
Batam, SatukanIndonesia.com – Beberapa bulan terakhir dunia internasional sedang ramai dengan pemberitaan perang yang terjadi antara Israel-Palestina yang berakhir dengan banyaknya korban sipil berjatuhan.
Menarik jika melihat judul pemberitaan yang menyebutkan bahwa perang yang terjadi adalah antara Israel-Palestina, karena pada faktanya perang yang terjadi adalah pertikaian antara Israel dengan Hamas yang merupakan kelompok militan Palestina di Gaza.
Presiden Palestina sendiri Mahmoed Abbas tidak pernah menyatakan perang terhadap Israel dan tidak ada satupun tentara Palestina di wilayah Tepi Barat yang menyerang/melontarkan rudal ke wilayah Israel.
Hal ini dipertegas jika kita melihat pemberitaan dari detik.com yang berjudul “Biden Telepon Mahmoud Abbas, Minta Hamas Setop Serangan Roket ke Israel”. Jika melihat isi berita tersebut, Presiden Amerika Serikat, Joe Biden meminta Mahmoud Abbas untuk menekan Hamas agar berhenti menembakkan roket ke Israel.
Tidak ada maksud untuk membela salah satu pihak yang bertikai, namun ada baiknya kita mengetahui fakta yang sebenarnya terjadi adalah perang antara Israel dengan Hamas. Warga Palestina yang menjadi korban di Jalur Gaza akibat perang yang terjadi menurut saya hanyalah umpan untuk menarik simpati publik terhadap perang yang terjadi.
Dengan menggembar gemborkan kepada dunia Internasional bagaimana banyaknya warga Palestina yang menjadi korban perang tersebut, justru akan memberikan keuntungan tersendiri bagi kelompok Hamas, bagaimana bentuk keuntungan tersebut, salah satunya adalah banyaknya dukungan mengalir untuk kelompok Hamas mengatasnamakan Palestina.
Apakah Agama Penyebab Pecahnya Perang Israel-Hamas?
Sudah banyak media di Internet yang membahas bagaimana sejarah panjang awal mula konflik ini terjadi. Silahkan kita membaca tulisan dengan kata kunci “Sheikh Jarrah : Awal Konflik Israel – Hamas Tahun 2021”.
Tulisan ini akan memaparkan sejarah panjang tentang pertikaian yang sebenarnya terjadi, namun anehnya tidak ada satupun dari pertikaian tersebut yang menyinggung tentang masalah keagamaan. Hanya sebatas kepentingan perebutan tanah.
Sangat aneh melihat masyarakat justru menyimpulkan sendiri bahwa konflik ini terjadi karena permasalahan agama, hanya karena Palestina negara dengan mayoritas muslim sehingga rasa persaudaraan yang timbul hanya didasarkan pada kesamaan agama bukan pada rasa kemanusiaan.
Konflik yang terjadi pada 2021 ini juga jika diperhatikan tidak menjadikan agama sebagai dasar terjadinya perang.
Putusan Pengadilan Distrik Yerusalem pada Februari 2021, menegaskan keputusan pengadilan sebelumnya bahwa, dengan tidak adanya pembayaran sewa selama puluhan tahun maka penduduk Palestina harus mengosongkan tempat tersebut. Para penyewa mengajukan banding ke Mahkamah Agung.
Tapi sejak bulan April yang lalu, LSM pro Palestina dan kaum sayap kiri Israel terus memprovokasi warga Palestina untuk menentang keputusan Pengadilan. Mereka tak mau menunggu keputusan Mahkamah Agung Israel yang rencananya akan diketuk pada hari Senin tanggal 10 Mei 2021. MA akhirnya menunda sidang karena adanya kerusuhan di Yerusalem.
Puncaknya, setelah shalat Jumat tanggal 7 Mei 2021, puluhan ribu warga Palestina demo di halaman masjid Al Aqsa dan sekitarnya. Tiba-tiba ada provokator yang melemparkan batu, mercon dan benda lainnya ke aparat keamanan Israel. Terjadi kerusuhan. Aparat membalas dengan peluru karet dan granat kejut. Lebih dari 500 korban warga Palestina dan aparat terluka. Tapi tak ada korban yang tewas.
3 hari kemudian, tiba-tiba Hamas meluncurkan ratusan roket ke berbagai penjuru wilayah Israel.
Peran Komunitas Internasional Menanggapi Perang Ini
Dengan mendasarkan pada kemanusiaan, tentunya perang harus dihentikan, namun perang hanya akan berhenti jika ada pihak yang kalah ataupun mengalah, jika tidak ada pihak yang kalah ataupun mengalah maka perang akan terus berlanjut hinga ada satu pihak yang kalah ataupun rela mengalah.
Dukungan komunitas internasional dibutuhkan untuk membahas dan memberikan solusi terbaik demi mencegah perang berkepanjangan ini terus dibawa hingga masa yang akan datang.
Meskipun kelompok Hamas dan Israel sudah sepakat melakukan gencatan senjata, ini saat yang tepat untuk mencari jalan diplomasi terbaik antara dua kubu ini agar mempertahankan kedamaian ini berkepanjangan dan tidak hanya bersifat sementara.
(Karen Abigail Trifelicia Manurung/UNPAR Bandung)
Editor: (FA/SI).













