
MALANG, satukanindonesia.com – Untuk menangani dampak kesehatan akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia menyiapkan 360 rumah sakit rujukan.
Pemerintah juga menyiagakan 1.691 puskesmas di wilayah terdampak yang tersebar, di tujuh provinsi prioritas.
Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes, Then Suyanti mengatakan, pemerintah terus memantau penyakit akibat paparan asap karhutla. Penyakit tersebut antara lain infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), pneumonia, asma, serta iritasi mata dan kulit.
“Kita juga melakukan pemantauan penyakit akibat kebakaran hutan ini seperti ISPA, pneumonia, asma, iritasi mata dan kulit. Kemudian juga kita memantau ketersediaan obat maupun BMHP (Bahan Medis Habis Pakai) termasuk alat kesehatan yang diperlukan oleh daerah,”kata Suyanti dalam keterangan pers yang dikutip, Sabtu (24/10/2026).
Tujuh provinsi yang menjadi prioritas penanganan adalah Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sumatera Selatan, Riau, dan Jambi.
Menurut Suyanti, asap karhutla mengandung partikel halus PM2,5, karbon monoksida, nitrogen dioksida, serta senyawa organik lainnya. Paparan zat tersebut dapat memicu gangguan kesehatan, terutama pada kelompok rentan.
Kelompok yang menjadi perhatian meliputi anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, penderita ISPA dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), serta pekerja yang beraktivitas di luar ruangan.
Untuk mengantisipasi dampak kesehatan, Kemenkes berkoordinasi dengan berbagai pihak. Kemenkes juga menerbitkan surat edaran kepada pemerintah daerah, masyarakat di wilayah terdampak, dan fasilitas kesehatan agar menyiapkan langkah penanganan.
“Untuk penyiapan layanan kesehatan tentunya kita cek bagaimana kesiapan pos layanan kesehatan seperti di seluruh puskesmas di wilayah terdampak yaitu ada 1.691 puskesmas yang kita siagakan,”ujar Suyanti.
Selain menyiapkan fasilitas pelayanan, Kemenkes telah memobilisasi bantuan logistik kesehatan. Bantuan tersebut meliputi oksigen, konsentrator, tabung oksigen, dan masker.
Pemerintah daerah juga menyiapkan 491 rumah oksigen di berbagai wilayah. Sementara itu, sebanyak 87 laboratorium kesehatan masyarakat (labkesmas) disiapkan untuk melakukan pengujian kualitas udara.
Kemenkes turut memantau kesiapan sumber daya manusia kesehatan agar penanganan masyarakat terdampak berjalan optimal.
Di tengah ancaman asap karhutla, pemerintah mencatat 333.470 kasus ISPA secara kumulatif pada periode 18 Agustus hingga 21 Oktober 2026. Pada 21 Oktober saja, jumlah kasus ISPA tercatat sebanyak 4.522 kasus.
Kemenkes mengimbau, masyarakat membatasi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara berada pada kategori tidak sehat atau berbahaya. Imbauan ini terutama ditujukan kepada kelompok rentan yang lebih berisiko mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap.
“Apabila kondisinya sangat tidak sehat dan berbahaya, kurangi aktivitas di luar ruangan. Kemudian jangan lupa, apabila harus keluar, menggunakan masker dan jaga hidrasinya. Jadi harus konsumsi air minum yang cukup,”imbau Suyanti.
Masyarakat yang terpaksa beraktivitas di luar ruangan disarankan menggunakan masker dan menjaga kecukupan asupan air minum. Masyarakat juga perlu segera mengakses fasilitas kesehatan apabila mengalami gangguan pernapasan atau keluhan kesehatan lainnya. [***/GRW]













