
JAKARTA, satukanindonesia.com – Menteri Luar Negeri Republik Indonesia (Menlu RI), Sugiono tiba di New York, Amerika Serikat (AS), pada tanggal 21 September 2926, untuk memimpin Delegasi Republik Indonesia pada rangkaian High-Level Week Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (SMU PBB) ke-81.
Kehadiran Indonesia akan menjadi momentum untuk menegaskan komitmen Indonesia terhadap multilateralisme, sekaligus memperkuat peran Indonesia dalam mendorong dialog, menjembatani perbedaan, dan membangun konsensus di tengah berbagai tantangan global.
“Indonesia akan terus menyuarakan kepentingan negara-negara berkembang dan berkontribusi bagi perdamaian dunia, termasuk dengan menegaskan kembali dukungan terhadap perjuangan rakyat Palestina serta upaya pemulihan dan rekonstruksi Gaza,”pernyataan Kemlu RI yang dikutip, Rabu (23/09/2026).
Selama di New York, Menlu Sugiono akan mengikuti berbagai pertemuan tingkat tinggi dan pertemuan tingkat menteri yang membahas isu-isu strategis global, termasuk perdamaian dan keamanan internasional, Palestina, pembangunan, perubahan iklim, serta penguatan multilateralisme.
Di sela-sela menghadiri Sidang Majelis Umum PBB, Menlu Sugiono akan melakukan serangkaian pertemuan bilateral dengan sejumlah negara anggota PBB dan mitra Indonesia, untuk membahas penguatan hubungan bilateral serta berbagai isu regional dan global yang menjadi kepentingan bersama.
Indonesia juga akan memanfaatkan momentum High-Level Week tahun ini, untuk meluncurkan kampanye pencalonan Indonesia sebagai Anggota Tidak Tetap Dewan Keamanan PBB periode 2029–2030. Pencalonan tersebut, sebelumnya telah disampaikan Menlu Sugiono dalam Pernyataan Pers Tahunan Menteri Luar Negeri pada Januari 2026.
Menlu Sugiono, selanjutnya akan menyampaikan Pernyataan Nasional Indonesia dalam Debat Umum Sidang Majelis Umum PBB ke-81 pada Sabtu (26/09/2026) malam waktu New York.
Pernyataan Nasional tersebut akan menyampaikan, pandangan dan posisi Indonesia terhadap berbagai perkembangan dan tantangan global.
Partisipasi Indonesia dalam Sidang Majelis Umum PBB ke-81 merupakan wujud komitmen Indonesia, untuk terus berperan aktif dalam menghadapi berbagai tantangan global.
Indonesia akan terus mendorong dialog dan kerjasama internasional serta memberikan kontribusi nyata bagi perdamaian, stabilitas, dan kesejahteraan global.
`MENGENAL SIDANG MAJELIS UMUM PBB’
1. SMU PBB merupakan mekanisme badan utama PBB untuk perumusan kebijakan, perundingan, koordinasi, dan pengambilan keputusan oleh para Negara Anggota PBB yang diselenggarakan setiap tahun.
2. SMU PBB adalah sarana bagi seluruh pemimpin dan perwakilan 193 Negara Anggota PBB di Markas Besar PBB di New York untuk bertemu dan membahas spektrum luas masalah-masalah global seperti perdamaian dan keamanan internasional, perubahan iklim, pembangunan berkelanjutan, HAM, tata kelola digital dan AI, serta reformasi PBB.
3. SMU PBB setiap tahunnya dibuka pada hari Selasa minggu kedua bulan September.
SMU PBB mencakup dua rangkaian besar sidang, yaitu (i) rangkaian sidang selama High Level Week (HLW) yang berlangsung pada minggu keempat bulan September; dan (ii) rangkaian sidang yang dilaksanakan melalui enam Komite Utama (Komite Pertama hingga Keenam) yang masing-masing menangani kluster isu tertentu, serta sesi-sesi pleno dan informal dan berlangsung hingga SMU PBB tahun berikut.
4. HLW SMU PBB terdiri dari beberapa sesi Pertemuan Tingkat Tinggi yang akan dihadiri Kepala Negara ataupun para Menteri Negara Anggota PBB, termasuk Debat Umum (General Debate) yang menjadi pertemuan utama.
Negara-negara anggota PBB juga kerap memanfaatkan momentum HLW SMU PBB untuk menyelenggarakan side events yang mengangkat tema-tema khusus dan untuk melakukan pertemuan bilateral dengan delegasi negara-negara mitra.
5. SMU PBB sesi ke-81 secara resmi dibuka pada Selasa, 8 September 2026, dan dipimpin oleh Presiden SMU PBB ke-81, Khalilur Rahman (Bangladesh).
6. HLW SMU PBB sesi ke-81 diselenggarakan di tengah tantangan dunia yang semakin kompleks, termasuk masih berlangsungnya konflik di antara Iran dan Amerika Serikat, memburuknya situasi di Palestina, khususnya Gaza, konflik Ukraina-Rusia yang masih berkepanjangan, tantangan perubahan iklim, dan realisasi target SDGs yang tertinggal.
7. Pada saat yang sama kepercayaan terhadap efektivitas multilateralisme semakin menurun dan PBB dihadapkan pada ekspektasi terkait kemajuan reformasi PBB sebagai tindak lanjut dari Agenda UN80.
8. Melihat kondisi tersebut, kepemimpinan Presiden SMU PBB ke-81 berfokus pada enam prioritas utama: (i) perdamaian dan keamanan; (ii) pembangunan berkelanjutan; (iii) aksi iklim dan lingkungan; (iv) HAM; (v) tata kelola digital dan AI; dan (vi) reformasi PBB.
9. Melalui prioritas tersebut, tema SMU PBB sesi ke-81 yang ditetapkan oleh Presiden SMU PBB ke-81 adalah “Restoring Trust, Managing Transformation: A United Nationsbthat Delivers for All”.
10. Sementara itu, HLW SMU PBB ke-81 akan berlangsung pada 22 – 29 September 2026, dengan sesi Debat Umum (General Debate) yang diselenggarakan pada 22 – 28 September 2026.
11. Selain sesi Debat Umum, terdapat 5 pertemuan PBB pada tingkat tinggi (mandated events) lainnya, yaitu.
a. High-Level Meeting to Commemorate the 40th Anniversary of the Declaration on the Right to Development.
Pertemuan akan meninjau pelaksanaan 40 tahun Deklarasi Hak atas Pembangunan, serta mendorong penguatan kerja sama internasional agar setiap orang dan negara dapat berpartisipasi dalam dan memperoleh manfaat pembangunan secara adil.
b. High-Level Plenary Meeting to Address the Existential Threat Posed by Sea-Level
Baca juga : Lemhannas: Fragmentasi Global Kian Nyata, Ketahanan Nasional Jadi Taruhan
Rise
Pertemuan akan membahas tantangan dan dampak kenaikan permukaan laut, khususnya bagi negara kepulauan dan wilayah pesisir, serta memperkuat aksi global terkait upaya adaptasi, pembiayaan, dan perlindungan masyarakat terdampak.
c. High-Level Meeting on Pandemic Prevention, Preparedness dan Response
Pertemuan akan mengevaluasi kemajuan dan mengidentifikasi kesenjangan dalam upaya pencegahan, kesiapsiagaan, dan respon pandemi, serta mendorong sistem kesehatan global yang lebih tangguh, setara, terkoordinasi, dan didukung pembiayaan berkelanjutan.
d. High-Level Meeting to Commemorate the 25th Anniversary of the Adoption of the Durban Declaration.
Pertemuan akan memperingati 25 tahun Deklarasi dan Program Aksi Durban, khususnya menilai kemajuan dan upaya bersama dalam menghadapi tantangan pemberantasan rasisme, diskriminasi rasial, xenofobia, dan intoleransi.
e. High-Level Plenary Meeting to Commemorate and Promote the International Day for the Total Elimination of Nuclear Weapons.
Pertemuan ditujukan untuk memperkuat komitmen politik terhadap perlucutan senjata nuklir secara menyeluruh dan terverifikasi, serta meningkatkan kesadaran mengenai ancaman kemanusiaan dan keamanan yang ditimbulkan senjata nuklir.
12. Selain itu, dalam rangkaian HLW akan diselenggarakan berbagai pertemuan terkait isu perdamaian dan keamanan, kesehatan, pembangunan ekonomi dan sosial, aksi iklim, isu Palestina, HAM, tata kelola digital dan AI, serta reformasi PBB.
Sejumlah pertemuan juga akan dilaksanakan terkait organisasi internasional dan regional lainnya (antara lain MIKTA dan G77) serta beberapa side events yang diselenggarakan oleh negara-negara maupun organisasi masyarakat sipil. [***/GRW]













