
JAYAPURA, satukanindonesia.com – Utusan Khusus West Papua untuk Vanuatu, Morris Kaloran menyampaikan, kekhawatiran atas apa yang ia sebut sebagai kontradiksi yang mengkhawatirkan dalam dukungan pendidikan Indonesia di kawasan tersebut.
Ia mengatakan, meskipun Indonesia terus mempromosikan beasiswa bagi mahasiswa dari Vanuatu untuk belajar di institusi pendidikan Indonesia, banyak mahasiswa West Papua menghadapi kesulitan serius dalam memperoleh atau mempertahankan beasiswa di luar negeri. Demikian dikutip dari www.dailypost.vu, Kamis (9/04/2026).
Sejumlah mahasiswa West Papua dilaporkan kehilangan atau ditolak kesempatan belajar di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, Australia, Selandia Baru, dan Rusia, dengan pemotongan dana disebut sebagai alasan utama.
“Perkembangan ini telah memaksa sebagian mahasiswa untuk menghentikan studi mereka sama sekali, sementara yang lain mencari suaka karena mereka tidak lagi mempercayai pemerintah Indonesia,”kata Kaloran.
Ditambahkannya, situasi tersebut menimbulkan kekhawatiran yang lebih luas tentang keadilan, konsistensi, dan komitmen untuk mendukung pendidikan di seluruh Melanesia dan wilayah Pasifik yang lebih luas.
Indonesia baru-baru ini menawarkan beberapa beasiswa kepada mahasiswa dari Vanuatu, sebagai bagian dari kerja sama bilateral dan upaya diplomasi pendidikan. Program-program ini memungkinkan mahasiswa di Vanuatu untuk menempuh studi di berbagai bidang di universitas-universitas Indonesia, memperkuat hubungan antara kedua negara.
Namun, Kaloran menunjukkan, kontras antara inisiatif-inisiatif ini dan tantangan yang dihadapi oleh siswa-siswa Melanesia pribumi dari West Papua menimbulkan pertanyaan penting tentang kesetaraan dan inklusivitas dalam dukungan pendidikan.
Menggambarkan situasi tersebut sebagai cerminan diskriminasi, yang terus berlanjut terhadap masyarakat adat Melanesia di West Papua. Maka, ia menyerukan, perhatian yang lebih besar terhadap masalah ini.
Ia mendesak, para pemangku kepentingan regional dan internasional untuk mengakui kesulitan yang dihadapi oleh siswa West Papua dan untuk memastikan akses yang adil terhadap kesempatan pendidikan bagi semua. [GRW]












