
Nganjuk, satukanindonesia.com — Ribuan buruh dari berbagai daerah memadati Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk, Sabtu pagi, saat Presiden Prabowo Subianto meresmikan Museum dan Rumah Singgah Marsinah. Desa kecil yang selama ini dikenal sebagai kampung halaman aktivis buruh Marsinah mendadak berubah menjadi pusat perhatian nasional.
Sejak pagi, ribuan buruh sudah berdatangan membawa atribut serikat pekerja, bendera organisasi, hingga poster perjuangan Marsinah. Mereka berdiri berjejer di sepanjang jalan desa menyambut kedatangan Prabowo dengan tepuk tangan dan yel-yel perjuangan buruh.
Setibanya di lokasi, Prabowo langsung menyapa keluarga besar Marsinah yang hadir di area utama museum. Presiden terlihat berbincang hangat dengan keluarga sebelum memasuki area peresmian. Dalam prosesi peresmian tersebut, Prabowo didampingi Ketua Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Andi Gani Nena Wea serta kakak kandung Marsinah yang turut mendampingi penandatanganan prasasti museum.
Turut hadir dalam acara tersebut Kapolri Listyo Sigit Prabowo, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, pimpinan serikat buruh nasional, anggota DPR RI, hingga perwakilan organisasi pekerja internasional.
Rangkaian acara diawali dengan penampilan budaya daerah serta pembacaan sejarah perjuangan Marsinah sebagai simbol perjuangan hak-hak buruh Indonesia. Setelah itu, Prabowo menandatangani prasasti peresmian Museum dan Rumah Singgah Marsinah.

Presiden kemudian berkeliling museum melihat berbagai peninggalan Marsinah, mulai kamar masa kecil, arsip perjuangan, dokumentasi aksi buruh, hingga foto-foto perjalanan hidupnya. Beberapa kali Prabowo tampak berhenti memperhatikan dokumentasi perjuangan aktivis buruh perempuan tersebut.
Dalam sambutannya, Prabowo menegaskan bahwa Marsinah merupakan simbol keberanian rakyat kecil dalam memperjuangkan keadilan dan hak pekerja.
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati para pejuangnya. Marsinah adalah simbol keberanian dan keteguhan hati memperjuangkan hak rakyat kecil,” ujar Prabowo di hadapan ribuan buruh.
Pada kesempatan itu, Prabowo juga mengingatkan bahwa Indonesia dibangun di atas semangat kekeluargaan sebagaimana tertuang dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
“Indonesia adalah negara kekeluargaan. Ini sesuai sila kelima Pancasila dan Pasal 33 UUD 1945. Kita harus bekerja bersama, saling menjaga, saling menguatkan,” kata Prabowo.
Ia menegaskan bahwa negara tidak boleh melupakan perjuangan kaum pekerja karena kesejahteraan buruh menjadi bagian penting dalam kekuatan bangsa .
“Kalau buruh sejahtera, negara akan kuat. Kalau rakyat kecil tersenyum, Indonesia akan berdiri kokoh,” lanjutnya disambut tepuk tangan panjang para buruh yang hadir.
Sorak dukungan beberapa kali terdengar ketika Presiden berbicara mengenai perlindungan pekerja, penguatan industri nasional, serta pentingnya persatuan antara pemerintah dan kaum buruh.
Selain meresmikan museum, agenda kunjungan Presiden di Nganjuk juga dirangkai dengan peninjauan program ketahanan pangan, panen raya jagung, dan peresmian koperasi desa merah putih di sejumlah wilayah Jawa Timur.
Peresmian Museum Marsinah menjadi momen bersejarah karena untuk pertama kalinya seorang presiden datang langsung meresmikan museum perjuangan buruh perempuan yang selama puluhan tahun menjadi simbol perjuangan HAM dan hak pekerja Indonesia.(Yos)













