
JAKARTA, satukanindonesia.com – Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, Nany Afrida mengingatkan sekaligus berefleksi mengenai titik mula AJI organisasi yang lahir dari sebuah keberanian.
Menurutnya, keberanian untuk mengatakan bahwa pers tidak boleh menjadi alat kekuasaan. Bahwa jurnalis bukan corong pemerintah.
“Kalau londo ireng dimaksudkan untuk mengatakan jurnalis adalah pengkhianat karena tidak mengikuti keinginan penguasa, maka saya akan mengatakan: ya, kita londo ireng,”kata Nany dalam keterangan tertulis yang diterima, Rabu (12/08/2026).
Dia mengatakan, jika label yang ditujukan kepada jurnalis, termasuk sebutan ‘londo ireng’, ‘tidak punya otak’, dan ‘kawanan sirkus’.
Menurut dia, jurnalis tidak bekerja berdasarkan keinginan penguasa, melainkan berdasarkan fakta, kepentingan publik dan kode etik jurnalistik.
“Kalau pertanyaan kritis disebut pengkhianatan, maka mungkin persoalannya bukan pada jurnalis yang bertanya,” katanya.
Nany juga menyinggung, anggapan bahwa jurnalis tidak memiliki otak karena tetap bertahan di tengah berbagai risiko profesi.
Menurutnya, setelah menghadapi tekanan, ancaman, kekerasan dan ketidakpastian ekonomi, masih banyak jurnalis yang memilih bertahan dan menjalankan tugasnya.
“Kami tetap memilih jadi jurnalis. Masih membuka laptop, masih memeriksa dokumen, masih menulis ketika menulis itu tidak selalu aman,”katanya.
Ketua AJI Indonesia itu menegaskan, keberanian dan integritas menjadi modal penting bagi jurnalis dalam mempertahankan profesinya.
“Kalau memilih profesi ini dianggap keadaan tidak punya otak, biarlah kami tidak punya otak. Tapi kami punya nurani, kami punya integritas, dan yang paling penting: kita punya keberanian,”tegas Nany.
Terkait sebutan “kawanan sirkus”, Nany mengatakan, AJI justru bangga dengan solidaritas antarsesama jurnalis. Sebab, organisasi profesi dibutuhkan agar jurnalis tidak menghadapi intimidasi, kekerasan maupun kriminalisasi seorang diri.
“Kami memang berkumpul. Kami berkumpul ketika seorang jurnalis diserang. Kami berkumpul ketika media diintimidasi. Kami berkumpul ketika seorang jurnalis menghadapi kriminalisasi,”ujarnya.
Nany menyebut, solidaritas tersebut menjadi kekuatan jurnalis dalam menghadapi tekanan.
“Kalau solidaritas dianggap sebagai kawanan, maka ya, kami ini kawanan. Kawanan yang berdiri ketika salah satu anggotanya jatuh. Kawanan yang tidak akan pernah meninggalkan siapa pun sendirian menghadapi kekuasaan,”katanya.
Memasuki usia 32 tahun, Nany mengingatkan, perjuangan mempertahankan demokrasi dan kebebasan pers belum selesai. Menurutnya, kebebasan pers tidak boleh dianggap sebagai sesuatu yang permanen meskipun Indonesia telah memasuki era Reformasi.
Nany mengakui banyak jurnalis saat ini menghadapi kelelahan, frustrasi, ketakutan hingga ketidakpastian mengenai masa depan profesinya.
Namun, ia meminta kondisi tersebut tidak membuat jurnalis kehilangan keyakinan terhadap prinsip-prinsip jurnalistik.
“Kita tidak harus menjadi jurnalis yang sempurna, tapi kita harus menjadi jurnalis yang berani mempertahankan prinsip,”ujarnya.
Dia juga meminta seluruh anggota AJI memperkuat solidaritas terhadap jurnalis yang kehilangan pekerjaan maupun mengalami kekerasan.
Dia meminta agar tidak ada seorangpun jurnalis kehilangan pekerjaan, mengalami kekerasan, dan di saat yang sama merasa sendirian.
“Itulah fungsi AJI. Itulah fungsi organisasi kita,”kata Nany.
Nany menegaskan, martabat jurnalis ditentukan oleh keberanian untuk tetap bekerja secara independen. Kebebasan pers bukan hadiah untuk jurnalis. Kebebasan pers adalah hak publik, jurnalis hanya menjalankan mandat tersebut.
Nany mengingatkan, pemerintah bahwa kritik dan kerja jurnalistik tidak seharusnya dipandang sebagai ancaman. Jurnalis bukan musuh negara. Jurnalis bukan makar. Kritik bukanlah hal yang berat, pertanyaan bukanlah penghinaan, investigasi bukanlah provokasi.
Menurutnya, berita yang tidak menyenangkan pemerintah tidak serta-merta berarti berita tersebut salah.
Justru, kata dia, demokrasi diuji ketika kekuasaan mampu mendengar sesuatu yang tidak ingin didengarnya. “Sebagai perisai terakhir demokrasi, itu adalah tugas jurnalis,”kata Nany. [GRW]













