Jakarta, satukanindonesia.com – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tengah mempersiapkan sistem peringatan dini kualitas udara atau Early Warning System (EWS) guna memprediksi kondisi polusi udara secara lebih akurat dan membantu langkah mitigasi sejak dini.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Dudi Gardesi mengatakan sistem tersebut menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk mengurangi dampak pencemaran udara dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat Jakarta.
“EWS kualitas udara ini kami siapkan sebagai instrumen pencegahan. Dengan mengetahui potensi kondisi kualitas udara beberapa hari ke depan, pemerintah dapat memperkuat langkah mitigasi yang diperlukan,” ungkap Dudi di Jakarta, dilansir daSabtu (6/6).
Ia menambahkan keberadaan sistem ini juga memberi kesempatan kepada masyarakat untuk menyesuaikan aktivitas dan melakukan langkah perlindungan diri sebelum kualitas udara memburuk.
Dudi menjelaskan EWS kualitas udara akan memberikan manfaat besar bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki riwayat penyakit pernapasan.
Menurutnya, informasi prakiraan kualitas udara yang akurat dapat membantu warga mengambil langkah preventif seperti menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, membatasi aktivitas fisik di area terbuka, dan mengurangi paparan polusi.
Pemprov DKI berharap sistem tersebut nantinya menjadi sumber informasi utama bagi masyarakat untuk memantau kondisi udara secara real time maupun prediktif.
Koordinator Sub Bidang Informatif Gas Rumah Kaca BMKG Albert C Nahas menjelaskan sistem prakiraan kualitas udara itu memanfaatkan teknologi pemodelan berbasis spasial bernama SILAM Urban.
Menurut Albert, teknologi tersebut dikembangkan menggunakan berbagai data inventori emisi lokal yang mencakup emisi sektoral dan emisi polutan sehingga mampu menghasilkan prakiraan yang lebih sesuai dengan kondisi nyata di Jakarta.
Melalui SILAM Urban, masyarakat dapat memantau enam jenis polutan utama termasuk PM2.5, melihat peta kualitas udara per kecamatan, tren Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) hingga tiga hari ke depan, serta kondisi meteorologi.
“Termasuk peringkat kecamatan berdasarkan kualitas udara, hingga grafik konsentrasi polutan yang memudahkan pemantauan kualitas udara sehari-hari,” ujarnya.n
Albert menuturkan SILAM Urban mampu memetakan kondisi kualitas udara di seluruh 44 kecamatan Jakarta dengan tingkat detail hingga radius satu kilometer.
Kemampuan tersebut membuat informasi yang disajikan lebih spesifik dan relevan bagi masyarakat dalam memantau kualitas udara di wilayah tempat tinggal masing-masing.
Dengan dukungan teknologi tersebut, Pemprov DKI dan BMKG berharap kesiapsiagaan masyarakat terhadap risiko pencemaran udara dapat meningkat sekaligus memperkuat upaya pengendalian polusi di ibu kota.(***)













