
Surabaya, SatukanIndonesia.Com – Ketua DPRD Jatim, Kusnadi menerima audiensi pegiat budaya yang tergabung dalam Lembaga Pelindung dan Pelestari Budaya Nusantara (LP2BN). Kesempatan audiensi ditengah padatnya acara Kusnadi ini dihelat di Ruang Badan Musyawarah (Banmus) DPRD Jatim, Kamis (11/5/23).
Dalam kesempatan tersebut Ketua LP2BN menyatakan bahwa kehadirannya bersama beberapa pengurus Kabupaten/Kota di Jatim untuk menyampaikan 3 hal. Ketiga hal tersebut adalah Persiapan Kirab Tumpeng Agung Ke-XII dan dorongan realisasi Perda tentang Lembaga Adat Desa.
Untuk Kirab Tumpeng Agung Ke-XII akan diisi dengan rangkaian acara diantaranya Festival Barong Ketua DPRD Jatim, sarasehan budaya seni jaranan dan pameran UMKM.
Puncak rangkaian ini adalah kirab yang akan diselenggarakan pada 27 Juni mendatang di Penataran.
Sementara itu terkait dengan Perda Lembaga Adat Desa, Aris Sugito menyatakan adanya perda diharapkan akan menjadi payung hukum bagi upaya perlindungan dan pelestarian budaya di Jatim. Dalam proses ini mereka akan menggandeng akademisi.
Menanggapi hal tersebut, Ketua DPRD Jatim Kusnadi menyatakan bahwa urip iku urup. Artinya, hidup itu harus bisa bermanfaat bagi orang lain. Jadi apa yang dilakukan oleh LP2BN itu adalah sangat bermanfaat bagi bangsa utamanya agar para generasi penerus bangsa ini tidak tercerabut dari akar budayanya.

Politikus senior Jawa Timur asal PDI Perjuangan ini juga mengakui melindungi dan melestarikan budaya itu tidaklah mudah. Oleh karena itu para seniman dan pemerhati budaya harus bisa menyesuaikan dengan perkembangan zaman agar generasi muda bisa lebih mengenal, lalu tertarik dan mencintai budaya nusantara.
Namun di sisi lain, Kusnadi berharap pakem atau tetap dari budaya seni itu jangan sampai dihilangkan. Karenanya generasi muda perlu dikenalkan perbedaan seni tradisional dan seni kontemporer yang merupakan inovasi atau pengembangan dari seni seni tradisional disesuaikan dengan perkembangan zaman.
“Seni itu memiliki banyak nilai dan tujuan, ada yang bersifat spiritual, budaya (estetika dan hiburan) serta nilai ekonomis. Walaupun kita semua butuh uang tapi seniman harusnya tak boleh meninggalkan akar budaya,” ungkap Kusnadi
Ia berharap, Blitar ke depan bukan hanya dikenal karena memiliki ikon makam Sang Proklamator Bung Karno dan festival Barong yang menasional. Tetapi juga bisa menjadi ikon Candi Negera yakni Candi Penataran.
“Pancasila, Bhineka Tunggal Ika hingga Merah Putih itu tak bisa lepas dari sejarah Kerajaan Majapahit. Dan berdirinya Majapahit tak bisa lepas dari Candi Penataran. Karena itu Candi Penataran layak dijadikan sebagai ikon Candi Negara,” pungkas Kusnadi. (Yos/Redaksi)













