
JAKARTA, satukanindonesia.com – BPJS Kesehatan menginformasikan tujuh penyakit kronis berbiaya tinggi (katastropik), yang konsisten menyedot biaya pelayanan kesehatan terbanyak dalam periode 2024-2026.
Tahun 2026, berdasarkan data Agustus, total biaya pelayanan untuk 42,3 juta kasus penyakit katastropik tembus Rp 35,6 triliun.
Tahun 2025, BPJS Kesehatan menanggung lebih dari 60,1 juta kasus penyakit katastropik, dengan total biaya Rp 50,3 triliun. Tahun 2024, BPJS Kesehatan membiayai 52,3 juta kasus penyakit katastropik senilai Rp 52,3 juta.
Berikut rincian pembiayaan empat penyakit katastropik tersebut:
1. Jantung
2024: Rp 14,6 triliun (25,8 juta kasus)
2025: Rp 17,3 triliun (29,8 juta kasus)
s.d Agustus 2026: Rp 12,3 triliun (20,9 juta kasus).
2. Ginjal
2024: Rp 11,5 triliun (10,9 juta kasus)
2025: Rp 13,3 triliun (12,7 juta kasus)
s.d Agustus 2026: Rp 9,5 triliun (9,1 juta kasus).
3. Stroke
2024: Rp 6,1 triliun (8,4 juta kasus)
2025: Rp 7,2 triliun (9,5 juta kasus)
s.d Agustus 2026: Rp 5,2 triliun (6,7 juta kasus).
4. Kanker
2024: Rp 9,1 triliun (6,3 juta kasus)
2025: Rp 10,3 triliun (7,2 juta kasus)
s.d Agustus 2026: Rp 7,1 triliun (5 juta kasus).
5. Thalassemia
2024: Rp 773 miliar (354 ribu kasus)
2025: Rp 852 miliar (398 ribu kasus)
s.d Agustus 2026: Rp 586 miliar (270 ribu kasus).
6. Sirosis Hati
2024: Rp 257 miliar (283 ribu kasus)
2025: Rp 278 miliar (312 ribu kasus)
s.d Agustus 2026: Rp 180 miliar (212 ribu kasus).
7. Hemofilia
2024: Rp 1,04 triliun (90 ribu kasus)
2025: Rp 909 miliar (84 ribu kasus)
s.d Agustus 2026: Rp 593 miliar (54 ribu kasus).
“Angka ini menunjukkan betapa pentingnya Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dalam memberikan perlindungan finansial bagi peserta, saat menghadapi penyakit yang membutuhkan biaya pengobatan besar,” demikian pernyataan BPJS Kesehatan via Instagram resmi yang dikutip, Selasa (20/10/2026).
BPJS Kesehatan mengimbau seluruh masyarakat Indonesia untuk menerapkan pola hidup sehat, rutin beraktivitas fisik, mengkonsumsi makanan bergizi seimbang, dan melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.
Karena kesehatan bukan cuma soal biaya pengobatan yang terjamin, tapi juga tentang menjaga kesempatan untuk terus menikmati hidup bersama orang-orang tersayang. [***/GRW]













