
Surabaya, SatukanIndonesia.com – Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Jawa Timur Sokip menyatakan dukungan terhadap hasil Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) SMSI 2026 yang merumuskan sikap organisasi terkait Agreement on Reciprocal Trade (ART), khususnya pada aspek perdagangan digital dan teknologi. Demikian pernyataan Sokip kepada satukanindonesia.com hari ini (8/3).
Menurut Sokip, hasil Rapimnas tersebut menjadi arah strategis bagi perusahaan pers siber di daerah dalam menghadapi perubahan besar di sektor teknologi dan industri media digital.
“Rumusan sikap SMSI dalam Rapimnas menjadi panduan bagi kami di daerah. Industri media saat ini berada dalam ekosistem digital global yang sangat kompetitif, sehingga diperlukan langkah strategis agar media nasional tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga memiliki daya saing,” ujar Ketua SMSI Jawa Timur ini.
Rapimnas SMSI 2026 sendiri dilaksanakan di Millennium Hotel Sirih, Jakarta, pada 6–7 Maret 2026, bersamaan dengan rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun ke-9 SMSI. Forum tersebut diikuti pengurus SMSI dari berbagai provinsi di Indonesia untuk menyamakan persepsi organisasi sekaligus merumuskan langkah strategis menghadapi dinamika industri media digital.

Dalam forum tersebut, SMSI merumuskan sejumlah rekomendasi strategis kepada pemerintah, antara lain mendorong lahirnya regulasi komprehensif mengenai kedaulatan digital nasional, mempercepat pembangunan infrastruktur teknologi digital dalam negeri, serta mengintegrasikan media layanan publik dalam satu platform digital nasional guna memperkuat ekosistem pers Indonesia.
Dalam kesempatan itu, Sokip hadir bersama Sekretaris SMSI Jawa Timur Tarmuji sebagai delegasi dari Jawa Timur yang mengikuti seluruh rangkaian Rapimnas.
Jurnalis senior yang juga Wakil Ketua PWI Jatim ini menilai rekomendasi yang dihasilkan Rapimnas penting untuk memastikan industri pers nasional memiliki ruang tumbuh yang sehat di tengah dominasi platform digital global.
Ia juga menekankan bahwa perusahaan media anggota SMSI di Jawa Timur perlu terus memperkuat inovasi, membangun karakter media yang kuat, serta membuka kolaborasi dengan berbagai platform digital baru.
“Perubahan teknologi tidak bisa dihindari. Yang perlu dilakukan adalah memastikan media daerah mampu beradaptasi dan mengambil peluang dari perubahan tersebut,” kata Sokip.
Dengan kemampuan beradaptasi dan inovasi, menurutnya, media siber di daerah tetap memiliki peluang besar untuk berkembang sekaligus berkontribusi dalam memperkuat ekosistem pers nasional di era digital (Yosua/Hizkia).













