• Latest
  • Trending
  • All
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Internasional
  • Ragam Info
FRI-WP Demo depan Kedubes Belanda di Jakarta

FRI-WP Demo depan Kedubes Belanda di Jakarta

Agustus 23, 2026
Indonesia-RRT Siapkan Kelompok Kerja Bahas AI dan Transfer Teknologi

Indonesia-RRT Siapkan Kelompok Kerja Bahas AI dan Transfer Teknologi

Agustus 23, 2026
KPK Tetapkan Rektor Unsoed dan 5 Tersangka Lain Dalam Kasus Korupsi PMB

KPK Tetapkan Rektor Unsoed dan 5 Tersangka Lain Dalam Kasus Korupsi PMB

Agustus 23, 2026
ADVERTISEMENT
TNI AL dan Bank Indonesia Salurkan Bantuan Kemanusiaan di Pulau Palue NTT

TNI AL dan Bank Indonesia Salurkan Bantuan Kemanusiaan di Pulau Palue NTT

Agustus 23, 2026
TNI AL dan TLDM Gelar Rapat TPOL PATKOR MALINDO Ke-49 Tahun di Kuala Lumpur

TNI AL dan TLDM Gelar Rapat TPOL PATKOR MALINDO Ke-49 Tahun di Kuala Lumpur

Agustus 23, 2026
Presiden Turun Langsung ke Lokasi Asap, MAUNG Minta Jangan Hanya Seremonial Saja

Presiden Turun Langsung ke Lokasi Asap, MAUNG Minta Jangan Hanya Seremonial Saja

Agustus 23, 2026
Perkuat Kompetensi Jurnalis, SMSI dan RRI Dorong Kolaborasi Media

Perkuat Kompetensi Jurnalis, SMSI dan RRI Dorong Kolaborasi Media

Agustus 23, 2026
Jaga Kenyamanan Ruang Publik, Wali Kota Bekasi Tertibkan PKL Plaza Patriot Chandrabhaga

Jaga Kenyamanan Ruang Publik, Wali Kota Bekasi Tertibkan PKL Plaza Patriot Chandrabhaga

Agustus 23, 2026
Wawali Harris Bobihoe Bersama Warga Bojong Rawalumbu Antusias Semarakan Kemerdekaan

Wawali Harris Bobihoe Bersama Warga Bojong Rawalumbu Antusias Semarakan Kemerdekaan

Agustus 22, 2026
Pengungsi Diberbagai Wilayah di Tanah Papua Butuh Makanan dan Layanan kesehatan

Pengungsi Diberbagai Wilayah di Tanah Papua Butuh Makanan dan Layanan kesehatan

Agustus 22, 2026
DPRD DKI Nilai Raperda Rusun Jadi Hunian Layak dan Aman

DPRD DKI Nilai Raperda Rusun Jadi Hunian Layak dan Aman

Agustus 22, 2026
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Politik
  • Profil
  • Metro
Minggu, Agustus 23, 2026
  • Login
  • Nasional
  • Internasional
  • Politik
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Ragam Info
  • Daerah
  • GALERI SatukanIndonesia.com
  • Infografis
  • Metro
No Result
View All Result
  • Nasional
  • Internasional
  • Politik
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Ragam Info
  • Daerah
  • GALERI SatukanIndonesia.com
  • Infografis
  • Metro
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home Fokus Berita

FRI-WP Demo depan Kedubes Belanda di Jakarta

(Fokus Berita)

Agustus 23, 2026
in Fokus Berita
0
0
SHARES
31
VIEWS
Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp
ADVERTISEMENT
FOTO: Front Rakyat Indonesia untuk West Papua saat demo depan kantor Kedutaan Besar Belanda//GRW-Dok.fri-wp

JAKARTA, satukanindonesia.com – Front Rakyat Indonesia untuk West Papua (FRI-WP) mendesak, Kerajaan Belanda tidak lepas tangan dari persoalan politik Papua yang dinilai masih menyisakan persoalan sejarah hingga saat ini.

Desakan tersebut disampaikan dalam aksi demonstrasi di depan Kedutaan Besar Belanda di Jakarta, pada tanggal 15 Agustus 2026 lalu.

Surya Anta, Juru Bicara FRI-WP mengatakan, Perjanjian New York (New York Agreement) menjadi salah satu bagian penting dalam sejarah politik Papua.

Menurut Surya, Belanda tidak dapat menganggap persoalan Papua telah selesai setelah adanya proses pengalihan administrasi sebagaimana diatur dalam Perjanjian New York.

“Yang mau kita sampaikan kepada pemerintah atau Kerajaan Belanda adalah bahwa mereka melepaskan tanggung jawab. Mereka melepaskan tanggung jawab dan kemudian keadaannya menjadi sangat buruk,”kata Surya dalam orasinya.

Ia menilai, persoalan Papua merupakan bagian dari sejarah politik dan proses dekolonisasi yang hingga kini masih diperdebatkan.

Oleh karena itu, kata dia, Belanda memiliki tanggung jawab moral dan sejarah, untuk tidak mengabaikan persoalan tersebut.

Bahkan, Surya juga menyoroti, ketentuan dalam Perjanjian New York terkait pelaksanaan penentuan nasib sendiri melalui prinsip one man, one vote atau satu orang satu suara.

Dalam pandangannya, ia menegaskan, 1 Mei 1963 tidak tepat disebut sebagai momentum kembalinya Papua ke Indonesia, karena pada saat itu Indonesia menjalankan perwalian administrasi untuk mempersiapkan proses penentuan pendapat mengenai masa depan Papua.

“1 Mei 1963 itu bukan kembali seperti di dalam kesepakatan New York Agreement. 1 Mei 1963 itu Indonesia menjadi perwalian untuk menyelenggarakan dan merealisasikan one man, one vote,”katanya.

Tak hanya itu, sebagai tokoh politik Indonesia untuk West Papua mempertanyakan pelaksanaan Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) 1969. Karena, Surya menilai, proses tersebut tidak dilaksanakan dengan mekanisme one man, one vote sebagaimana yang dipahami FRI-WP dari ketentuan Perjanjian New York.

“Dalam perundingan itu, disepakati bahwa akan ada proses referendum one man, one vote, satu orang satu suara, yang dilakukan hingga akhir 1969,”katanya.

Maka, menurutnya, persoalan tersebut menjadi salah satu alasan FRI-WP terus menyuarakan bahwa sejarah politik Papua belum selesai.

“Masalah sejarah politik belum selesai. Oleh karena itu, Anda tidak bisa lepas tangan. Anda bagian daripada masalah. Anda bagian daripada kenyataan bahwa proses dekolonisasi di Papua belum selesai,”tegas Surya.

Lebih jauh, Surya Anta mengemukakan, persoalan yang dihadapi masyarakat Papua saat ini tidak hanya berkaitan dengan sejarah politik, tetapi juga menyangkut berbagai persoalan lain, seperti dugaan pelanggaran hak asasi manusia (HAM), eksploitasi sumber daya alam (SDA), kerusakan lingkungan dan rasisme.

Untuk itu, Surya meminta, Kerajaan Belanda tidak mengambil posisi seolah-olah persoalan Papua sepenuhnya menjadi urusan Indonesia.

“Belanda jangan berposisi, ‘ini bukan masalah saya’. Kalian adalah bagian daripada masalah,”tegasnya.

Katanya, FRI-WP tidak membandingkan kolonialisme berdasarkan siapa yang menjadi penjajah. Lanjut, menurutnya, setiap bentuk penjajahan tetap membawa dampak terhadap masyarakat dan kebudayaan.

“Kita juga tidak bisa menyebutkan bahwa Belanda lebih baik menjajah daripada Indonesia. Penjajahan adalah penjajahan. Siapapun penjajahnya, penjajahan adalah penjajahan,”ujarnya.

Kata Surya, FRI-WP akan untuk terus mengangkat persoalan sejarah dan politik Papua, sekaligus mendesak pihak-pihak yang terlibat dalam sejarah Papua agar tidak mengabaikan persoalan tersebut. [*/GRW]

ADVERTISEMENT

Komentar Facebook

Tags: Front Rakyat Indonesia untuk West Papua (FRI-WP)Kerajaan Belanda
ShareTweetSend

Related Posts

No Content Available
Load More
ADVERTISEMENT
  • Tentang
  • Periklanan
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak Redaksi
  • Karir

© 2018 SatukanIndonesia.com - Saluran Berita Pemersatu Bangsa

No Result
View All Result
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Politik
  • Profil
  • Metro

© 2018 SatukanIndonesia.com - Saluran Berita Pemersatu Bangsa

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?