• Latest
  • Trending
  • All
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Internasional
  • Ragam Info
Perintah Presiden Amerika Serikat Picu Kontroversi Penambangan

Perintah Presiden Amerika Serikat Picu Kontroversi Penambangan

April 25, 2025
Papua Barat Kehilangan Rp100 Triliun dari Aktivitas Tambang Ilegal

Papua Barat Kehilangan Rp100 Triliun dari Aktivitas Tambang Ilegal

April 17, 2026
Aparat Keamanan dan TPNPB Saling Tuduh Serang Pemukiman Warga Sipil

Aparat Keamanan dan TPNPB Saling Tuduh Serang Pemukiman Warga Sipil

April 17, 2026
ADVERTISEMENT
Anggota  DPRD kota Batam Dabbal Tapis Siahaan Respon cepat Dugaan PHK Bayu Suhendra Usai Sholat Jumat Di Kawasan Tunas Industrial Prima Kabil

Anggota  DPRD kota Batam Dabbal Tapis Siahaan Respon cepat Dugaan PHK Bayu Suhendra Usai Sholat Jumat Di Kawasan Tunas Industrial Prima Kabil

April 16, 2026
Puan Tegaskan Jurnalisme Jadi Jembatan Penting antara Parlemen dan Rakyat

Puan Tegaskan Jurnalisme Jadi Jembatan Penting antara Parlemen dan Rakyat

April 16, 2026
Polda Metro Jaya Bongkar Pengoplosan Elpiji 3 Kg ke 12 Kg di Jabodetabek, Kerugian Negara Miliaran

Polda Metro Jaya Bongkar Pengoplosan Elpiji 3 Kg ke 12 Kg di Jabodetabek, Kerugian Negara Miliaran

April 16, 2026
Kasal Resmikan Bus Listrik Perdana di Mabesal, Bukti Nyata Komitmen TNI AL Menuju Zero Emission 2060

Kasal Resmikan Bus Listrik Perdana di Mabesal, Bukti Nyata Komitmen TNI AL Menuju Zero Emission 2060

April 16, 2026
4 Prajurit TNI Penyiram Air Keras Akui Dendam saat Kejadian di Hotel Fairmont

4 Prajurit TNI Penyiram Air Keras Akui Dendam saat Kejadian di Hotel Fairmont

April 16, 2026
Dukung Kejagung Lelang Tanker Sitaan Rp 1 Triliun, Sahroni Nilai Penting Untuk Pulihkan Aset Negara

Dukung Kejagung Lelang Tanker Sitaan Rp 1 Triliun, Sahroni Nilai Penting Untuk Pulihkan Aset Negara

April 16, 2026
Diplomasi  Presiden Prabowo ke Rusia dan Prancis Tegaskan Politik Bebas Aktif Indonesia

Diplomasi  Presiden Prabowo ke Rusia dan Prancis Tegaskan Politik Bebas Aktif Indonesia

April 16, 2026
Buka WCPP 2026 di Bali, Menteri Imipas Tekankan Keadilan Restoratif untuk Sistem Pemasyarakatan Global

Buka WCPP 2026 di Bali, Menteri Imipas Tekankan Keadilan Restoratif untuk Sistem Pemasyarakatan Global

April 16, 2026
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Politik
  • Profil
  • Metro
Jumat, April 17, 2026
  • Login
  • Nasional
  • Internasional
  • Politik
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Ragam Info
  • Daerah
  • GALERI SatukanIndonesia.com
  • Infografis
  • Metro
No Result
View All Result
  • Nasional
  • Internasional
  • Politik
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Ragam Info
  • Daerah
  • GALERI SatukanIndonesia.com
  • Infografis
  • Metro
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home Daerah

Perintah Presiden Amerika Serikat Picu Kontroversi Penambangan

[Daerah]

April 25, 2025
in Daerah, Internasional, News
0
0
SHARES
871
VIEWS
Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp
ADVERTISEMENT

JAYAPURA, SatukanIndonesia.com – Sebuah lembaga konservasi laut nirlaba mengecam perintah eksekutif terbaru Presiden Amerika Serikat yang dinilai berpotensi mempercepat dan memperluas industri penambangan laut dalam.

Presiden Donald Trump pada Kamis (24/04/2025) menandatangani perintah bertajuk “Melepaskan Sumber Daya dan Mineral Penting Lepas Pantai Amerika”.

Perintah ini menginstruksikan Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional AS (NOAA) untuk mempercepat proses perizinan penambangan laut dalam. Hal ini dikutip dari laman RNZ Pacific, Jumat (25/04/2025).

Dalam perintah tersebut dinyatakan bahwa, “Adalah kebijakan AS untuk memajukan kepemimpinan Amerika Serikat dalam pengembangan mineral dasar laut.”

NOAA diberi tenggat waktu 60 hari untuk mempercepat peninjauan dan penerbitan lisensi eksplorasi serta izin pemulihan komersial atas mineral dasar laut di wilayah di luar yurisdiksi nasional, berdasarkan Undang-Undang Sumber Daya Mineral Keras Dasar Laut Dalam.

Ocean Conservancy menilai langkah itu sebagai respons atas permintaan dari pelopor penambangan laut dalam, The Metals Company, yang mendorong persetujuan AS untuk menambang di perairan internasional—mengabaikan otoritas International Seabed Authority (ISA).

ISA sendiri adalah badan di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa yang bertugas mengatur aktivitas penambangan laut dalam secara global. Namun, AS bukan anggota ISA karena belum meratifikasi Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS).

“Perintah eksekutif ini bertentangan dengan misi NOAA,” ujar Jeff Watters, Wakil Presiden Urusan Eksternal Ocean Conservancy.

Menurutnya, NOAA seharusnya melindungi lautan dan manfaat ekonominya seperti perikanan dan pariwisata, bukan justru membahayakannya.

“Para ilmuwan telah sepakat bahwa penambangan laut dalam merupakan ancaman serius bagi ekosistem laut dan semua makhluk yang bergantung padanya,”tegasnya.

Ia menambahkan, lokasi dasar laut tempat uji coba penambangan dilakukan lebih dari 50 tahun lalu hingga kini belum sepenuhnya pulih.

“Kerusakan akibat penambangan laut dalam tidak hanya terjadi di dasar laut, tetapi juga berdampak pada seluruh kolom air, dari permukaan hingga kedalaman, serta seluruh kehidupan yang bergantung padanya,”katanya.

Ia juga mengingatkan, wilayah-wilayah target penambangan sering kali tumpang tindih dengan kawasan perikanan penting.

“Ini menimbulkan kekhawatiran serius terhadap industri perikanan yang bernilai 321 miliar dolar AS,”tambahnya.

Watters menilai, perintah eksekutif itu akan berdampak global.

“Langkah sepihak pemerintahan Trump di perairan internasional berisiko mendorong negara-negara lain melakukan hal serupa, yang pada akhirnya memperburuk kondisi laut kita semua,”katanya.

Reuters melaporkan, perintah tersebut mencoba menghindari konfrontasi langsung dengan ISA, dengan fokus memulai penambangan di perairan AS sebagai strategi menyaingi dominasi China dalam penguasaan industri mineral penting.

Sejumlah kawasan di Samudra Pasifik diketahui menyimpan endapan batuan berbentuk kentang yang disebut nodul polimetalik, mengandung bahan penting untuk produksi kendaraan listrik dan perangkat elektronik.

Seorang pejabat pemerintahan Trump mengklaim kepada Reuters bahwa lebih dari satu miliar metrik ton nodul semacam itu berada di wilayah perairan AS, kaya akan mangan, nikel, tembaga, dan mineral lainnya.

Awal bulan ini, CEO The Metals Company melayangkan surat bernada keras kepada ISA, menuduh lembaga tersebut “dipengaruhi oleh sekelompok negara yang bersekutu dengan LSM lingkungan” dan melihat industri penambangan laut dalam sebagai “trofi hijau terakhir mereka. [**/GRW]

ADVERTISEMENT

Komentar Facebook

Tags: Donald TrumpKontroversi PenambanganPresiden Amerika Serikat
ShareTweetSend

Related Posts

Lawan Rezim Boneka Prabowo Subianto, Front Mahasiswa Serukan Rakyat Bersatu

Lawan Rezim Boneka Prabowo Subianto, Front Mahasiswa Serukan Rakyat Bersatu

Maret 8, 2026
SMSI Tunggu Rapimnas untuk Tentukan Sikap atas Perjanjian Dagang RI–AS

SMSI Tunggu Rapimnas untuk Tentukan Sikap atas Perjanjian Dagang RI–AS

Februari 26, 2026
Amerika Serikat Akan Memiliki Akses Penuh ke Indonesia

Amerika Serikat Akan Memiliki Akses Penuh ke Indonesia

Juli 16, 2025

Fordo dan Situs Nuklir Lain di Iran Dibom AS

Juni 23, 2025

Presiden AS Umumkan Serangan Udara di Tiga lokasi Nuklir di Iran

Juni 23, 2025
Load More
ADVERTISEMENT
  • Tentang
  • Periklanan
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak Redaksi
  • Karir

© 2018 SatukanIndonesia.com - Saluran Berita Pemersatu Bangsa

No Result
View All Result
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Politik
  • Profil
  • Metro

© 2018 SatukanIndonesia.com - Saluran Berita Pemersatu Bangsa

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?