
Jakarta, satukanindonesia.com – Kementerian Kesehatan menegaskan pentingnya penguatan sistem peringatan dini polusi udara berbasis data terpadu guna melindungi masyarakat dari dampak kesehatan akibat pencemaran udara.
Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengatakan polusi udara menjadi ancaman serius bagi seluruh kelompok usia, mulai dari anak-anak hingga lansia.
“Mengacu pada data WHO, 9 dari 10 orang di dunia hidup di wilayah dengan udara tercemar,” kata Dante di Jakarta, Selasa.
Ia menjelaskan polusi udara dapat memicu berbagai gangguan kesehatan seperti pneumonia pada anak, gangguan tumbuh kembang, hingga penyakit paru obstruktif kronis atau PPOK pada pekerja luar ruangan.
Dante menilai tantangan terbesar saat ini adalah belum adanya sistem data terpadu yang menghubungkan kualitas udara dengan dampak kesehatan secara langsung.
“Celah inilah yang menjadi peluang kita untuk sama-sama memperkuat sistem peringatan dini melalui integrasi data yang kuat,” ungkapnya.
Menurut Dante, sistem peringatan dini yang baik dapat membantu pemerintah merespons risiko polusi udara secara cepat dan tepat, terutama untuk melindungi kelompok rentan.
“Pernah tidak, ketika malam hujan deras lalu keesokan paginya cerah dan tidak ada awan, kita bisa melihat Gunung Salak dan Gunung Gede dengan jelas? Tapi, di hari-hari biasa gunung itu tidak terlihat, karena tertutup kabut abu-abu. Kabut itulah polusi udara yang ada di sekitar kita setiap hari,” ujarnya.
Pernyataan tersebut disampaikan Dante dalam Seminar Nasional Sistem Peringatan Dini Polusi Udara yang diselenggarakan Universitas Indonesia bersama Research Center for Climate Change (RCCC) UI.
Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Prof Dr Indri Hapsari Susilowati mengatakan isu kesehatan tidak bisa dipisahkan dari kondisi lingkungan dan perubahan ekosistem.
Ia berharap seminar tersebut menjadi ruang kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat kebijakan dan aksi nyata dalam pengendalian polusi udara.
“Semoga acara ini bisa berjalan lancar, memberikan manfaat dan menjadi ruang untuk mencari ilmu bersama,” kata Indri.
Seminar nasional itu dihadiri perwakilan kementerian dan lembaga, akademisi, peneliti, pemerintah daerah, serta pegiat lingkungan dan kesehatan dari wilayah Jabodetabek.(***)













