
Bengkulu, satukanindonesia.com – Provinsi Bengkulu tengah menghadapi krisis ekologis pesisir yang masif dan membutuhkan perhatian secara khusus. Berdasarkan analisis spasial terbaru yang dirilis oleh Divisi Konservasi Gerakan Pecinta Alam (GPA) Gendong Adventure mengungkap fakta mengejutkan Provinsi Bengkulu telah kehilangan 212,5 hektare hutan mangrove dalam periode lima tahun terakhir (2021–2025).
Untuk memberikan gambaran mengenai skala kerusakan, GPA Gendong Adventure mengkomparasikan angka kehilangan ini dengan ikon sejarah terbesar di Bengkulu, yakni Benteng Marlborough.
Dengan estimasi luas sekitar 4,4 hektare, maka laju kehilangan mangrove 42,5 hektare per tahun setara dengan runtuhnya 10 kompleks Benteng Marlborough setiap tahun.
“Jika kita berkomitmen menjaga cagar budaya seperti Benteng Marlborough, kita tidak boleh abai terhadap kehancuran ‘benteng hijau’ yang melindungi pemukiman warga langsung dari abrasi,” tegas Rendi Dwi Syahputra, Sekretaris Umum GPA Gendong Adventure.
Rendi menekankan bahwa garis pantai Bengkulu yang membentang dari Kabupaten Kaur hingga Mukomuko sangat bergantung pada perlindungan ekosistem pesisir ini.

“Melalui penggunaan Data BIG dan satelit Hansen ini menjadi panduan praktis bagi kita semua—baik warga maupun pemerintah—untuk mulai melakukan aksi nyata pelestarian hutan mangrove guna memastikan keberlanjutan fungsi ekosistem dan melindungi kelestarian kawasan pesisir.,” tambahnya.
Melalui pemodelan data historis, tim konservasi memproyeksikan bahwa tanpa langkah mitigasi yang konkret, Bengkulu berisiko kehilangan lebih dari 400 hektare ekosistem pesisir dalam satu dekade ke depan.
Krisis ini membawa tiga ancaman utama bagi masa depan pesisir Bengkulu yaitu pertama Peningkatan risiko abrasi pantai secara masif yang mengancam pemukiman dan infrastruktur public, kedua Hilangnya sabuk hijau sebagai pelindung alami daratan dari potensi terjangan badai Samudra Hindia, ketiga Kerusakan serius pada kawasan pemijahan ikan (marine nursery habitat) yang akan menurunkan drastis produktivitas tangkapan perikanan lokal.
Merespons urgensi ini, GPA Gendong Adventure tidak sekadar menyajikan data, namun telah memulai aksi restorasi taktis melalui penanaman bibit mangrove di kawasan TWA Pantai Panjang dan Pulau Baai.(Red)













