
Jakarta, SatukanIndonesia.com – Koordinator RSD Wisma Atlet, Mayjen TNI Tugas Ratmono menyampaikan Rumah Sakit Darurat (RSD) Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta Pusat tidak lagi menerima pasien terinfeksi Covid-19 tanpa gejala. Rencananya, tower 8 dan 9 yang berada di Pademangan, Jakarta Utara akan dijadikan tempat isolasi khusus bagi pasien tanpa gejala.
“Kemarin dalam suatu rapat sudah ditentukan, nantinya kita fokuskan OTG di tower 8 dan 9 Pademangan, yang bergejala di RSD Wisma Atlet tower 4, 5, 6, 7. Langkah itu akan dilakukan kalau keterisian di atas 80 persen,” kata Tugas Ratmono saat menghadiri talkshow di Gedung BNPB, Jakarta Timur, Rabu (23/12/2020).
Tugas menjelaskan, saat ini tingkat keterisian tempat tidur atau bed occupanlcy rate (BOR) di Tower 5 di RSD Wisma Atlet sudah hampir 70 persen. Angka tersebut telah melebihi aturan WHO yang hanya memperbolehkan sampai 60 persen. Sementara itu, Tower 4, 6, dan 7 rata-rata sudah terisi 75 persen.
Atas dasar inilah, pihaknya memutuskan untuk menyetop layanan pasien OTG di empat tower RSD Wisma Atlet Kemayoran. Selain itu, lanjut Tugas, kebijkan tersebut dilakukan agar tenaga kesehatan bisa tetap memberikan pelayanan yang terbaik kepada pasien OTG.
“Saat ini Tower 5 kapasitasnya 69,87 persen, jadi ini masih ada 400 bed lebih yang bisa menampung. Ini kita terus pantau dengan tower 8, sehingga tower OTG ini betul-betul optimal dalam memberikan pelayanan kepada pasien,” ujarnya.
Lebih lanjut lagi, Tugas menegaskan bahwa sebenarnya RSD Wisma Atlet bukanlah tidak menerima pasien Covid-19 tanpa gejala. Sebab, kata Tugas, pihaknya masih menerima namun secara bergantian dengan tower 8 di Pademangan.
“Kita bergantian dengan tower 8 yang di Pademangan. Kalau tower 8 sudah meningkat maka disetop (menerima pasien), kemudian kami mengisi lagi (di tower 5). Nah kalau meningkat lagi di tower 5, kita setop. Masuk ke tower 8,” ujarnya.
“Koordinasi ini sangat bagus, jadi artinya bukan tidak terima (pasien) sama sekali, tapi begiliran. Mudah-mudahan jadi suatu langkah yang,baik,” tegasnya.
Tugas membeberkan alasan mengapa hanya satu tower saja di Wisma Atlet yang digunakan untuk merawat pasien OTG. Menurutnya, para tenaga kesehatan di Wisma Atlet bisa mengalami kelelahan dan stres jika merawat terlalu banyak pasien Covid-19.
“Karena dengan meningkatnya pasien sampai 80 persen, pasti akan memberikan volume pekerjaan yang tinggi, kelelahan, dan stres yang sangat tinggi,” ujarnya.
Dia mengaku khawatir dengan tenaga kesehatan di Indonesia, bila keterisian Wisma Atlet betul-betul mencapai 80 persen atau lebih. Untuk itu, dia berharap masyarakat Indonesia tetap melindungi diri agar tidak tertular Covid-19. Sebab, kata dia, garda terdepan dalam melawan virus Corona adalah masyarakat. Bukanlah tenaga kesehatan. Tenaga kesehatan merupakan garda terakhir.
“Jumlah (pasien) yang masuk tidak proporsional dengan jumlah tenaga kesehatan, nanti akan kewalahan. Kami di jajaran fasilitas kesehatan telah meningkatkan kualitas, namun ini (jumlah pasien) tetap ada batasnya,” ujarnya.
“Mari bersama-sama memahami bahwa masyarakat garda terdepan, jangan sampai tertular Covid-19,” tutupnya. (*)













