938 berhasil ditemukan lapangan minyak Klamono dan disusul dengan lapangan Wasian, Mogoi, dan Sele yang masih beroperasi hingga saat ini.
Namun, kendala transportasi dan cuaca yang berubah-ubah serta tenaga kerja dari luar Nederlands Nieuw Guinea sehingga Perusahaan sulit berkembang waktu itu.
Memang ada ladang yang kecil-kecil, dan belum menemukan ladang yang besar sebelum 1942, kegiatan pun terhenti saat pecah Perang Dunia Kedua. Tetapi, setelah Perang Dunia usai, aktivitas eksplorasi minyak di Sorong pun mulai berjalan terutama di Klamono.
`KAIMANA, AWAL PENOLAKAN INVESTASI MINYAK’
NNGPM juga melebarkan sayap eksplorasi dari Sorong ke Teluk Etna, Kaimana di era 1950an pasca Perang Dunia Kedua.
Kehadiran perusahaan minyak, jelas mendapat penolakan dari warga karena eksplorasi sering merugikan warga, karena dilakukan tanpa negosiasi atau berdialog dengan masyarakat adat kala itu.
Namun cerita kekecewaan dan kemarahan terhadap pertambangan minyak di Papua juga muncul sejak awal ekstraksi sumber daya alam (SDA) di wilayah itu. Salah satunya terjadi di Teluk Etna, Kaimana, pada 1954.
Arnold Mampioper, yang saat itu menjabat Kepala Distrik Kaimana mengaku, tidak diundang oleh NNGPM saat perusahaan itu menggelar seremoni pengeboran sumur di Kampung Weribi.
“Tidak ada juga pimpinan adat yang memegang hak ulayat yang diundang,”ujar Arnold kepada Leontine Visser antropolog dari Universitas Leiden Belanda.
Kasus-kasus penyerobotan lahan atas nama pembangunan atau pun investasi terus terjadi ketika Irian Barat (Papua Barat) menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Mulai terjadi sejak 1 Mei 1963 sampai dengan pelaksanaan Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) 1969.
Sejak penemuan ladang minyak Kasim tahun 1972, sekitar delapan puluh lima sumur telah dibor oleh Petromer Trend di Cekungan Salawati.
Petromer Trend Corp, suatu kontraktor Amerika, mulai mengeksplorasikan sumber minyak di lapangan Kasim, waktu itu mencapai 70.000 barrel/hari. Selanjutnya perusahaan Phillips Petroleum Company Indonesia menjadi tuan rumah, di pulau Salawati.
Kemudian 1985, Conoco melakukan pengeboran dalam tahap eksplorasi untuk mencari cadangan minyak. Pengeboran sedalam 14.800 kaki atau 4,5kilometer dilakukan di sumur Noordwest-1.
Namun persoalan lubang (hole problems) menghambat log evaluation (metode untuk menganalisa penyebaran cadangan hidrokarbon.
`BLOK WARIM AGIMUKA MIMIKA’
Memasuki era 2000, mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves), Luhut Binsar Pandjaitan membeberkan, pemerintah Indonesia menemukan potensi ‘harta karun’ berupa minyak bumi dengan jumlah potensi cadangan mencapai 27 miliar barrel yang berlokasi di Wilayah Warim, Timika, Papua Tengah.
Meskipun wilayah Agimuga terdapat ladang minyak bumi dengan potensi terbesar di Indonesia diyakini pemerintah berada di Papua.
Blok Warim, nama lapangan minyak itu, telah dilelang pemerintah selama setahun terakhir.
Tak heran kalau warga merasa was-was dengan rencana investasi minyak di Blok Warim, bbc.com melaporkan bahwa warga asli Papua di Distrik Agimuga, Kabupaten Mimika, telah berulang kali menyatakan penolakan terhadap pengembangan Blok Warim.
Peristiwa 1977, yang pernah terjadi di Bumi Amungsa menyimpan banyak peristiwa menyedihkan.
Mama Theresia Pinimet, istri dari mendiang anggota polisi Cosmos Kemong menuturkan saat peristiwa 1977, rumah mereka dibakar, mereka lari menyelamatkan diri dan berjalan kaki ke gunung tinggal di sana sampai keadaan aman.
Bukan hanya itu saja, seorang warga di SP II di Timika, mendiang Demianus Katagame mengingat banyak warga Agimuga mengungsi dan berjalan tiga bulan ke perbatasan negara tetangga Papua Nugini, di Ok Tedi selama setahun.
Tak heran kalau peristiwa 1977 disebut, Komisi Hak Asasi Manusia Asia (HAM) sebagai “genosida yang terabaikan” di Bumi Amungsa kala itu. [GRW]













