
Jakarta, satukanindonesia.com – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, kunjungan kerja luar negeri yang kerap dilakukannya mendampingi Presiden Prabowo Subianto, dalam rangka mengamankan pasokan energi nasional, di tengah dinamika geopolitik global.
“Kalau bapak presiden berangkat untuk cari minyak, itu bukan jalan-jalan. Kita jalan kerja memikirkan 280 juta nyawa yang ada di bangsa ini,” kata Bahlil dalam acara Business Forum Himpunan Alumni IPB University, diilansir sinpo.id, Senin, 4 Mei 2026.
Bahlil menyampaikan, sebelumnya Indonesia banyak bergantung pada pasokan dari kawasan Timur Tengah yang melewati Selat Hormuz. Kini sumber impor disebar dari Afrika, Amerika, hingga Rusia.
Selain itu, pemerintah juga harus memberikan jaminan atas ketahanan energi yang langsung menyentuh kepentingan sehari-hari masyarakat. “Sampai 31 Desember, sekalipun harga ICP 100 dolar AS, insya allah harga BBM dan LPG subsidi tidak akan naik,” tegasnya.
Ketahanan energi, menurut Bahlil, tidak dibangun melalui satu kebijakan besar dalam waktu singkat, melainkan melalui rangkaian langkah strategis yang dilakukan secara bertahap.
Mulai dari optimalisasi sumur yang belum produktif, percepatan pengembangan blok migas, hingga pengelolaan impor yang lebih terarah, seluruhnya menjadi bagian dari upaya memperkuat fondasi energi nasional.
Di sisi lain, Bahlil mengakui kondisi energi nasional saat ini jauh dari ideal. Indonesia yang dulu pernah menjadi eksportir minyak dan anggota The Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) kini berbalik menjadi importir.
Produksi minyak dalam negeri hanya mencapai 605 ribu barel per hari, sementara konsumsi nasional sudah menyentuh 1,6 juta barel per hari. “Dalam kondisi ini kita harus putar otak bagaimana caranya harus mencapai kemandirian energi,” tukasnya. (***)













