
FAKFAK, satukanindonesia.com – Uskup Keuskupan Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru merayakan ibadah ekaristi bersama keluarga besar Maybrat di Fakfak serta umat Lingkungan Sinai dan Paroki Paroki St. Yoseph Fakfak, Rabu (20/02026).
Ibadah yang dimulai pukul 17.00 WIT itu juga menjadi momen syukuran satu tahun episkopat Mgr. Bernardus Bofitwos Baru.
Kedatangan Uskup Timika disambut dengan tarian adat yang dibawakan Anak dan Remaja Misioner (SEKAMI) Lingkungan Sinai. Suasana penuh sukacita terlihat sejak awal penyambutan hingga berlangsungnya misa kudus.
Perayaan ekaristi dipimpin langsung oleh Mgr. Bernardus Bofitwos Baru bersama Pastor Beny Magai, Pr dan Pastor Moses Amiset, Pr, imam projo pertama putra asli Asmat di Keuskupan Agats.
Dalam pengantarnya, Uskup Bernardus mengajak umat untuk tetap menjaga hubungan kekeluargaan di tengah perkembangan zaman saat ini.
“Kita adalah satu. Jangan karena perkembangan ini kadang lita lupa akan kekeluargaan. Padahal Kita ini satu dan tidak terpisahkan,”kata Uskup.
Mgr. Bofitwos mengingatkan umat agar setiap persoalan dalam keluarga dapat diselesaikan dengan hati yang damai. Menurutnya, hidup sebagai anak-anak Allah harus menjadi dasar utama dalam kehidupan beriman kepada Tuhan.
Mgr. Bofitwos mengaku, bergembira bisa kembali bertemu masyarakat di Fakfak setelah sekian lama meninggalkan tempat tersebut.
Sebelumnya, Uskup Bernardus pernah bertugas di Fakfak saat masih menjalani masa frater. Setelah ditahbiskan menjadi imam pada tahun 2014, Mgr. Bofitwos mengaku belum pernah kembali lagi ke tempat itu hingga akhirnya dapat bertemu kembali dengan umat di Lingkungan Sinai.
“Saya bergembira dan senang karena bisa berjumpa kembali dengan keluarga di sini setelah sekian tahun,”ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Uskup Timika mengajak orang Maybrat di Fakfak untuk terus memberi kontribusi bagi Gereja Katolik, khususnya menyambut perayaan 132 tahun masuknya misi Katolik di Tanah Papua.
Sementara Mgr. Bofitwos mengatakan, momentum HUT Ke-132 Misi Katolik di Tanah Papua menjadi jalan dan terang bagi lahirnya penerus misi katolik. Namun, Mgr. Bofitwos mengingatkan semua itu akan dicapai bilah adalah motivasi, yang lahir dari dalam kelurga.
Menurut Mgr. Bofitwos, panggilan hidup membiara dan menjadi imam sangat dipengaruhi oleh kehidupan doa dalam keluarga.
“Yang paling penting adalah motivasi orang tua. Hidup doa dalam keluarga harus terus dijaga dan anak-anak diarahkan supaya berani bermimpi,”katanya.
Mgr. Bofitwos berharap, momentum 132 tahun masuknya Gereja Katolik di Papua menjadi kesempatan untuk melahirkan imam dan suster baru asal Papua, khususnya dari Fakfak.
“Kita perlu banyak doa supaya anak-anak yang sekarang sekolah di seminari maupun biara bisa selesai dan kembali melayani umat di daerahnya,”harapnya.
Menurut Uskup Bernardus, gereja di Papua ke depan harus semakin mandiri dan dibangun oleh putra-putri asli Papua sendiri.
“Ke depan gereja harus mandiri. Tidak terus berharap bantuan dari luar. Harus dari tong, oleh tong dan untuk tong,”tegasnya.
Sementara Kepala Suku Maybrat di Kabupaten Fakfak, Moses Semunya menyampaikan, rasa syukur dan bangga atas kehadiran Mgr. Bernardus di tengah keluarga besar Maybrat di Fakfak.
Menurutnya, kerinduan masyarakat untuk bertemu dengan Uskup Timika akhirnya terjawab melalui kunjungan tersebut.
“Kami sangat bersyukur karena anak kami sudah datang menemui kami di sini. Beliau pernah sekolah dan tugas frater di tempat ini,”katanya.
Moses Semunya mengatakan, masyarakat Maybrat bangga karena Mgr. Bernardus menjadi salah satu putra asli Papua yang dipercaya menjadi uskup di Tanah Papua.
“Injil yang dibawa Pastor Le Cocq ke tanah ini pada tahun 1894 ternyata membawa berkat dan tidak sia-sia,”tandas Moses. [**/GRW]











