
Jakarta, SatukanIndonesia.com – Posko Perjuangan Rakyat (Pospera) melaporkan Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga ke Bareskrim Polri atas tuduhan pencemaran nama baik. Pasalnya, Arya sempat berpandangan di WhatsApp Group (WAG) bahwa BUMN merugi saat anggota Pospera menduduki jabatan komisaris.
“Posko Perjuangan Rakyat, dalam hal ini merasa sangat dirugikan, dicemarkan nama baik, kehormatan organisasi, maka, mau tidak mau kami harus melaporkan atas tindakan yang tidak bertanggung jawab, atas fitnah yang dilakukan oleh Jubir Kementerian BUMN, Staf Khusus Kementerian BUMN, dalam hal ini Arya Sinulingga,” kata Ketua Umum DPP Pospera Indonesia Mustar Bona Ventura di Gedung Bareskrim Polri, Senin (16/11).
Sementara berdasarkan penelusuran CNNIndonesia.com, ada enam orang anggota Pospera yang menduduki jabatan komisaris di BUMN. Mereka adalah Mustar Bonaventura sebagai Komisaris PT Dahana (Persero) dan Fendy Eventius Mugni sebagai Komisaris PT Hotel Indonesia Natour (Persero).
Lalu, Marajohan Budiman Napitupulu sebagai Komisaris PT Yodya Karya (Persero) dan Katno Rizki sebagai Komisaris PT Industri Kapal Indonesia (Persero). Kemudian, Yervis M Pakan sebagai Komisaris PT Barata Indonesia (Persero) dan Ranto Roy Rogers Simanjuntak sebagai Komisaris Independen PT Perikanan Nusantara (Persero) atau Perinus.
Lantas bagaimana kinerja masing-masing perusahaan pelat merah ketika para anggota Pospera mengisi struktur komisaris perusahaan? Berikut hasil penelusuran redaksi.
1. Dahana
Perusahaan negara yang bergerak di bidang layanan bahan peledak terintegrasi untuk sektor minyak & gas, pertambangan, konstruksi, dan pertahanan ini mencatatkan penurunan laba bersih pada akhir tahun lalu. Tercatat laba hanya mencapai Rp74,09 miliar dari sebelumnya Rp133,96 miliar pada 2018.
Padahal, laba perusahaan tengah menanjak dari sebelumnya Rp82,09 miliar pada 2016. Lalu, naik menjadi Rp125,25 miliar pada 2017. Begitu juga pada 2018 hingga akhirnya ‘terjung payung’ pada 2019.
Penurunan laba terjadi karena beberapa beban perusahaan bertambah. Tambahan itu antara lain, beban manajemen naik dari Rp30,46 miliar menjadi Rp31,2 miliar. Lalu, beban administrasi dan umum juga naik dari Rp92,49 miliar menjadi Rp101,43 miliar.
Totalnya beban usaha naik dari Rp147,04 miliar menjadi Rp167,72 miliar. Sementara pendapatan usaha cuma naik tipis dari Rp1,982 triliun menjadi Rp1,989 triliun.
2. Hotel Indonesia Natour
Perusahaan mencatatkan laba bersih yang belum diaudit sebanyak Rp50,8 miliar pada akhir 2019. Laba perusahaan yang bergerak di bidang penyediaan akomodasi, makanan dan minuman ini tercatat meningkat dari Rp17,4 miliar pada 2018.
HIN berhasil mempertahankan laba bersih di tren positif dalam tiga tahun terakhir sejak 2017 dengan laba Rp9,1 juta. Sebelumnya, perusahaan kerap merugi, misalnya pada 2015 rugi Rp113,5 miliar dan 2016 rugi Rp92,2 miliar.
Tren laba positif berhasil dijaga karena pendapatan perusahaan naik dari Rp698,7 miliar menjadi Rp726,4 miliar pada periode yang sama. Pendapatan usaha meningkat karena kenaikan okupansi atau tingkat keterisian kamar hotel dan lainnya.
Di sisi lain, tren keuangan positif juga didukung oleh optimalisasi pengelolaan aset sesuai skala prioritas yang sudah dirancang perusahaan. Misalnya, aset di Kelapa Gading, Semarang, Sukabumi, dan Yogyakarta.
3. Yodya Karya
BUMN yang bergerak dalam jasa konsultan teknik dan manajemen ini mencatatkan laba bersih sebesar Rp6,37 miliar pada 2019. Torehan laba itu merupakan yang terendah dalam lima tahun terakhir.
Tercatat, laba mencapai Rp18,43 miliar pada 2015, lalu naik menjadi Rp21,5 miliar pada 2016. Kemudian, laba meningkat lagi menjadi Rp24,23 miliar pada 2017 dan puncaknya mencapai Rp122,09 miliar pada 2018.
Namun, pada tahun lalu justru anjlok. Hal ini terjadi karena pendapatan usaha merosot hampir setengahnya dari 2018. Pendapatan usaha cuma Rp243,5 miliar dari sebelumnya Rp518,06 miliar.
Selain itu juga digunakan untuk pelunasan utang perusahaan. Hal ini tercermin dari posisi liabilitas perusahaan yang turun dari Rp274,29 miliar menjadi Rp240,67 miliar pada 2019.
4. Industri Kapal Indonesia
Berdasarkan penelusuran redaksi, tidak ada laporan keuangan resmi yang dipublikasikan perusahaan di situs resmi mereka. Data terakhir mencatat perusahaan mengantongi laba bersih sebesar Rp8,62 miliar pada 2013. Jumlahnya meningkat dari Rp2,76 miliar pada 2012.
Namun setelah itu, tidak diketahui seperti apa kinerja keuangan perusahaan. Laba bersih didapat dari pendapatan usaha yang naik dari Rp50,42 miliar menjadi Rp66,53 miliar.
Jumlah pendapatan masih lebih tinggi dari beban, meski meningkat. Tercatat, beban pokok melonjak dari Rp31,76 miliar menjadi Rp41,58 miliar pada periode tersebut.
5. Barata Indonesia
BUMN yang memiliki bisnis makanan dan minuman, energi, air, dan permesinan ini mencatatkan laba bersih sebesar Rp67,8 miliar pada 2018. Laba perusahaan naik dari tahun-tahun sebelumnya.
Tercatat, laba sebesar Rp51,61 miliar pada 2017, Rp20,25 miliar pada 2016, Rp12,54 miliar pada 2015, dan rugi Rp96,56 miliar pada 2014.
Laba bersih berasal dari pendapatan usaha yang meningkat dua kali lipat, yaitu dari Rp1,19 triliun menjadi Rp2,17 triliun. Sementara beban keuangan turun separuhnya dari Rp10,04 miliar menjadi Rp5,27 miliar.
6. Perinus
Perusahaan pelat merah di bidang perikanan ini mengantongi pendapatan sebesar Rp1 triliun pada 2018. Torehannya meningkat dari Rp600 miliar pada 2017.
Hal ini membuat laba bersih perusahaan naik dari Rp7,98 miliar menjadi Rp27 miliar pada periode yang sama. Sayangnya, tidak diketahui berapa posisi pendapatan dan laba perusahaan secara rinci pada 2019 lalu.
Perinus pernah menyatakan bahwa peningkatan pendapatan berasal dari kenaikan pendapatan di sektor pelabuhan, budidaya ikan, hingga perdagangan.













