• Latest
  • Trending
  • All
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Internasional
  • Ragam Info
Independensi Pimpinan Gereja dalam Pilkada 2020

Independensi Pimpinan Gereja dalam Pilkada 2020

Januari 8, 2021
Perkara Haji Rusok Lawan PT Menteng Griya Lestari Masuk Tahap Pembuktian di PN Batam

Perkara Haji Rusok Lawan PT Menteng Griya Lestari Masuk Tahap Pembuktian di PN Batam

Agustus 13, 2026
IHTP Papua Raih Penghargaan, Dr. Filep : Inovasi Bukan Sekadar Mengikuti Perkembangan Teknologi

IHTP Papua Raih Penghargaan, Dr. Filep : Inovasi Bukan Sekadar Mengikuti Perkembangan Teknologi

Agustus 13, 2026
ADVERTISEMENT
Erick Thohir Apresiasi Kepercayaan Presiden Prabowo untuk Transformasi Kemenpora

Erick Thohir Apresiasi Kepercayaan Presiden Prabowo untuk Transformasi Kemenpora

Agustus 13, 2026
KPK dan MA Perkuat Integritas Aparatur Peradilan Lewat PRISMA

KPK dan MA Perkuat Integritas Aparatur Peradilan Lewat PRISMA

Agustus 13, 2026
PWI Papua Barat : Wartawan Tidak Boleh Menjadi Alat Kepentingan Kekuasaan

PWI Papua Barat : Wartawan Tidak Boleh Menjadi Alat Kepentingan Kekuasaan

Agustus 13, 2026
Tantan Sulthon Terpilih Pimpin PWI Jawa Barat 2026–2031, PWI Bekasi Raya Ucapkan Selamat

Tantan Sulthon Terpilih Pimpin PWI Jawa Barat 2026–2031, PWI Bekasi Raya Ucapkan Selamat

Agustus 13, 2026
Pencabutan Moratorium Pemekaran Dipertimbangkan melalui Capaian empat DOB Tanah Papua

Pencabutan Moratorium Pemekaran Dipertimbangkan melalui Capaian empat DOB Tanah Papua

Agustus 13, 2026
Anggota Komisi II DPR RI Minta TKD 2027 Perkuat Kemampuan Fiskal Pemerintah Daerah

Anggota Komisi II DPR RI Minta TKD 2027 Perkuat Kemampuan Fiskal Pemerintah Daerah

Agustus 13, 2026
Ahli Hukum dari UGM Dihadirkan dalam Sidang Gugatan SK Bupati Merauke

Ahli Hukum dari UGM Dihadirkan dalam Sidang Gugatan SK Bupati Merauke

Agustus 13, 2026
Dubes RI Disambut Baik Gubernur Jenderal Kepulauan Solomon

Dubes RI Disambut Baik Gubernur Jenderal Kepulauan Solomon

Agustus 13, 2026
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Politik
  • Profil
  • Metro
Jumat, Agustus 14, 2026
  • Login
  • Nasional
  • Internasional
  • Politik
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Ragam Info
  • Daerah
  • GALERI SatukanIndonesia.com
  • Infografis
  • Metro
No Result
View All Result
  • Nasional
  • Internasional
  • Politik
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Ragam Info
  • Daerah
  • GALERI SatukanIndonesia.com
  • Infografis
  • Metro
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home Fokus Berita

Independensi Pimpinan Gereja dalam Pilkada 2020

[Opini]

Januari 8, 2021
in Ragam Info
0
0
SHARES
462
VIEWS
Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp
ADVERTISEMENT
Ilustrasi

Independensi Pimpinan Gereja dalam Pilkada 2020

oleh:

Gurgur Manurung*

 

Gurgur Manurung (Staf Ahli Komisi VI DPR RI)

Jakarta, SatukanIndonesia.com – Dalam pengamatan saya selama ini ketika tahun politik seperti Pemilihan Legislatif (Pileg), Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) calon kristen dan katolik meminta dukungan doa kepada pemimpin gereja.

Pertanyaannya adalah apakah selama ini rajin meminta dukungan doa agar jujur, berintegritas dan berani untuk mengungkapkan kebenaran dalam keseharian kita? Lima tahun terakhir, berapa kali kandidat ini meminta dukungan doa?

Masalahnya adalah kesan acara doa menjelang Pilkada itu sebagai simbol agar pemilih yang religius melihat bahwa kandidat itu sudah didukung pimpinan gereja.

Apakah salah meminta dukungan doa kepada pimpinan gereja menjelang Pilkada 2020? Pertanyaannya adalah apa motivasimu meminta doa dan apa isi doa? Motivasi apa dalam batinmu membuat acara dukungan doa itu? Apakah tanpa acara dukungan doa itu pimpinan gerejamu tak mendoakanmu selama ini? Pesan apa yang hendak disampaikan dalam acara doa dan setelah acara selesai dukungan doa? Apa komitmenmu setelah acara doa?

Jika pulang dari acara doa dan komitmen untuk menolak politik uang secara total, benci berbuat curang dalam hal sekecil apapun, taat protokol kesehatan karena memikirkan resikonya, taat terhadap Undang-Undang Pilkada tanpa komprom,i maka acara meminta dukungan doa itu begitu bermakna.

Tetapi alangkah munafiknya kita membuat acara dukungan doa tetapi melakukan politik uang, bersikap curang dan kompromistis dalam berbagai hal. Jika hidup kita kompromistis dengan nilai gereja, lebih baik pengakuan dosa secara diam-diam saja.

Dalam hal politik uang misalnya, jika Nurani terasah maka pengakuan dosa kepada Tuhan dengan meminta dukungan dari pimpinan gereja agar didoakan agar diampuni. Jika meminta dukungan doa ke pimpinan gereja tetapi dalam prakteknya politik uang lancar, curang, bengis dan sulit mengampuni orang yang menyakiti maka kegiatan dukungan doa adalah mereduksi makna kita meminta dukungan doa.

Tuhan meminta kita mengunci kamar dalam berdoa. Bukan meminta dukungan doa dengan memberitahukan kepada publik? Apa motivasi meminta dukungan doa tetapi memberitahukan kepada publik?

Jika jujur, dalam kondisi meminta dukungan doa menjelang Pilkada adalah meminta didoakan agar memenangkan Pilkada. Jika doa yang diminta adalah menang dan kandidat lain meminta doa agar menang juga, apakah permohonan doa itu ke alamat yang sama? Bagaimana jika dua kandidat ada dalam satu gereja?. Apakah pimpinan gereja bersikap objektif?

Jika paradigma kita Bersama menjaga wibawa gereja maka acara-acara dukungan doa menjelang acara Pilkada tidaklah bijak. Tetapi jika kandidat bergumul memperjuangkan kebenaran dan komitmen hidup agar bersikap sesuai dengan nilai-nilai gereja, komunikasi yang rutinlah dengan rohaniawanmu. Bila penting tiap hari komunikasi meminta dukungan doa agar Tuhan menguatkanmu bersikap dalam nilai-nilai gereja.

Suatu ketika saya berbincang dengan seorang pendeta. Pendeta itu menceritakan bahwa ada jemaat datang pagi-pagi hari ke rumahnya meminta pendapat apakah Tuhan masih berkenan terhadap dirinya. Pendeta itu bertanya apa yang terjadi? Jemaat itu mengakui bahwa lahan sawitnya itu diperoleh dengan cara-cara curang.

Bagaimana sikap saya agar harta kekayaan saya berkenan di hati Tuhan? Di lahan sawit saya itu sudah saya bangun gereja dan saya berusaha agar karyawan saya perlakukan dengan taat hukum Undang-Undang ketenagakerjaan. Pagi hari sebelum matahari terbit meminta pendeta agar Tuhan mengampuni kecurangan yang pernah dia lakukan.

Meminta dukungan doa ke pimpinan gereja sangatlah baik. Tetapi dalam konteks Pilkada tentu harus bijaksana. Pilkada bukanlah perhelatan lomba doa tetapi lomba merebut hati rakyat dengan cara menyampaikan gagasan agar rakyat keluar dari persoalan hidupnya.

Pilkada adalah pesta dialog dalam bentuk kampanye agar terjadi transformasi. Pilkada adalah momentum Pendidikan politik rakyat sebab Pendidikan politik rakyat tidak kontinu. Pendidikan politik rakyat hanya berjalan secara kontinu bagi rakyat yang aktif organisasi. Selama ini gerejapun tidak melakukan Pendidikan politik rakyat dengan baik.

Pengalaman empiris kita selama ini bahwa acara dukungan doa menjadi polemik dan berujung kepada batu sandungan. Doa bukanlah alat untuk memenangkan Pilkada. Sebab, pengalaman selama ini mereka yang biasa acara-acara dukungan doa banyak yang kalah. Mereka yang menang adalah kerja keras merebut hati rakyat.

Mintalah dukungan doa kepada pimpinan gereja, kolega, keluarga dan sahabat secara pribadi. Dan dukungan doa itu membuatmu jujur, menjaga integritas, menolak politik uang dan tidak berbuat curang.

Jikalaupun ada kompromi-kompromi dalam hal teknis, meminta maaflah kepada Tuhan secara pribadi. Tidak ada polemik apapun jika meminta dukungan doa agar diampuni Tuhan. Berdoa bukanlah meminta legitimasi perbuatan-perbuatan kompromistis dalam hal politik.

Kompromi itu wajar tetapi tidak dibenarkan. Tingkat kompromi wajar saja tetapi tidak kehilangan prinsip, khususnya prinsip bergereja, berbangsa dan bernegara.

Semua kita butuh doa. Doa agar diampuni, doa untuk sehat dan doa agar Pilkada lancar. Tetapi, sangat tidak etis ketika kesan acara doa dukungan pimpinan gereja dengan pesan sudah mendapt restu dari pimpinan gereja. Jika hal itu terbersit dalam pikiran kita, maka terjadi reduksi doa. Bahkan cenderung kemunafikan bertingkat.

Pilkada adalah momentum bagi kita untuk mengejawantahkan pergumulan iman kita. Jika kita mensukseskan Pilkada karena pergumulan iman kita untuk berbakti kepada rakyat maka kalah dan menang dalam Pilkada, kita memiliki kontribusi memajukan rakyat. Dengan demikianlah kita menjadi berkat bagi sesama.

ADVERTISEMENT

Komentar Facebook

Tags: GerejaGurgur ManurungIndependensi Pimpinan Gereja dalam Pilkada 2020OpiniOpini GurmanPolitik
ShareTweetSend

Related Posts

Pemkot Bekasi Tegaskan Kebijakan PPPK dan Belanja Pegawai Mengacu Regulasi Pemerintah Pusat

Pemkot Bekasi Tegaskan Kebijakan PPPK dan Belanja Pegawai Mengacu Regulasi Pemerintah Pusat

Juni 11, 2026
Brimob Polda Metro Sterilisasi Gereja, Pastikan Keamanan Perayaan Paskah 

Brimob Polda Metro Sterilisasi Gereja, Pastikan Keamanan Perayaan Paskah 

April 3, 2026
Partai Garuda Dukung Proses Hukum Ketua RT Yang Bubarkan Ibadah Gereja di Lampung

Partai Garuda Dukung Proses Hukum Ketua RT Yang Bubarkan Ibadah Gereja di Lampung

Maret 20, 2023

Politik Tanpa Mahar Create Optimisme Politik lebih Baik di Riau

Maret 14, 2023

Golkar dan PKB Sepakat Ciptakan Situasi Politik Kondusif Jelang Pemilu 2024

Februari 10, 2023
Load More
ADVERTISEMENT
  • Tentang
  • Periklanan
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak Redaksi
  • Karir

© 2018 SatukanIndonesia.com - Saluran Berita Pemersatu Bangsa

No Result
View All Result
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Politik
  • Profil
  • Metro

© 2018 SatukanIndonesia.com - Saluran Berita Pemersatu Bangsa

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?