
JAKARTA, satukanindoneaia.com – Para pemimpin Pasifik akan menyuarakan suara regional yang kuat dan bersatu di Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), di New York pekan ini.
Sesi ke-81 Majelis Umum PBB akan berlangsung pada 21 hingga 28 September 2026, dengan beberapa pemimpin Pasifik dijadwalkan hadir, seperti dikutip dari laman RNZ Pasifik, Senin (21/09/2026).
Dalam sebuah pernyataan, pada akhir pekan lalu, Pacific Islands Forum Secretariat (PIFS) mengatakan, Presiden Palau Surangel Whipps Jr. bersama dengan para pemimpin forum lainnya akan memimpin pertemuan tingkat tinggi Pacific Islands Forum (PIF) di New York.
Mereka akan memajukan prioritas bersama Pasifik yang disepakati oleh para pemimpin Forum pada Pertemuan Pemimpin Forum Kepulauan Pasifik ke-55 di Palau
Sekretariat mengatakan, dialog tahunan para pemimpin PIF dengan sekretaris jenderal PBB António Guterres akan berlangsung pada Jumat, 24 September (Sabtu waktu Selandia Baru).
Dalam pernyataannya, PIFS menyatakan, kehadiran para Pemimpin Forum di UNGA81 menawarkan kesempatan penting untuk memproyeksikan suara regional yang kuat dan bersatu mengenai isu-isu yang menjadi pusat masa depan Pasifik.
Termasuk perubahan iklim, pembangunan berkelanjutan, tata kelola laut, pembiayaan pembangunan, dan ancaman yang semakin meningkat akibat kenaikan permukaan laut.
“Para Pemimpin Forum akan menegaskan pentingnya sistem multilateral yang responsif terhadap prioritas Pasifik dan realitas kehidupan kita.”
Upaya para pemimpin Pasifik untuk mengadvokasi dan memperkuat visibilitas seputar Fasilitas Ketahanan Pasifik (PRF) guna mencapai target US$500 juta pada akhir tahun ini diharapkan menjadi inti dari keterlibatan mereka di Majelis Umum PBB.
“Karya ini sangat tepat waktu karena kawasan ini sedang membangun momentum menuju Pra-COP31 di Fiji dan Tuvalu pada bulan Oktober dan COP31 di Turki pada bulan November,”kata PIFS.
Sekretaris Jenderal PIF, Baron Waqa mengatakan, pesan Forum kepada PBB sudah jelas.
“Tantangan yang dihadapi kawasan kita tidak dapat dipisahkan dari tantangan global yang kita hadapi. Kita harus beralih dari komitmen ke implementasi, dari kerentanan ke ketahanan, dan dari respons yang terfragmentasi ke kemitraan internasional yang lebih kuat dan koheren yang memberikan manfaat bagi rakyat kita.” [***/GRW]













