
Sentani, satukanindonesia.com – Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) menjadikan dua Puskesmas percontohan uji coba deteksi dini kanker leher rahim atau serviks di Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua dengan pengambilan sampel mandiri metode Human Papillomavirus Deoxyribonucleic Acid atau HPV-DNA diharapkan para perempuan produktif bisa melahirkan generasi-generasi sehat.
Harapan itu disampaikan oleh anggota tim kerja penyakit kanker Direktorat Penyakit Tidak Menular atau PTM Kementerian Kesehatan Republik Indonesia drg Ni Kadek Diah Antari Kurniawati MKes di Puskesmas Harapan, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua, sebagaimana dilansir dari jubi.id, Rabu (22/10/2025).
“Kanker serviks merupakan kanker mematikan nomor dua setelah kanker payudara. Oleh karena itu, deteksi dini kanker serviks ini dilakukan untuk menjaga para wanita yang masih produktif bisa menghasilkan generasi-generasi yang sehat. Ini dasar kita untuk menuju Indonesia Emas 2045,” kata drg Ni Kadek Diah Antari Kurniawati MKes.
Selain itu, melalui deteksi dini tersebut masyarakat Papua diharapkan bisa lebih awareness (sadar) terhadap kesehatan, khususnya kesehatan reproduksi bagi wanita berusia 30 – 69 tahun yang rentan terhadap kanker serviks.
Sementara itu, anggota tim lainnya, dr Aneke Theresia Kapoh M.Epid menjelaskan, metode HPV-DNA ini telah diujicobakan sejak 2023. Pada tahun ini, terdapat 200 kabupaten/kota di seluruh Indonesia, termasuk salah satunya Papua.
dr Aneke menjelaskan lokus uji coba self-sampling HPV DNA ini ditentukan dari Dinas Provinsi Papua, yakni Puskesmas Sentani dan Harapan di Kabupaten Jayapura menjadi percontohan.
Ia menjelaskan deteksi dini ini supaya pengobatannya bisa lebih awal sehingga meningkatkan angka harapan hidup.
“Ketika [infeksi virus HPV] terdeteksi lebih awal, bisa diterapi dini tentunya harapan hidupnya bisa lebih baik. Karena, dari hasil data yang ada bahwa ditemukan umumnya [sebagian besar] fase kanker sudah stadium lanjut sehingga harapan hidup rendah,” katanya.
HPV merupakan virus yang menyebabkan kanker serviks. Jika hasilnya dinyatakan positif terinfeksi virus HPV, masyarakat diimbau tidak perlu panik. Tetapi, harus tetap ditindaklanjuti karena apabila virus ini terus menyerang dinding mulut rahim, maka lama-kelamaan akan mengganggu pertumbuhan sel. Hal itulah bisa jadi penyebab kanker serviks.
“Jadi, sebenernya kalau positif HPV bukan berarti sudah kanker. Tapi dari situ petugas akan menindaklanjuti. Namanya virus sama seperti virus lainnya berkaitan dengan imunitas. Jadi, kita bisa sembuh kalau imunitasnya bagus,” katanya. (***)











