
Surabaya, satukanindonesia.com – Ketua PBNU periode 2010–2021, Said Aqil Siradj memastikan dirinya tidak akan maju sebagai calon Ketua Umum maupun Rais Aam PBNU pada Muktamar Nahdlatul Ulama 2026 mendatang. Pernyataan itu disampaikan Said Aqil di sela pengajian yang digelar Partai Perindo Jawa Timur dalam rangka pelantikan dan penyerahan SK DPW Perindo Jatim, Minggu (18/5).
“Saya enggak akan maju,” ujar Said Aqil saat ditanya mengenai peluang kembali memimpin PBNU.
Menurut Kyai Said (panggilan akrab Said Agil) faktor usia menjadi salah satu pertimbangan utama. Sebagaimana diketahui, saat ini usianya telah menginjak 73 tahun dan menurutnya regenerasi perlu diberi ruang lebih luas di tubuh NU.
Tak hanya menutup peluang maju sebagai Ketua Umum PBNU, Said Aqil juga menepis kemungkinan dirinya maju sebagai Rais Aam. Dengan gaya santainya, ia menyebut posisi tersebut membutuhkan figur yang lebih layak serta siap secara usia maupun kapasitas keulamaan.
Pernyataan Said Aqil mendapat respons dari tokoh muda NU Jawa Timur, Ahmad Jazuli. Ia menilai sikap tersebut mencerminkan keteladanan seorang ulama sekaligus guru bangsa yang memahami marwah kepemimpinan di tubuh Nahdlatul Ulama.
“Pernyataan seorang guru bangsa. Rais Aam tidak pantas untuk mengajukan diri atau mencalonkan diri, apalagi pakai tim sukses segala. Rais Aam itu maqom tertinggi di NU. Biarlah muktamirin yang memilih dan menentukan siapa yang layak,” ungkap Jazuli yang juga Ketua DPW Partai Perindo Jatim.
Menurut Jazuli, tradisi NU menjunjung tinggi akhlak, ketawadhuan, dan musyawarah dalam menentukan pemimpin, khususnya untuk posisi Rais Aam yang dipandang bukan sekadar jabatan struktural, melainkan simbol moral dan keulamaan organisasi.
Baginya posisi yang dimaksud merupakan posisi sakral dalam tradisi NU. Karena itu, sikap Said Aqil yang tidak ingin mencalonkan diri dinilai sebagai langkah yang tepat dan selaras dengan etika kepemimpinan nahdliyin.
“Maqom Rais Aam itu sakral. Apa yang disampaikan Buya Said Aqil Siradj sudah benar, beliau tidak mau mencalonkan diri, apalagi beliau juga sudah sepuh. Tetapi dalam tradisi NU, kalau para kiai sepuh menghendaki dan para muktamirin mendukung, maka kenapa tidak jika Buya Said menjadi Rais Aam,” ujar Jazuli yang juga salah satu Wakil Ketua DPD KNPI Jatim dan aktivis GP Ansor ini.
Bukan hanya Jazuli, beberapa tokoh muda NU Jatim juga menilai pernyataan tersebut menunjukkan bahwa dalam kultur NU, posisi Rais Aam tidak lahir dari ambisi personal ataupun kontestasi terbuka, melainkan melalui legitimasi moral, musyawarah ulama, serta kehendak para muktamirin.
Said Aqil sendiri merupakan salah satu tokoh penting dalam perjalanan modern Nahdlatul Ulama. Ia memimpin PBNU selama dua periode, yakni 2010 hingga 2021. Pada masa kepemimpinannya, NU tampil aktif dalam isu kebangsaan, moderasi beragama, dialog lintas iman, hingga diplomasi Islam moderat di tingkat internasional.
Lahir di Cirebon, Jawa Barat, Said Aqil dikenal sebagai ulama berlatar pendidikan Timur Tengah. Ia menempuh studi di Arab Saudi dan konsisten menyuarakan Islam rahmatan lil alamin. Dalam berbagai kesempatan, ia juga menegaskan komitmen NU terhadap Pancasila serta menolak politik identitas yang berpotensi memecah persatuan bangsa.
Pada Muktamar NU 2021 di Lampung, Said Aqil kalah dalam pemilihan Ketua Umum PBNU dari Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya melalui mekanisme one man one vote yang diikuti PWNU dan PCNU seluruh Indonesia.
Meski tak lagi berada di struktur tertinggi PBNU, pengaruh Said Aqil di kalangan pesantren dan warga nahdliyin dinilai masih besar. Ia tetap aktif menghadiri forum keagamaan, pendidikan, dan kebangsaan.
Keputusannya untuk tidak maju pada Muktamar 2026 pun dibaca banyak pihak sebagai sinyal bahwa NU tengah memasuki fase regenerasi kepemimpinan yang lebih terbuka, namun tetap menjaga marwah dan tradisi keulamaan organisasi..(Yos)












