
Jakarta, satukanindonesia.com – Wakil Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Cristina Aryani menegaskan, Sekolah Rakyat menjadi salah satu instrumen penting pemerintah untuk pemerataan akses pendidikan bagi seluruh lapisan masyarakat, khususnya anak-anak dari keluarga kurang mampu. Dalam hal tersebut, Cristina mengakui masih terdapat kesenjangan pendidikan meski berbagai program beasiswa telah berjalan.
“Mungkin bagi sebagian anak, mengenyam pendidikan hanya sebuah harapan atau angan-angan. Presiden Prabowo memahami betul kenyataan ini dan menjadikannya dasar untuk membentuk Sekolah Rakyat,”kata Cristina dalam keterangan tertulis yang dilansir dari TVRINews, Senin, 11 Agustus 2025.
SRMP 6 merupakan satu dari 65 Sekolah Rakyat rintisan tahap pertama. Kegiatan belajar mengajar dimulai awal Juli 2025 dengan para siswa menempati asrama sementara di Sentra Handayani Kementerian Sosial, Ciracas, Jakarta Timur.
Tercatat, 75 siswa di SRMP 6 berasal dari keluarga dengan tingkat kesejahteraan terendah (kategori DTSEN 1–2) yang berdomisili di Jakarta. Cristina menekankan, keberadaan guru, wali asuh, dan wali asrama yang mendampingi siswa penuh waktu menjadi salah satu kunci keberhasilan program ini.
“Selain pembelajaran akademik, sekolah ini juga fokus pada pembinaan karakter dan keteraturan hidup,” jelasnya.
Cristina berharap program ini terus diperluas ke daerah-daerah terpencil, termasuk bagi anak-anak pekerja migran yang orang tuanya merantau. Dengan begitu, kesenjangan pendidikan dapat dipersempit dan generasi muda memiliki peluang setara untuk meraih masa depan.
“Kami ingin memastikan anak-anak ini tumbuh dengan harapan, kesempatan, dan keterampilan yang memadai,”tuturnya.(***)













