
Jakarta, satukanindonesia.com – Timor Leste akhirnya resmi menjadi anggota ASEAN usai 14 tahun lamanya
Pengukuhan Timor Leste sebagai negara anggota berlangsung pada KTT ASEAN ke-47 di Malaysia.
“Keanggotaan bersejarah Timor-Leste ke dalam ASEAN hari ini memberikan makna baru bagi visi tersebut. Sekali lagi, selamat kepada Presiden Ramos-Horta dan Perdana Menteri Xanana Gusmấo,” kata PM Malaysia Anwar Ibrahim di KTT ASEAN ke-47, dilansir dari Disway.id, Minggu, 26 Oktober 2025.
Anwar menyebut kehadiran Timor Leste akan melengkapi keluarga besar ASEAN. Ia menyebut dengan resminya bergabung ke ASEAN, pembangunan Timor-Leste dan otonomi strategisnya akan mendapat dukungan yang kuat dan berkelanjutan.
“Kehadiran Timor-Leste melengkapi keluarga besar ASEAN, menegaskan kembali takdir bersama dan rasa persaudaraan kawasan yang mendalam. Dalam komunitas ini, pembangunan Timor-Leste dan otonomi strategisnya akan mendapat dukungan yang kuat dan berkelanjutan,” imbuhnya.
Penandatanganan deklarasi ini ditandatangani oleh Presiden Prabowo, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim, Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr, Sultan Brunei Darussalam Hassanal Bolkiah, Perdana Menteri Kamboja Hun Manet, Perdana Menteri Laos Sonexay Siphandone, Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong, Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul, dan Perdana Menteri Vietnam Pham Minh Chinh.
Dengan bergabungnya Timor Leste, ASEAN kini beranggotakan 11 negara, yakni Brunei Darussalam, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand, Vietnam, dan Timor Leste. Keanggotaan baru ini melengkapi representasi geografis Asia Tenggara dalam organisasi yang berdiri sejak 1967 tersebut.
Dikutip dari laman resmi Pemerintah Timor Leste, FRETILIN dan Dewan Nasional Perlawanan Timor Leste kemudian memimpin perlawanan menuju pembebasan wilayahnya dari Indonesia.
Sekitar 250 ribu orang atau sepertiga populasi Timor Leste tewas dalam perang, penggunaan bahasa Portugis dan bahasa Tetun dilarang oleh pemerintah yang pro Indonesia, sampai Soeharto lengser pada 1998.
Presiden baru Indonesia saat itu, BJ Habibie, mengumumkan kesediaan mengadakan referendum otonomi dengan bergabung ke Indonesia atau merdeka. Referendum berlangsung pada 30 Agustus 1999.
78,5% rakyat Timor Timur mendukung kemerdekaan dan menolak otonomi yang diusulkan Indonesia.
Sementara itu, milisi pro-Indonesia dan antikemerdekaan Timor Leste menyerang markas pengamat PBB (UNAMET), disusul dengan gelombang pembunuhan oleh tentara yang tidak sepakat dengan hasil referendum.(***)













