
JAKARTA, satukanindonesia.com – Sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan energi Nasional. Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (PIKI) mengusulkan, pengembangan energi Nuklir dan pemerataan akses listrik di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia, Bahlil Lahadalia menyambut positif rekomendasi tersebut, dan siap menjadikannya pijakan dalam penyusunan roadmap kebijakan Kementerian ESDM.
Komitmen itu disampaikan Bahlil saat menghadiri Simposium Ketahanan Energi Nasional Menuju Swasembada Energi Berkelanjutan yang digelar PIKI di Aula Chapel, Kampus Utama Universitas Pelita Harapan (UPH), Kelapa Dua, Tangerang, Banten, pada tanggal 15 Oktober 2026.
Katanya, pemerataan akses listrik harus menjadi perhatian pemerintah, terutama bagi masyarakat yang tinggal di pedalaman dan pulau-pulau kecil. Pasalnya, hingga kini masih terdapat ribuan desa yang belum menikmati layanan listrik secara memadai.
“Kita merdeka 81 tahun masih ada seperti itu. Banyak daerah 3T yang anak-anaknya sejak lahir tanpa listrik, pakai lampu pelita. Jadi, saya Menteri ESDM bertekad supaya bisa menerangi desa,”kata Bahlil.
Pemerintah menargetkan seluruh desa memperoleh akses listrik pada periode 2029–2030. Pada 2025, sebanyak 1.400 desa ditargetkan mendapatkan akses listrik, disusul 4.200 desa pada 2026 dan jumlah yang sama pada 2027.
Bahlil mengatakan, upaya tersebut membutuhkan komitmen anggaran berkelanjutan, agar pembangunan infrastruktur kelistrikan dapat menjangkau wilayah yang sulit diakses.
Ia juga menekankan, listrik merupakan kebutuhan dasar yang berpengaruh terhadap kesempatan anak-anak di pelosok untuk belajar dan memperoleh informasi.
“3T harus dituntaskan dan setiap desa menerima listrik. Saya mimpi dengan listrik, mereka bisa sekolah dan bisa membuka dunia internasional,”ujarnya.
Bahlil memastikan, rekomendasi PIKI akan menjadi salah satu pertimbangan dalam penyusunan kebijakan ESDM. Bahkan, ia meminta, jajaran terkait menindaklanjuti masukan tersebut.
“Saya jadikan dasar pijakan dalam merumuskan untuk anak di desa pedalaman pulau kecil. Mereka layak mendapat hak sama mendapat atas pelayanan listrik negara. Pak Dirjen langsung masukkan rekomendasi PIKI ke roadmap ESDM,”tegasnya.
Selain pemerataan listrik desa, PIKI mendorong, pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) sebagai bagian dari bauran energi nasional.
Ketua Steering Committee (SC) Simposium PIKI, Tony Wenas menilai, energi nuklir berpotensi menyediakan listrik dalam skala besar dengan emisi karbon yang rendah.
“Pemikiran utama PIKI adalah mendorong pembangkit tenaga nuklir karena rendah emisi, berdaya besar, murah, bersih dan aman selamat. Penyediaan listrik di daerah 3T sangat bermanfaat bagi negeri, karena akan tersedia energi melimpah serta relatif murah dan bersih,”kata Tony.
Presiden Direktur PT Freeport Indonesia itu memaparkan, empat rekomendasi hasil simposium.
Pertama, pengembangan bauran energi berkelanjutan untuk mendukung visi Indonesia Emas 2045 dan target net zero emission pada 2060.
Kedua, mendorong pembangunan PLTN yang aman dan rendah karbon dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan, aspek keselamatan, serta hak masyarakat di sekitar lokasi pembangunan.
Ketiga, menjamin akses energi sebagai kebutuhan dasar rakyat.
Keempat, mempercepat pembahasan Rancangan Undang-Undang PPL dengan dukungan jejaring PIKI.
Menanggapi usulan pengembangan nuklir, Bahlil mengatakan, pemerintah membuka peluang kerja sama teknologi dengan sejumlah negara.
Ia mengungkapkan, teknologi nuklir menjadi salah satu isu yang dibahas dalam pertemuan bilateral Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, yang turut dihadirinya.
“Rusia bukan kaleng-kaleng dalam penguasaan teknologi nuklir. Salah satu pembicaraan adalah Rusia menawarkan teknologi nuklir di Indonesia. Tidak hanya Rusia, tawaran yang sama datang dari Jerman, Jepang, Korea dan Kanada,”ungkap Bahlil.
Ia juga menyampaikan, adanya dorongan untuk meningkatkan kapasitas rencana pembangunan pembangkit nuklir dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL). Kapasitas yang sebelumnya, direncanakan sebesar 500 megawatt (MW) diusulkan meningkat menjadi 1.500 MW pada tahap awal.
“Dalam RUPTL nuklir tadinya 500 MW nuklir dengan dorongan PIKI maka masukkan jadi 1.500 MW tahap pertama 2026,”katanya.
Sementara Ketua Umum PIKI, Maruarar Sirait berharap, rekomendasi hasil simposium dapat menjadi masukan konkret bagi pemerintah dalam menyusun kebijakan energi Nasional.
Menurutnya, gagasan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai wacana, tetapi berkontribusi terhadap penguatan ketahanan energi dan pemerataan pembangunan.
Maruarar juga mendorong, lahirnya generasi baru tokoh bangsa dari kalangan intelektual Kristen yang memiliki integritas, semangat pelayanan, dan jiwa kepemimpinan.
“PIKI berharap akan ada generasi penerus baru yang memiliki integritas, kejujuran, semangat pelayanan, dan jiwa kepemimpinan teladan seperti Radius Prawiro, Luhut Panjaitan, Manase Malo yang lahir menjadi tokoh bangsa,”imbuhnya.
Ia menegaskan, PIKI ingin membangun komunitas intelektual Kristen yang inklusif dan memiliki semangat kebangsaan, serta mampu berkontribusi bagi seluruh masyarakat tanpa memandang latar belakang agama maupun suku.
Melalui simposium tersebut, PIKI berharap, rekomendasi pengembangan energi nuklir, pemerataan listrik di wilayah 3T, dan transisi energi berkelanjutan dapat menjadi bagian dari arah kebijakan nasional untuk memperkuat ketahanan energi Indonesia. [***/GRW]













