
Jakarta, SatukanIndonesia.com – Tak dapat dipungkiri jika di masa pandemi Covid-19, para pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) menjadi salah satu yang paling terdampak.
Menanti kebijakan pemerintah untuk melindungi para pelaku UMKM di tengah Pandemi ini,
Kelompok pekerja informal dan UMKM yang tergabung dalam Forum Organisasi Usaha Rakyat Kecil UMKM-Informal Nusantara atau Forum Urkantara ini, curhat mengenai kondisi dunia usaha di tengah pandemi COVID-19 dengan mengirim surat kepada Presiden Jokowi.
Surat terbuka itu mendesak Jokowi melindungi rakyat kecil hingga memenuhi kebutuhan pokok. Puluhan juta UMKM terancam mengalami kebangkrutan bila tak jua diperhatikan.
Sektor ritel pun mengaku mengalami kondisi yang serupa. Tiap harinya satu sampai 2 ritel gulung tikar. Berikut rangkumannya:
Baca Juga: BPBD Serdang Begadai Lakukan Pendataan di Wilayah Terdampak Angin Kencang
Puluhan Juta Usaha Bangkrut
Forum Urkantara menyebut lonjakan pandemi COVID-19 bukan hanya mengancam keselamatan jiwa rakyat, tetapi juga membuat UMKM gulung tikar. Setidaknya 60 persen usaha di sektor informal berada di ambang keterpurukan keuangan.
Mengutip data Kemenkop UKM, jumlah UMKM di Indonesia per 2020 sebanyak 64 juta. Jika 60 persennya dinyatakan bangkrut, maka itu mencakup 38,4 juta unit usaha. Jumlah tersebut belum termasuk yang di sektor informal.
“Mendesak Presiden RI melindungi keselamatan jiwa rakyat, memenuhi kebutuhan pokok rakyat, melindungi serta memberikan stimulus dan insentif ekonomi usaha rakyat kecil UMKM-informal, serta mengambil tongkat komando dan merombak totalitas tim penanganan pandemi COVID-19,” bunyi tuntutan yang mereka layangkan pada Jokowi.
Baca Juga: Pesan Jokowi di Hari Anak 2021: Tetap Semangat Belajar dan Bermain di Rumah, Teruslah Bergembira
Tiap Hari, 1 hingga 2 Ritel Tutup Akibat Pandemi
Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) mengungkapkan, ada lebih dari 1.500 toko ritel gulung tikar sejak merebaknya pandemi COVID-19 hingga penerapan PPKM Darurat.
Ketua Aprindo Roy Mandey menyebut, sepanjang tahun lalu sekitar 1.300 toko swalayan terpaksa tutup akibat beban operasional yang membengkak. Bahkan, menurutnya setiap hari ada 1-2 toko ritel tutup.













