
Papua, satukanindonesia.com – Mengenang kematian Arnold Clements Ap. Pada 26 April 2026, tepat sudah 42 tahun gugurnya Arnold Clements Ap pada 26 April 1984. Arnold adalah salah satu tokoh penting kebudayaan Papua dengan kelompoknya yang melegenda, Mambesak.
Mambesak boleh saja telah tiada dan beberapa anggotanya sudah banyak yang meninggal. Tetapi Mambesak adalah spirit, semangat dan nilai yang terus hidup dalam gerakan kebudayaan Papua atau setiap kita mendiskusikan soal nasionalisme, identitas, bahkan politik kebudayaan.
Mambesak menjadi salah satu narasi penting dari apa yang sering George Aditjondro sebut sebagai “hierarki kebudayaan”, dimana kebudayaan Papua dipandang lebih rendah dibandingkan budaya Jawa atau komunitas lainnya di Indonesia.
Dalam konteks yang lebih luas, hierarki kebudayaan menjadi salah satu instrumen dari “penjajahan kebudayaan” di mana rasisme dan diskriminasi kebudayaan menjadi salah satu pandangan utamanya.
Hak-hak kultural orang Papua sangat berdimensi politik dalam kacamata pemerintah Indonesia di Jakarta. Hak-hak kultural orang Papua menjadi sesuatu yang politis yang mungkin sama politisnya dengan hak-hak sipil dan politik.
Itulah yang terjadi pada Mambesak. Hal ini diperkuat oleh watak pemerintah Indonesia menanggapi gerakan kebudayaan di Papua. Sampai dengan pementasan terakhir Mambesak pada tanggal 29 November 1983, sebelum penahanan dan kematian Arnold Ap, kita akan selalu menghayati bagaimanapun akhir perjalanan Mambesak, kehadirannya akan selalu di tercatat dalam sejarah politik kebudayaan Papua.
Seperti yang dicatat oleh Aditjondro (2000: 137I), Mambesak adalah salah satu inisiasi penting dari gerakan kebangkitan kultural yang jelas-jelas telah mewarnai penguatan jati diri rakyat Papua dalam menatap hari depan mereka.
Gerakan kebangkitan kultural itu bisa berdenyut berkat dukungan Lembaga Antropologi Uncen dan Museum Antropologi Uncen waktu itu (kini Museum Loka Budaya Uncen). Spirit itulah yang coba diberangus dengan membunuh Arnold Ap, Eddy Mofu, dan Mambesak.
Kini, tantangan masyarakat Papua ke depan adalah menghayati spirit dan nilai Mambesak sebagai pondasi gerakan kebudayaan pembebasan ke depannya.
Selain menghayati, menjadi sangat penting mengalirkan spirit dan nilai Mambesak tersebut kepada generasi Papua masa depan.
Mereka harus memiliki akar kebudayaan Papua dan mengartikulasikan spirit pembebasan Papua sesuai dengan konteks zaman mereka. Mambesak telah meletakkan pondasi tersebut dan memberikan kita pelita untuk melangkah ke depan.
Oleh
Gustavo R. Wanma
(Jurnalis West Papua)











