
MANOKWARI, SatukanIndonesia.com – Negara Kepulauan Solomon mewakili negara-negara Kepulauan Pasifik pada Konferensi Perikanan Indo-Pasifik ke-12 (IPFC12) yang diselenggarakan bersama dengan Pertemuan Tahunan Masyarakat Iktiologi Asia (ASI) di Taipei, Taiwan. Pertemuan ini telah berlangsung pekan lalu, dari 9–13 Juni 2025.
Konferensi bersama yang menggabungkan dua acara bergengsi ini diselenggarakan di Universitas Nasional Taiwan dan Kebun Binatang Taipei. Demikian dikutip dari laman internet www.solomonstarnews.com, Selasa (17/06/2025).
Ilmuwan perikanan dari seluruh dunia berbagi penelitian mereka tentang sistematika dan ekologi ikan Asia dan Indo-Pasifik, termasuk topik seperti evolusi, biogeografi, taksonomi, ekologi, biologi, perikanan berkelanjutan, dan konservasi.
Konferensi ini juga menyediakan, kesempatan luar biasa bagi ilmuwan perikanan untuk berbagi hasil penelitian terbaru mereka, mengembangkan kolaborasi, dan mempromosikan penelitian.
David Boseto adalah seorang peneliti yang dikenal karena karyanya tentang ikan air tawar di kawasan Indo-Pasifik, khususnya di kawasan Pasifik.
Penelitiannya yang sering melibatkan taksonomi, keanekaragaman hayati, dan konservasi spesies ini, saat ini sedang menghadiri konferensi dan memberikan presentasi pada sesi khusus tentang “ikan diadromous.”
Diadromous adalah istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan ikan yang bermigrasi antara air tawar dan air laut untuk menyelesaikan siklus hidupnya. Jadi, ikan diadromous menghabiskan sebagian hidupnya di air tawar dan sebagian lagi di air asin.
Ada dua jenis utama ikan diadromous. Pertama, anadromous, yaitu ikan yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di laut, tetapi kembali ke air tawar untuk bertelur (misalnya, salmon). Kedua, katadromous, yaitu ikan yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di air tawar, tetapi kembali ke laut untuk bertelur (misalnya, belut).
Selain itu, ada juga jenis ikan diadromous lain yang disebut amphidromous, yang bermigrasi antara air tawar dan air laut tetapi bukan untuk tujuan berkembang biak.
Presentasi Boseto didasarkan pada karya terkini yang dilakukan timnya di Ecological Solutions, Kepulauan Solomon, saat ini bersama Southern Waters di Afrika Selatan dan DDA Consulting International di Pulau Guadalcanal.
Presentasi tersebut menyoroti pentingnya spesies ikan diadromous dari dua sungai besar di Guadalcanal, Kepulauan Solomon, serta pentingnya mendokumentasikan spesies ini dan memahami sejarah hidup mereka di sepanjang sungai yang berbeda.
Ikan diadromous berarti ikan yang berpindah antara sungai dan laut sebagai bagian dari siklus hidupnya.
Studi ini penting untuk konservasi, tetapi pada saat yang sama menyoroti pentingnya memahami pergerakan ikan di sungai yang mengalir bebas dan sungai dengan penghalang terhadap pergerakan ikan.
Penting untuk memahami siklus hidup ikan dan pergerakannya guna merancang jalur ikan yang tepat dalam setiap penghalang yang dibangun di sungai untuk menjaga keanekaragaman hayati dan populasi ikan.
“Saya senang bisa hadir di konferensi ini karena saya bisa belajar banyak dan mendapatkan kontak baru dengan para ilmuwan perikanan dari Jepang, Thailand, Indonesia, Taiwan, Hong Kong, Vietnam, dan Australia yang mempresentasikan hasil penelitian mereka tentang pergerakan ikan, siklus hidup, dan keanekaragaman hayati di sungai-sungai yang dibendung,”ungkap Boseto.
Ia juga mengucapkan, terima kasih kepada Bank Pembangunan Asia (ADB) di bawah TA-10135 SOL: Pengembangan Kapasitas untuk Pengelolaan Sungai Berkelanjutan atas pendanaan penelitian, serta kepada kolaborator penelitiannya dari Société Française d’Ichtyologie atas pendanaan perjalanannya untuk menghadiri Konferensi IPFC12. [**/GRW]












