
Jakarta, satukanindonesia.com – Pemerintah Indonesia menyatakan kesiapannya untuk memfasilitasi dan menjadi tuan rumah bagi dialog inklusif antara pihak-pihak yang berkonflik di Myanmar.
Langkah diplomasi itu diambil sebagai wujud nyata dukungan konkret Indonesia dalam mendorong terciptanya perdamaian dan rekonsiliasi nasional yang berkelanjutan di negara Asia Tenggara tersebut.
Hal itu disampaikan Menteri Luar Negeri (Menlu) RI, Sugiono, seusai menghadiri pertemuan Komisi Bersama Kerja Sama Bilateral (JCBC) ke-6 antara Indonesia dan Vietnam, dilansir dari infopublik, Selasa (14/7/2026).
Sugiono menegaskan, posisi Indonesia yang netral dan aktif dalam diplomasi kawasan membuat Indonesia menjadi representasi yang dapat diterima dengan baik, oleh seluruh pemangku kepentingan yang terlibat dalam krisis Myanmar.
Indonesia menilai dialog nasional yang melibatkan semua pihak merupakan kunci utama yang tidak dapat ditawar untuk mengakhiri perang saudara.
Sugiono juga menyoroti pentingnya pembentukan mekanisme turunan dalam tubuh ASEAN untuk mengukur kemajuan implementasi Konsensus Lima Poin (5PC) secara lebih konkret.
Ia mencontohkan, ASEAN perlu menetapkan parameter yang jelas mengenai penghentian kekerasan, apakah cakupannya harus berlaku di setiap titik konflik lokal atau mencakup wilayah secara nasional demi memenuhi syarat pemulihan kondisi. “Kami siap kalau Indonesia akan dijadikan tuan rumah. Saya kira Indonesia juga lebih bisa diterima untuk posisi tersebut,” ujar Sugiono.
Meskipun menyadari bahwa kompleksitas situasi di Myanmar membutuhkan waktu yang tidak singkat untuk diselesaikan, Sugiono menegaskan bahwa 5PC tetap menjadi acuan utama ASEAN.
Acuan tersebut berfokus pada tiga aspek krusial, yakni penghentian kekerasan segera, pembukaan dialog inklusif, serta penyediaan bantuan kemanusiaan yang aman tanpa diskriminasi. “Dialog nasional yang inklusif dan melibatkan seluruh pemangku kepentingan adalah kunci menuju perdamaian dan rekonsiliasi nasional yang berkelanjutan,” ujar Menlu RI. (***)













