Sang Penjaga Peradaban Pergi di Antara Angin Kampus dan Taman Kota
Oleh
Selwa Kumar
Suatu hari itu penting menjaga tondi.Tatkala matahari bergerak-edar perlahan dari Zuhur menuju Ashar. Cahayanya tidak lagi tegak, melainkan condong, seperti ingin singgah lebih lama di sebuah kampus yang rindang—tempat angin bebas bermain dari delapan penjuru, tanpa berani korupsi.
Di sana berdiri sebuah gedung terbuka: Gedung Pancasila. Menghadap bulevard USU: Jalan Universitas.Tidak megah, tapi semangatnya hidup. Hari itu, Jumat di bulan Mei 1993, ruang itu dipenuhi suara—diskusi, tawa, dan sesekali, puisi.
Sayup-sayup terdengar seorang pria membaca puisi.
Suara itu tidak keras, tapi mengikat. Seperti akar yang tabah menahan tanah agar tidak longsor oleh penyakit lupa.
Diskusi membedahi Kota Medan sedang berlangsung. Nama-nama tenar yang mencintai elok kotanya hadir seperti mozaik intelektual: Dr. Syafri Syahrin dari UGM, moderator Drs. Syaifuddin Mayudin dari Sejarah USU, para wartawan, seniman, aktivis—semua duduk dalam satu lingkaran yang sama: percakapan.
Di antara badan dan jiwa merdeka mereka, aku duduk. Pas di samping Pengaduan Z. Lubis.
“Siapa pria yang baca puisi itu?” tanyaku.
“Jaya Arjuna,” jawabnya singkat.
Nama itu meluncur begitu saja. Tapi entah kenapa, seperti ada gema panjang di belakangnya.
Tak lama, pria itu—berbadan kekar, agak rendah, rambut panjang—mendekat. Dia menyalami satu per satu. Ketika tangannya menjabatku, ada sesuatu yang terasa: hangat, tapi juga seperti menyimpan bara.
Diskusi berakhir, tapi percakapan tidak.
Kami berkumpul di luar, bercakap hingga menjelang magrib. Lalu mereka ke mushola Fakultas Sastra USU. Aku tetap di bangku batu, di bawah pohon flamboyan itu—tempat tadi puisi dilahirkan.
Sore itu, aku tidak tahu bahwa aku sedang menyaksikan awal dari sebuah persahabatan panjang. Juga, sebuah jejak yang kelak akan terasa kehilangan ketika dia hilang.
Tahun-tahun berlalu seperti daun gugur di taman-taman kota Medan. Diskusi taman menjadi judul dan lokasi diskusi kami soal Medan dulu bertitel tanah Deli.
Taman Budaya Medan menjadi titik temu, titik diskusi, titik api. Kopi, diskusi, puisi, Deli—semuanya bercampur tanpa sekat yang tak perlu. Tapi, bang Jaya Arjuna selalu ada. Bersama Raswin Hasibuan, Ben Pasaribu, Atok Ai, Barani Nasution, Muksin Lubis—nama-nama yang tidak sekadar hadir, tapi menghidupi ruang publik Diskusi Taman.
Di sana, kota bukan sekadar sitis bangunan. Kota itu hidup, tumbuh, meleak, dibaca, disesapi, ditafsirkan, dikritik—dan dicintai.
Sejak tahun 2000, kami membuat “Diskusi Taman itu. Tidak di hotel bernama taman. Tidak di ruang ber-AC. Tapi di sebenar taman kota, yang awal mula kampus ada, filsuf Yunani menularkan Hermes-nya, pesan kebenaran-kebajikan a la sang Dewa.
Angin jadi moderator. Pohon jadi saksi. Topiknya: lingkungan, kota, sosial, budaya, dan kehidupan.
Bang Jaya tidak hanya hadir—dia sosok yang menggerakkan. Dia bukan hanya sastrawan. Dia adalah defenisi sang penjaga ruang hidup, penjaga percakapan, penjaga nurani kota.

Jaya Arjuna percaya: taman bukan sekadar ruang hijau. Tapi ruang berpikir.
Lalu pagi itu datang. Matahari muncul dari balik pohon beringin di Jalan Tanjung. Aku dan egoku runtuh, merendahkan hati di sebuah taman mungil di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Aku terbangun di bangku panjang kayu, di depannya sebuah rumah bercat putih di simpang Jalan Cendana.
Ada sesuatu yang ganjil. Seperti ada yang hilang, tapi entahlah. Aku belum tahu apa.
Aku meraih ponsel. Membuka WhatsApp. Grup Forum Anak Medan. Duh, di sana, kabar itu berdiri dingin:
Ir. Jaya Arjuna telah wafat.
Dunia seperti berhenti beberapa detik. Lalu jatuh. Aku duduk. Linglung. Kosong. Seperti taman tanpa suara.
Menjelang siang, pesan masuk dari bang Muhammad Joni: “Kita buat tulisan kenangan baik untuk bang Jaya.”
Itu bukan ajakan. Itu panggilan.
Kami menulis. Satu per satu. Dari kenangan yang tercicir, dari percakapan yang masih menggantung di udara.
Tulisan-tulisan itu cepat menyebar ke media online ibukota: KBAnews, Jakarta Satu, Zona Terbang, Pribumi. Nama-nama sahabat ikut mengalir: Taufik Umar Dhani, Yance, Ludhi A. Tayeb, Ghazali Situmorang, Abidinsyah Siregar, Idrus Abdullah, Norlapong, dan karib lainnya.
Lalu datang satu tangan yang mengikat semuanya: Sugeng Satya Dharma.
Seorang sastrawan yang bekerja dalam sunyi. Mengumpulkan, menyunting, merangkai. Tanpa gemuruh. Tanpa sorot lampu.
Dari kerja itu, lahirlah buku:
“Jaya Arjuna: Sang Penjaga Peradaban.”
Bukan sekadar buku. Tapi rumah bagi kenangan.
Di dalamnya ada puisi, cerpen, naskah drama, tulisan lepas—dan yang paling penting: cinta dari para sahabat.
Seratus hari setelah kepergian Bang Jaya, buku itu terbit.
Seperti doa yang akhirnya menemukan bentuk.
Bang Jaya mungkin telah pergi. Tapi ia tidak benar-benar hilang.
Dia masih ada di taman-taman yang pernah kita duduki.
Di kopi yang kita teguk tanpa gula. Di lorong puisi yang kita baca tanpa mikrofon.
Nun, di setiap orang yang masih percaya—
bahwa kota harus punya jiwa. Bahwa manusia harus tetap berpikir.
Bahwa puisi tidak boleh mati.
Sebab di balik tubuhnya yang sederhana, Bang Jaya adalah penjaga.
Bukan penjaga gedung.
Bukan penjaga jabatan.
Tapi penjaga peradaban.
Penulis adalah Pemerhati Sosial Budaya Kemasyarakatan, Peserta Diskusi Taman, Alimni Sastra Melayu USU, PP IKA USU Bidang Seni dan Budaya domisili di Medan.













