
JAKARTA, satukanindonesia.com – Mengusung tema “Inovasi Pembangunan Papua Berbasis Etnosains”, Analisis Papua Strategic (APS) akan menggelar Konferensi Internasional Ke-III di Kota Jayapura, Provinsi Papua pada pada 27 – 29 Mei 2026 mendatang.
Konferensi ini merupakan kelanjutan dari komitmen APS untuk terus berkontribusi dalam perumusan kebijakan pembangunan Papua yang kontekstual, berbasis bukti, dan menghormati kearifan lokal masyarakat adat.
Setelah dua konferensi sebelumnya yang menghasilkan rekomendasi strategis bagi pemerintah pusat dan daerah, konferensi ketiga ini mengambil fokus khusus pada bagaimana pengetahuan asli masyarakat Papua (etnosains) dapat diintegrasikan dengan inovasi modern untuk menciptakan model pembangunan yang berkelanjutan dan inklusif.
“Papua memiliki kekayaan sumber daya alam dan juga sistem pengetahuan tradisional yang telah teruji selama berabad-abad dalam mengelola lingkungan, menjaga kesehatan masyarakat, dan mempertahankan kohesi social,”terang Laus Deo Calvin Rumayom founder sekaligus Ketua Umum APS dalam keterangan pers tertulis, Selasa (28/04/2026).
Lelaki kelahiran Biak, Papua ini menambahkan, konferensi ini hadir untuk menjembatani kesenjangan tersebut dengan menghadirkan dialog produktif antara para akademisi, pembuat kebijakan, masyarakat adat, mitra internasional, dan praktisi pembangunan.
Dalam semangat kolaborasi untuk mewujudkan percepatan pembangunan di Tanah Papua, Laus mengajak semua mitra APS di tingkat lokal, nasional dan internasional agar dapat hadir dan berkolaborasi dalam Konferensi III 2026.
“Kami berharap konferensi ini menjadi momentum penting bagi perumusan inovasi dan strategi percepatan pembangunan Papua berbasis etnosains yang lebih adil, bermartabat, dan berpihak pada kepentingan rakyat Papua,”tandasnya.
APS adalah sebuah komunitas profesional global yang menghimpun sejumlah tokoh masyarakat adat, tokoh agama, akademisi, peneliti, birokrat, Kementerian atau Lembaga, MRP, DPD RI, DPR RI, TNI dan POLRI, Diplomat dan NGOs. Visi APS adalah ”Menjadi Jembatan Peradaban Pembangunan Tanah Papua menuju Papua Emas 2041 dan Indonesia Emas 2045”.
`LATAR DAN TUJUAN KONFERENSI’
Papua merupakan sebuah wilayah yang memiliki keunikan tersendiri dalam konteks pembangunan dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah, keragaman budaya yang tinggi, dan posisi geopolitik-geostrategi yang penting.
Papua memerlukan pendekatan pembangunan, yang kontekstual dan berkelanjutan. Kompleksitas tantangan pembangunan di Tanah Papua tidak dapat diselesaikan hanya dengan pendekatan konvensional, yang bersifat top-down dan seragam.
Dalam dua dekade implementasi Otonomi Khusus Papua, berbagai capaian telah diraih, namun juga menyisakan tantangan struktural yang serius gap pembangunan antara wilayah pesisir dan pegunungan, akses terbatas terhadap layanan dasar seperti pendidikan dan kesehatan, serta ketimpangan ekonomi yang masih tinggi.
Di tengah dinamika global, transformasi digital, perubahan iklim, dan transisi menuju ekonomi berkelanjutan, Papua berada pada titik krusial untuk menentukan arah pembangunannya.
Pendekatan pembangunan berbasis etnosains menawarkan alternatif solusi yang menjembatani kearifan lokal dengan inovasi modern. Masyarakat adat Papua telah lama mengembangkan sistem pengetahuan lokal yang adaptif ‘pengelolaan sumber daya alam berbasis ekologi, sistem pertanian tradisional yang berkelanjutan, hingga tata kelola sosial yang menjunjung keadilan.
Sistem pengetahuan ini tidak hanya relevan untuk konteks lokal, tetapi juga memiliki nilai universal dalam menjawab tantangan SDGs.
Panitia penyelenggara menyebut, Konferensi III APS hadir sebagai platform strategis untuk mendialogkan berbagai pemangku kepentingan dalam merumuskan kebijakan pembangunan yang lebih kontekstual.
“Konferensi ini merupakan kelanjutan komitmen APS CDGS (Analysis Papua Strategic Center for Development and Global Studies) untuk menghasilkan kajian berbasis bukti (evidence-based) dan menjadi rujukan pengambil kebijakan dan mampu menciptakan terobosan pembangunan yang inovatif, maju dan siap menyambut Indonesia Emas 2045,”ungkap ketua panitia Richard Patty.
Ia menambahkan, Konferensi III APS dimaksudkan sebagai forum ilmiah dan strategis untuk.
1. Mengintegrasikan kearifan lokal (etnosains) dengan inovasi teknologi modern dalam kerangka pembangunan berkelanjutan.
2. Memfasilitasi dialog multistakeholder antara pemerintah, akademisi, praktisi, tokoh adat, tokoh agama, dan mitra internasional.
3. Mendiseminasikan hasil penelitian dan best practices pembangunan berbasis etnosains, dan keempat, memperkuat jejaring kolaborasi antara institusi akademik, lembaga penelitian, pemerintah daerah, dan organisasi internasional.
Konferensi III APS tersebut, mengusung tujuan spesifik. Pertama, merumuskan rekomendasi kebijakan pembangunan Papua berbasis integrasi etnosains dan inovasi modern (pendidikan, kesehatan, ekonomi, infrastruktur, lingkungan).
Kedua, mengidentifikasi dan mendokumentasikan best practices pengelolaan sumber daya alam berbasis kearifan lokal.
Ketiga, membangun platform kolaborasi riset antara universitas lokal dengan institusi internasional.
Keempat, menghasilkan prosiding konferensi ber-ISBN memuat kajian akademik, policy brief, dan rekomendasi strategis.
Kelima, memperkuat peran institusi keagamaan sebagai mitra strategis pembangunan sosial Papua. [**/GRW]










