
Kuba, SatukanIndonesia.com – Parlemen Kuba telah memilih dan melantik Miguel Diaz-Canel sebagai presiden barunya, Kamis (19/04/2018). Pelantikan Miguel mengakhiri pemerintahan lama keluarga Castro hampir 60 tahun.
Sebelumnya, Keluarga Castro merupakan penguasa di Kuba, berawal dari kepemimpinen Fidel Castro, lalu dilanjutkan oleh adiknya, Raul Castro pada tahun 2006. Raul memimpin Kuba karena menggantikan abangnya yang saat itu sakit dan akhirnya meninggal dunia pada 25 November 2016 dalam usia 90 tahun.
Walaupun tidak menduduki jabatan sebagai Presiden, Raul akan tetap mempertahankan kekuasaan setelah ia pensiun , karena ia akan tetap menjadi kepala Partai Komunis sampai kongres berikutnya pada tahun 2021.

Miguel Diaz-Canel adalah seorang birokrat sejati yang kini berusia 57 tahun itu akan mulai bekerja untuk menjamin kelangsungan hidup salah satu negara komunis terakhir di dunia.
Miguel dianggap sebagai anggota Partai Komunis yang setia dan dapat diandalkan dan ditunjuk oleh konstitusi Kuba sebagai “kekuatan penuntun utama masyarakat dan negara”. Mengawali karirnya sebagai insinyur listrik, Miguel terus bekerja dan mengabdi dalam pemerintahan Kuba dan menempati posisinya saat ini dengan cara naik pangkat yang diajukan partai selama tiga dekade terakhir.
Kuba berharap pemerintah Diaz-Canel akan mampu menghidupkan kembali salah satu ekonomi terakhir yang direncanakan secara terpusat ala Soviet di dunia, yang telah gagal untuk memperbaiki di bawah reformasi pasar terbatas yang dilaksanakan oleh Castro.
Salah satu masalah yang harus dihadapi presiden baru adalah dampak dari ambruknya perekonomian sekutu utama Kuba, Venezuela, dan hubungan seperti apa yang diinginkan dengan Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump.
Tahun lalu, misalnya, Trump menerapkan kembali pembatasan perjalanan dan perdagangan yang sempat dilonggarkan oleh pendahulunya, Presiden Obama.
Bagaimanapun pada akhirnya rakyat Kuba yang akan menilai pemimpin barunya, berdasarkan peningkatan kehidupan sehari-harinya.













