
Jakarta, SatukanIndonesia.com – Viral karena berani mengungkapkan adanya dugaan korupsi di lingkungan kerjanya, Sandi menuturkan alasan dibalik keberaniannya melaporkan dugaan korupsi tersebut.
Ia mengatakan, salah satu penyebabnya adalah tuntutan pekerjaan, tapi alat pendukung kerja seperti sepatu tidak cukup aman.
Selain itu, masalah hak-hak remunerasi yang menurutnya tidak adil. Sandi yang merupakan honorer di Damkar Depok sejak Oktober 2015 mengaku honornya dipotong sebesar Rp 200 ribu sejak tahun 2016.
“Kami dituntut bekerja 100 persen. Akan tetapi bisa pikirkan sendiri apakah memberikan layak kepada kami 100 persen hak kami?” ujar Sandi kepada wartawan.
“Dan alat-alat yang untuk mendukung kami bekerja di lapangan,” lanjutnya.
Sementara untuk pengadaan sepatu PDL yang diduga dikorupsi, Sandi menyebut sempat mengecek harganya di e-commerce dan harganya hanya Rp 400 ribu. Sementara di pagu anggaran sebesar Rp 850 ribu.
“Pertamanya, harganya. Harganya pagu anggarannya Rp 850 ribu [per sepatu]. Akan tetapi untuk sepatunya sendiri kadang kita ngecek tidak ada pengamannya,” ungkapnya.
“Bisa cek saja di online. Saya sudah dapat juga, kan, datanya ternyata pagunya sekian harganya. Saya lihat di online dengan gambar yang persis, kualitas yang sama, merek yang sama itu kisaran Rp 400 ribu,” jelasnya.
Sandi mengatakan pembelian sepatu itu dianggarkan pada tahun 2018. Berdasarkan situs https://sirup.lkpp.go.id/, anggaran Dinas Damkar Depok senilai Rp 199.750.000 untuk membeli 235 sepatu.
Usai unggahannya viral, Gedung Kejari Depok dipenuhi karangan bunga dari masyarakat sebagai dukungan kepada Sandi. Kejari Kota Depok pun ikut mengusut dugaan korupsi di Dinas Damkar Depok.
“Ini sebagai bukti masyarakat meminta kami untuk menuntaskan dugaan korupsi pada Dinas Damkar,” kata Kasi Intel Kejari Kota Depok, Herlangga Wisnu Murdianto Herlangga.
Herlangga mengatakan pihaknya sudah memanggil Sandi untuk dimintai keterangan dan sebagai bentuk pengumpulan data dan informasi yang diperlukan. Sandi juga menceritakan seluruh kejanggalannya sebagai bentuk dugaan korupsi Dinas Damkar.
“Sandi kami periksa dengan 35 pertanyaan untuk informasi kami,” ujar Herlangga.
Dukungan juga diberikan pengacara Razman Arif Nasution atau yang dikenal Razman Nasution. Pengacara kondang itu menyatakan siap mendampingi Sandi.
Sandi mengatakan, dukungan dari pengacara Razman Nasution berawal dari rekannya. Sandi mengakui selain Razman beberapa pengacara lainnya menghubunginya untuk memberikan bantuan dukungan dan pendampingan hukum.
“Saya takut kalau hanya dimanfaatkan, namun setelah diajukan Pak [Razman] Arif, teman saya mendukung karena Pak [Razman] Arif terkenal,” ujar Sandi.
Sandi mengatakan sudah berkomunikasi dengan Razman, dan Razman menyatakan kesediaannya memberikan dukungan sebagai pengacara. Barang bukti terkait dugaan korupsi juga sudah diberikan kepada Razman sebagai pelengkap jika kasus tersebut masuk ke pengadilan.
“Barang bukti sudah dikirimkan melalui email karena Pak Razman sedang berada di luar. Jadi komunikasi sekarang melalui telepon dan WA,” tuturnya. (FA/SI).













