
Jakarta, SATUKANINDONESIA.Com – Ditengah kondisi turbolensi global yang sedang melanda belahan dunia saat ini, Forum Diskusi Nasional (FDN) dan Pimpinan Pusat Kolektif (PPK) Kesatuan Organisasi Serbaguna Gotong Royong (Kosgoro) 1957 bersama Institut Bisnis Indonesia (IBI) Kosgoro 1957 menggelar Seminar Nasional dengan tajuk : Dynamic Resilience, “Menjaga Stabilitas Pembangunan Nasional di Tengah Ketidakpastian Global”, bertempat di Kamous IBI Kosgoro 1957, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Rabu (25/2/2026).
Penyelenggara menghadirkan pembicara yang kompeten dibidang hubungan luar negeri, terdiri dari Gita Loka Murti, Kepala Pusat Strategi Kebijakan Isu Khusus dan Analisis Data Badan Strategi Kebijakan Luar Negeri Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, Duta Besar Dr. Nana Yuliana, Kepala Perwakilan RI untuk Kuba (2020-2025) dan Kader PPK Kosgoro 1957,
Kegiatan tersebut dipandu oleh Dr. Ian Montratama selaku Direktur Riset dan Pengembangan Indo-Pacific Strategic Intelligence (ISI) dan Tenaga Ahli Utama Kedeputian Geopolitik, Dewan Pertahanan Nasional.
Dave Akbarshah Fikarno sebagai Wakil Ketua Komis I DPR RI dalam sambutannya saat membuka acara tersebut menyampaikan pandangannya tentang sikap dan kemampuan Pemerintah Indonesia dalam menghadapi turbolensi global yang berdampak terhadap semua sendi kehidupan berbangsa dan bernegara,utamnya sektor ekonomi guna menjaga stabilitas pembangunan Nasional.
Dalam pmenyampaikan pandangannya, Dave mengacu pada sikap Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang menegaskan, bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berada dalam momentum penguatan dan Stabilitas Sistem Keuangan (SSK) Triwulan III tahun 2025 tetap terjaga,
“Namun demikian, berbagai risiko global perlu terus diwaspadai, termasuk dampak tarif impor Amerika Serikat (AS), konfrontasi geoekonomi, tren reshoring dan friendhoring, dan eskalasi ketegangan geopolitik’, katanya.
Dikatakannya, Sejalan dengan kondisi tersebut, KSSK menekankan pentingnya penguatan sinergi dan koordinasi kebijakan antarlembaga guna memastikan SSK terjaga dan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi.
Ketua Umum PPK Kosgoro 1957 ini melihat kondisi saat memposisikan negara berkembang, termasuk Indonesia, pada tekanan ganda: menjaga ketahanan domestik sekaligus mempertahankan posisi tawar di arena internasional. Dalam konteks ini, konsep “geopolitik Bung Karno” relevan sebagai kerangka strategis karena menempatkan Pancasila sebagai basis internasionalisme
“Oleh karena itu Presiden bersama para menteri sedang menaikkan kepercayaan publik dan kapasitas, agar Indonesia terus dilirik sebagai destinasi investasi dalam pembangunan. Pemerintah juga melakukan transformasi dibeberapa sektor dan perundang-undangan untuk membuat iklim invewtaai yang nyaman tentu ujungnya terciptanya lapangan pekerjaan,”ungkapnya.
Dari perspektif hubungan internasional, eskalasi ketegangan geopolitik dan friksi geoekonomi (perang tarif, perang teknologi, fragmentasi rantai pasok) serta persaingan atas sumber daya strategis (mineral kritis, energi terbarukan, dan teknologi kecerdasan buatan) membentuk ulang pola kompetisi global.
Kondisi ini menempatkan negara berkembang, termasuk Indonesia, pada tekanan ganda: menjaga ketahanan domestik sekaligus mempertahankan posisi tawar di arena internasional. Dalam konteks ini, konsep “geopolitik Bung Karno” relevan sebagai kerangka strategis karena menempatkan Pancasila sebagai basis internasionalisme: nasionalisme harus berakar pada internasionalisme, dan internasionalisme perlu ditopang nasionalisme agar tidak rapuh (Kristiyanto, 2023). Dalam kondisi kekinian, hal ini disebut sebagai ”intermestic” dimana kondisi internasional sangat dipengaruhi situasi domestik suatu negara, dan sebaliknya.
Dalam paparannya lebih lanjut dikatakan, kerangka tersebut menegaskan bahwa respons Indonesia terhadap turbulensi global semestinya tidak semata defensif, tetapi juga aktif membangun tatanan yang lebih adil melalui peran diplomasi dan solidaritas.

“Tradisi ini tercermin pada keterlibatan Indonesia dalam solidaritas Asia–Afrika, dan gagasan non-blok sebagai upaya menjaga otonomi strategis di tengah polarisasi Perang Dingin (Kristiyanto, 2023). Artinya, stabilitas nasional juga bergantung pada kemampuan Indonesia membangun jejaring kerja sama lintas kutub tanpa kehilangan independensi arah kebijakan luar negeri,” ujarnya.
Sementara, Gita Loka Murti dari Kepala Pusat Strategi Kebijakan Isu Khusus dan Analisis Data
Badan Strategi Kebijakan Luar Negeri Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia mengatakan, Resiliensi Global dan Reformasi Tata Kelola Internasional Sistem multialteral yang merupakan kepentingan utama bagi Indonesia, khususnya dalam upayamereformasi sistem tersebut dan dalamupaya diversifikasi kemitraan
Semangat tersebut sejalan dengan prinsippolitik luar negeri bebas dan aktif Indonesia.
Dalam menjaga stabilitas pembangunan nasional ditengah ketidakpastian global melalui Resiliensi Global, Gita menegaskan betapa pentingnya Indonesia konsisten untuk menjaga norma hukum Internasional, khususnya ketika norma tersebut mengalami erosi dan pelemahan seperti dalam isu Palestina.
Pada bagian penutup paparannya, Diplomat Madya pada Kementerian Luar Negeri itu dalam konteks Dynamic Resilience menuntut 3 hal, yaitu pertama: Koherensi kebijakan domestik, kedua: Diversifikasi dan manajemen risiko eksternal dan ketiga: Komunikasi publik yang efektif.
Sedangkan pembicara berikutnya, yaitu Duta Besar Dr. Nana Yuliana, Kepala Perwakilan RI untuk Kuba (2020-2025) yang juga Kader PPK Kosgoro 1957, dalam paparannya menjelaskan ada beberapa hal yang menjadi skala prioritas utama dibidang perdagangan antara Indonesia dengan Amerika Serikat, yaitu : Electronics& E&E, EVbattery and components, Medicaldevices, Processedcritical minerals, Greenproducts (carbon-friendly).
Sedangkan pilar kedua sektor Fix Logistics and Trade Facilitation (FAST WIN), meliputi: Thisis Indonesia’s most fixable bottleneck, Currentdisadvantages, Higherdwell time vs Vietnam/Malaysia, Portcongestion, complexcustoms procedures, inter-islandlogistics costs, EVengineering programs, EuaVl-esnysgtien meevrioncgaptiroongarla mosdel (German style), Dual-system vocational model (German style),
Dan pilar ketiga sektor Workforce & Talent Upgrade, meliputi: Vietnam’shidden advantage = skilled industrial labor, Indonesia’s gaps, technicianshortage, mid-skillmanufacturing workers, weakindustry-TVET linkage, Requiredreforms, Immediate, ExportManufacturing Talent Program, Industry-linkedpolytechnic reform, English-for-industryacceleration, Mediumterm.
Pada bagian penutup, Nana Yuliana menyampaikan rekomendasi lima hal penting rekomendasi dalam merespon issu global belakangan ini pasca Presiden Prabowo melakukan lawatan kunjungan ke Amerika Serikat dengan menanda tangani perjanjian dagang Internasional antara Pemerintah Indonesia dengan Amerika Serikat.
“Adapun rekomendasi penting adalah meliputi Perkuat ketahanan pangan, pertanian dan peternakan, perkuat SDM dalam STEM, Kepastian Hukum, berantas korupsi, transparansi peraturan dan regulasi, keterlibatan public dalam pengambilan Keputusan, prioritas dan focus pada apa yang mau dilakukan”, kata Nana mengakhiri paparannya. (Kevin/Redaksi)













