foto : Menatap kliping dan baju almh Marsinah Prabowo berharap perisitwa seperti ini tidak terulang lagi (Foto : Biro Pers Setpres)
Nganjuk, ssatukanindonesia.com — Presiden Prabowo Subianto tampak beberapa kali terdiam saat menyusuri Museum Ibu Marsinah di Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk, Sabtu (16/5/2026). Di museum yang baru diresmikannya itu, Prabowo melihat langsung jejak-jejak terakhir kehidupan Marsinah, aktivis buruh perempuan yang tewas tragis pada Mei 1993.
Didampingi Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Andi Gani Nena Wea serta dua saudari kandung Marsinah, Marsini dan Wijiati, Prabowo menyusuri satu demi satu ruang museum yang berisi dokumentasi perjuangan buruh era 1990-an.
Langkah Presiden melambat ketika berada di depan etalase kaca yang menyimpan baju terakhir dan tas milik Marsinah sebelum ditemukan meninggal dunia. Suasana ruangan mendadak hening saat Prabowo memperhatikan benda-benda tersebut dengan serius.
Tak lama kemudian, Andi Gani menunjukkan sepeda ontel tua yang dahulu dipakai Marsinah bekerja dari kos di Sidoarjo menuju pabrik.
“Ini ada sepeda beliau, Pak, yang mengantarkan dari kos-kosan di Sidoarjo ke pabrik. Beliau naik sepeda ontel,” ujar Andi Gani kepada Presiden.
Prabowo lalu bergerak menuju area infografis digital yang menampilkan deretan kliping koran nasional tahun 1993, dokumentasi investigasi, foto-foto aksi buruh, hingga perjalanan kasus pembunuhan Marsinah yang sempat mengguncang Indonesia dan dunia internasional.
Di hadapan layar digital itu, Presiden tampak cukup lama memperhatikan perjalanan kasus yang hingga kini masih menyisakan luka sejarah bagi gerakan buruh Indonesia.
Marsinah merupakan buruh PT Catur Putra Surya (CPS) di Porong, Sidoarjo. Ia dikenal aktif memperjuangkan kenaikan upah dan kebebasan berserikat bagi pekerja. Pada awal Mei 1993, Marsinah ikut mendampingi aksi mogok kerja buruh yang menuntut hak normatif pekerja.
Pada 5 Mei 1993, Marsinah dilaporkan hilang setelah mendatangi Kodim Sidoarjo untuk mencari sejumlah rekannya yang sebelumnya diperiksa aparat. Tiga hari kemudian, tepat 8 Mei 1993, jasad Marsinah ditemukan di sebuah gubuk di kawasan Wilangan, Nganjuk, dalam kondisi penuh luka.
Kasus tersebut kemudian menjadi perhatian nasional dan internasional karena diduga berkaitan dengan pelanggaran HAM terhadap aktivis buruh. Hingga kini, tragedi itu masih menjadi salah satu catatan kelam sejarah perburuhan Indonesia.
Dalam sambutannya saat peresmian museum, Prabowo menyampaikan keprihatinannya atas tragedi yang dialami Marsinah dan mengingatkan agar peristiwa serupa tidak lagi terjadi di Indonesia.
“Peristiwa seperti ini seyogyanya tidak terjadi,” kata Prabowo di hadapan ribuan buruh yang menghadiri peresmian museum.
Presiden juga mengingatkan para pengusaha agar memperlakukan pekerja secara manusiawi dan adil. Menurutnya, hubungan antara pekerja dan pengusaha harus dibangun dalam semangat kekeluargaan sebagaimana amanat sila kelima Pancasila dan Pasal 33 UUD 1945.
“Kalau buruh hidup baik, pengusaha juga akan berhasil. Kita harus bekerja bersama,” ujar Prabowo.
Ia menegaskan bangsa Indonesia harus belajar dari sejarah dan menghormati perjuangan rakyat kecil.
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati para pejuangnya,” kata Prabowo.
Di museum kecil di sudut desa itu, sejarah yang lama seperti dibuka kembali. Dan di hadapan baju terakhir, sepeda ontel tua, serta kliping koran yang mulai menguning, negara tampak sedang mencoba menatap ulang luka masa lalunya sendiri (Yos)