
JAYAPURA, satukanindonesia.com – Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat Komando Daerah Pertahanan (TPNPB Kodap) III Ndugama Derekma menyatakan, bertanggungjawab terhadap penembakan yang menewaskan tiga Apartur Sipil Negara (ASN) di kampung Muliama, distrik Muliama, kabupaten Jayawijaya, provinsi Papua Pegunungan, pada tanggal 09 September 2026.
Juru Bicara TPNPB, Sebby Sambom mengatakan, Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB telah menerima laporan resmi dari Panglima TPNPB Kodap lll Ndugama Darakma, Brigjend Egianus Kogeya bahwa pihaknya bertanggung jawab atas penembakan itu.
Menurut Sambom, ketiga koban diduga agen intelijen militer Pemerintah Indonesia yang berprofesi sebagai ASN di Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya.
Kata Sambom, dalam laporannya Egianus Kogeya menyatakan pihaknya menahan mobil yang ditumpangi oleh para korban di Jalan Trans Wamena-Tiom tersebut. Memeriksa barang bawaan dan meminta seluruh penumpang untuk tetap di mobil dan tenang.
Namun katanya, karena panik dan kaget ketiga korban berupaya melarikan diri. Karenanya, TPNPB pun menembak mereka.
“Jika selamat mereka akan melaporkan atau membocorkan informasi kepada aparat militer Indonesia terkait keberadaan pasukan TPNPB di Distrik Muliama, pusat Kota Wamena,”kata Jubir TPNPB Sebby Sambom melalui keterangan tertulisnya yang dikutip, Minggu (13/09/2026).
Semua pihak pun diimbau menaati ultimatum, karena TPNPB Kodap III Ndugama Darakma tidak akan pernah mundur dan siap membuka medan perang di Kota Wamena, ibu kota kabupaten Jayawijaya.
“Setiap kendaraan roda empat maupun roda dua yang melewati jalur Trans Papua, yakni Wamena-Tiom, Wamena-Yalimo, Wamena-Jayapura, Wamena-Tolakara dan wilayah-wilayah pelosok di Papua agar kaca mobil dan helm dibuka,”ujarnya.
Sambom mengatakan, seluruh orang Papua dan non Papua yang menjabat sebagai kepala desa, ASN dan jabatan lainnya menjadi target TPNPB, sebab dianggap bagian dari agen pemerintah Indonesia yang memperpanjangkan penjajahan di atas Tanah Papua.
Katanya, Papua Intelijen Service (PIS) TPNPB juga melaporkan bahwa terdapat seorang ASN atau warga imigran Indonesia yang bekerja di Kantor Gubernur Papua Pegunungan di Wamena, yang merupakan bagai dari anggota Badan Intelijen Negara (BIN).
“Ia selalu mencari tahu informasi tentang keberadaan pasukan TPNPB di Kota Wamena lalu melaporkannya kepada aparat militer Indonesia,”ucapnya.
Karenanya, Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB mengeluarkan warning dan pihak-pihak yang terlibat dengan militer Indonesia untuk segera meninggalkan Kota Wamena.
“Tidak hanya di Kota Wamena juga kabupaten lain di Tanah Papua serta yang berada di pelosok-pelosok kampung agar segera keluar dan pulang ke kampung halamannya masing-masing,”kata Sebby Sambom.
Pemerintah Indonesia pun diminta segera membuka ruang perundingan internasional dengan TPNPB untuk menyelesaikan akar persoalan politik yang mengakibatkan terjadinya konflik bersenjata berkepanjangan di Tanah Papua.
Seperti diketahui, ketiga korban merupakan ASN di Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya. Mereka adalah Alvonsius Albinus Mehan (35 tahun), Alprida Rapi (49 tahun), Willi Mbuik (24 tahun). [*/GRW]













